Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Shinta Kamdani. Sumber: BSTV

Shinta Kamdani. Sumber: BSTV

Tren Surplus Neraca Perdagangan akan Dorong Kemampuan Industri Domestik

Kamis, 16 Juli 2020 | 04:55 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Umum Apindo Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjadja Kamdani mengatakan tren surplus neraca perdagangan harus dijaga khususnya untuk kelangusngan industri domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdaganan pada Juni mengalami surplus sebesar US$1,27 miliar. Dengan posisi ekspor sebesar US$ 12,03 miliar dan impor sebesar US$10,76 miliar.

Menurut Shinta, hal ini menjadi momentum bagi industri dalam negeri harus berbenah sehingga dapat meningkatkan kapasitas ekspor. Sebab Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan baku. Hal ini harus diantisipasi dengan memetakan alternatif suplai.

“Ini juga merupakan saat yang tepat bagi Indonesia untuk menggalakkan industri bahan baku di dalam negeri. Saat ini walaupun impor meningkat, peningkatannya terjadi pada bahan baku/bahan modal untuk selanjutnya dapat diolah di dalam negeri,” ucap Shinta ketika dihubungi pada Rabu (15/7).

Bila dilihat berdasarkan penggunaan barang semua sektor mengalami kenaikan. Nilai impor barang konsumsi naik sebesar  51,1%. Nilai impor bahan baku/penolong naik 24,01%, dan barang modal mengalami kenaikan 27,35%.

Shinta meenuturkan kenaikan impor terjadi karena adanya kebutuhan dan konsumsi tertentu di domestik terkait dengan Covid -19 seperti alat-alat kesehatan. Bila dilihat dari ekspor menurut penggunaan barang industri pengolahan berada di posisi kedua setelah ekspor pertanian.

“Besar kemungkinan impor bahan baku tersebut juga menunjang perkembangan ekspor Indonesia khususnya di industri pengolahan. Hal ini juga merupakan sebuah sinyal positif bahwa ditengah pandemi global, industri manufaktur Indonesia tetap berjalan,” ucap Shinta.

Diharapkan dampak dari kenaikan impor bahan baku dan  barang modal bisa diharapkan pada kuartal III 2020. Meskipun perekonomian global perekonomian global sangat dinamis dan tidak pasti.

“Namun diperlukan suatu komitmen dan upaya yang kuat sehingga tren ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan supaya pada akhir periode tahun 2020 kita bisa melihat angka yang positif,” ucap Shinta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN