Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Tren Surplus Perdagangan Berlanjut pada November 2020

Kamis, 17 Desember 2020 | 12:40 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menyatakan, neraca perdagangan bulanan Indonesia kembali mencatat surplus, pada bulan November 2020. Capaian tersebut melanjutkan tren surplus neraca perdagangan yang telah terjadi sejak periode Mei 2020.

“Surplus perdagangan November 2020 mencapai US$2,61 miliar. Meskipun surplusnya menurun dibandingkan surplus Oktober lalu yang sebesar US$ 3,58 miliar, surplus November ini merupakan surplus tertinggi ketiga yang dicatatkan sepanjang 2020,” kata Mendag  seperti dilansir laman Sekretariat Kabinet,  Kamis (17/12/2020).

Mendag mengatakan, surplus perdagangan bulan November berbeda dengan surplus yang terjadi sebelumnya.

Surplus ini terjadi karena adanya pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi dari pertumbuhan impor, bukan akibat impor yang melemah lebih dalam dibanding ekspor.

Agus menjelaskan, surplus neraca perdagangan Indonesia periode November 2020 bersumber dari surplus sektor nonmigas sebesar US$ 2,94 miliar dan defisit migas US$ 322,9 juta.

Meskipun defisit migas bulan November mengalami penurunan, namun surplus neraca perdagangan secara total lebih rendah dibandingkan surplus bulan Oktober lalu.

Menteri Perdagangan. Foto: IST
Menteri Perdagangan. Foto: IST

Penurunan surplus neraca perdagangan bulan November ini dilatarbelakangi adanya penurunan surplus nonmigas yang cukup besar jika dibandingkan surplus non migas Oktober.

Surplus neraca non migas November 2020 sebesar US$ 2,94 miliar, turun US$ 1,10 miliar dibandingkan surplus neraca non migas Oktober 2020 yang sebesar US$ 4,04 miliar.

Sementara itu, pada sisi migas, defisit neraca migas November sebesar US$ 322,9 juta, turun US$ 142,5 juta dibandingkan defisit migas pada Oktober lalu yang sebesar US$ 465,4 juta.

Kinerja Meningkat

Mendag menyatakan, pada  November 2020 ekspor Indonesia tercatat sebesar US$ 15,28 miliar, tumbuh 6,36% (MoM) atau 9,54% (YoY).  Pertumbuhan ekspor bulan November 2020 didorong terjadinya pertumbuhan ekspor antara lain produk lemak dan minyak nabati naik, bahan bakar mineral, besi dan baja, serta mesin dan peralatan dari mesin.

Secara sektoral semua sektor berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekspor bulan November. Sektor pertanian tumbuh 6,33% (MoM) atau 33,33% (YoY), sektor manufaktur 2,95% (MoM) atau 14,47% (YoY), dan sektor pertambangan naik 25,08% (MoM) atau menurun 2,05% (YoY).

Di tengah pandemi Covid-19, secara kumulatif total ekspor Indonesia selama Januari – November 2020 mencapai US$ 146,78 miliar, sedikit mengalami penurunan yaitu 4,22% (YoY).

Pada sektor nonmigas, sepanjang Januari – November 2020 ekspor sektor nonmigas turun sebesar 2,18%, begitu juga dengan ekspor sektor migas turun 31,59%.

“Ekspor bulan November semakin menunjukkan perkembangan pemulihan perekonomian global yang semakin baik. Menjelang setahun merebaknya pandemi Covid-19, masyarakat dunia kini semakin baik beradaptasi dalam menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona. Masyarakat dapat terus beraktivitas dan bekerja dengan produktif sehingga aktivitas perekonomian global ikut membaik,” jelas Mendag.

Nilai ekspor Indonesia pada November 2020 ke negara mitra utama terus tumbuh, antara lain ke Tiongkok tumbuh 16,17% (MoM), Jepang tumbuh 11,67 % (MoM), India  10,04% (MoM), Australia 16,56% (MoM), dan Korea Selatan tumbuh 7,12% (MoM).

Kinerja ekspor di beberapa negara di kawasan ASEAN dan Uni Eropa juga masih terus tumbuh, seperti ekspor ke Malaysia dan Thailand masing-masing sebesar 24,5% dan 8,79%; serta ke Jerman dan Belanda sebesar 35,38% (MoM) dan 7,52%  (MoM).

Di sisi lain, impor Indonesia pada November 2020 tumbuh 17,40% (MoM) mencapai US$ 12,66 miliar; sementara jika dibandingkan November 2019 impor turun cukup dalam sebesar 17,46%.

Peningkatan impor November 2020 ini disebabkan adanya peningkatan impor migas sebesar 0,59% (MoM) dengan nilai US$ 6,3 juta dan peningkatan impor nonmigas sebesar 19,27% (MoM) senilai  US$ 1,87 miliar.

Peningkatan impor migas sejalan dengan peningkatan konsumsi energi dan aktivitas masyarakat. Sementara, lonjakan impor nonmigas yang cukup tinggi mencapai US$ 11,58 miliar atau naik 19,27% (MoM) namun turun 12,33% (YoY), disumbang dari impor produk golongan mesin dan perlengkapan elektrik yang meningkat 23,82% (MoM) atau sebesar US$ 354,4 juta.

Berdasarkan  penggunaan barang, pertumbuhan impor terbesar berasal dari impor barang modal dengan pertumbuhan mencapai 31,54% (MoM) dengan nilai US$ 2,43 miliar; diikuti pertumbuhan impor barang konsumsi yang mencapai 25,52% (MoM) senilai US$ 1,3 miliar dan bahan baku/penolong yang mencapai 13,02% (MoM) dengan nilai US$ 8,93 miliar. Mendag mengungkapkan, peran golongan bahan baku/penolong mencapai 70,51% dari total impor Indonesia pada November 2020.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia Januari – November 2020 mencapai US$ 127,13 miliar, turun  18,91 persen (YoY).

Selama Januari – November 2020 nilai impor seluruh golongan penggunaan barang turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain penurunan terjadi pada kelompok barang konsumsi (turun 12,59 % YoY), bahan baku/penolong (turun 19,78 % YoY), dan barang modal (turun 18,61% YoY).

Impor nonmigas Indonesia selama Januari – November 2020 didominasi impor barang asal Tiongkok dengan nilai US$ 34,91 miliar (dengan pangsa 30,53% total impor nonmigas Indonesia), Jepang US$ 9,77 miliar (8,54%), dan Singapura US$ 7,38 miliar (6,45%).

Sementara itu secara kawasan, impor nonmigas dari ASEAN mencapai US$ 21,16 miliar dan berkontribusi sebesar 18,50% terhadap impor nonmigas Indonesia.

Sedangkan impor dari kawasan Uni Eropa tercatat sebesar US$ 9,06 miliar dengan pangsa 7,92%.

“Selama pandemi Covid-19 ini, pangsa impor dari Tiongkok mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dilatarbelakangi pemulihan pandemi Covid-19 yang relatif cepat di Tiongkok dibandingkan dengan negara lain sehingga pasokan dari Tiongkok menjadi alternatif utama bagi pasar Indonesia,” kata Mendag.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN