Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (dua dari kanan) didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu (kiri) memberikan cindera mata kepada CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto (tiga dari kanan) berserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin (dua dari kiri), Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi (kanan) usai media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (dua dari kanan) didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu (kiri) memberikan cindera mata kepada CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto (tiga dari kanan) berserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin (dua dari kiri), Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi (kanan) usai media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Triputra Agro Persada Siap Go Public

Sabtu, 6 Maret 2021 | 11:18 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Perusahaan perkebunan kelapa sawit dan karet, PT Triputra Agro Persada (TAP), siap go public dalam waktu dekat. Anak usaha Grup Triputra ini akan melepas kurang dari 5% saham melalui skema penawaran umum perdana (initial public of fering/ IPO) saham.

Managing Director for Trading and Downstream TAP Sutedjo Halim menerangkan, pemegang saham TAP terdiri atas beberapa pihak, termasuk Jakarta Investment Centre (JIC) yang dibentuk investor Singapura. IPO saham dilakukan untuk memudahkan perseroan masuk pasar saham, dan juga memberi kemudahan bagi pemegang saham yang ingin keluar.

“Kami buka link dahulu. Saat ini, kami siapkan, insya Allah sekitar April (2021) sudah bisa go public. Kalau saham yang dilepas kecil sekali, di bawah 5%. Jadi, ini offering dulu,” ujar Sutedjo saat media visit ke BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Jakarta, Jumat (5/3).

Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Dia menerangkan, sebenarnya banyak yang menilai IPO saat pandemi Covid-19 tidak menguntungkan. Tetapi, anak usaha Triputra Group ini menyiapkan blue ocean business, dan bisa jadi IPO menguntungkan. Apalagi, komoditas sawit masih menjadi primadona dan peredaran uang masih banyak.

“Orang mau lari ke mana kalau tidak bermain saham? Bahkan, anak-anak muda sekarang main saham,” ucap dia.

Dalam acara yang sama, CEO Group Triputra Agro Persada Tjandra K Hermanto membantah nilai IPO saham US$ 500 juta. Dia mengatakan lebih lanjut, pihaknya sedang mempersiapkan rencana IPO agar dapat berjalan lancar pada April mendatang.

Hilirisasi di Refinery

CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Tjandra mengatakan, selama pandemi, permintaan dan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) relatif stabil, didukung penerapan mandatori biodiesel 30% (B30) di dalam negeri.

“Kami akan melakukan hilirisasi di refinery, tapi belum akan bermain di biodiesel,” imbuhnya.

Dia menuturkan, perseroan mempunyai kebun sawit seluas 125 ribu hektare (ha), yang le taknya di Jambi, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah. Usia rata-rata tanaman sekitar sembilan tahun.

“Setelah tiga tahun pohon itu panen dan pohon hidup sampai 20-25 tahun. Biasanya, semakin tinggi pohon, panennya semakin sulit,” kata Tjandra.

Indonesia Lebih Komitmen

Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Mengenai biodiesel, Sutedjo menambahkan, sejak awal, pemilik perusahaan tidak ingin membangun pabrik biodiesel, karena tidak ingin ada conflict of interest, walaupun sadar bisnis ini bisa menguntungkan. Di sisi lain, lanjut dia, energi berbahan baku nabati juga bisa terbentur pada harga. Sebab, harga komoditas ini akan lebih tinggi daripada BBM fosil.

“Biodiesel sudah mati di beberapa negara, termasuk Eropa. Jadi, Eropa yang teriak-teriak soal energi hijau, ternyata tidak jalan. Ini memang lucu. Sebenarnya yang berhasil B30 itu Indonesia. Artinya, Indonesia lebih komitmen dibandingkan mereka semua,” ucap dia.

Perkebunan Berjalan Baik

Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Tjandra menerangkan, saat ini, TAP masih menggarap sektor hulu, yakni kebun dan pabrik CPO. Dia juga memastikan kon disi perkebunan TAP berjalan baik meski ada pandemic Covid-19.

TAP, lanjut dia, selalu memeriksa setiap orang yang masuk kebun dan melakukan karantina selama 14 hari sebelum karyawan bekerja.

“Hingga kini, belum ada klaster di kami. Tetapi, memang ada karyawan kena (Covid-19), khususnya yang baru cuti.  Sebelum pemerintah menerapkan PSBB, kami sudah lebih dahulu. Kami denda sebesar Rp 50 ribu bagi pelanggar dan kasih masker kain ke orang sekitar,” ucap Tjandra.

Ditanya soal kemungkinan ekspansi sawit ke Papua, dia mengakui tanah di sana bagus dan merupakan kelas satu seperti di Sumatera, karena terdapat gunung berapi. Namun, topografi Papua yang menyulitkan menjadi masalah bagi pihak yang mau membuka kebun sawit.

“Sawit juga tidak memerlukan tanah yang bagus sekali. Tanah di Kalimantan paling kelas dua, tetapi topografinya tak sulit,” ucap dia.

Tuduhan UE Tak Ilmiah

CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Mengenai sawit yang menghabiskan air, Tjandra mengatakan, tumbuhan dan akar sawit itu hanya 80 cm karena akarnya penuh dengan serabut, sehingga sensitif dengan kekeringan.

“Pada waktu kering, sawit akan berusaha untuk bertahan dengan menutup pelepahnya dan kalau sudah musim hujan, maka dia akan membuka lagi pelepahnya. Sawit membutuhkan banyak air, karena 1 pohon sawit untuk 80 meter persegi. Tapi, kalau dari meter persegi sama perlunya dengan yang lain, artinya 1 ha sawit dengan 1 ha padi sama kebutuhan airnya. Namun, kalau dibandingin 1 pohon sawit sama 1 tanaman padi ya banyak sawit (kebutuhan airnya),” ungkap Tjandra.

Ditanya soal kampanye hitam sawit oleh Uni Eropa (UE), Sutedjo mengatakan, apa yang mereka sampaikan tidak ada satu pun yang berbasis ilmiah. Dia menilai akar masalah dari kampanye hitam itu adalah ekonomi, di mana mereka kalah perang dagang.

Sutedjo menjelaskan, produksi sawit Indonesia yield-nya bisa 10 kali lipat dibandingkan hasil minyak dari tanaman UE.

CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Selain itu, Indonesia hanya menggunakan 1/6 tanah saja. “Apakah (pencegahan) deforestasi itu penting? Apa yang diputuskan presiden sudah b etul, sebab tidak memerlukan lagi (perluasan lahan besar-besaran). Bibit (sawit) sekarang memiliki yield yang tinggi.

Dalam penanganan deforestasi, Indonesia bahkan sudah 75% sukses dibandingkan 2018 dan tidak ada negara di dunia ini yang sukses seperti Indonesia. Bahkan, negara AS membakar lahannya per tahun lebih dari 15 juta ha. Bagi mereka itu kebutuh an untuk petani, tetapi ketika kita melakukan hal yang sama, disebut untuk kebutuhan pengusaha. Itu yang berbeda dalam penggunaan bahasa mereka,” ujar dia.

Sutedjo menjelaskan, saat ini, luasan tanah yang mulai di bebaskan menjadi kawasan konservasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertambah. Ini termasuk pengembalian daerahdaerah yang bekas kebakaran, yang tidak boleh ditanam lagi tetapi sudah menjadi hutan. Kalau digabungkan dalam kurun waktu 2018-2020, pemerintah menghitung sekitar 580.000 ha yang dikembalikan menjadi hutan.

Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu berdiskusi dengan CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto beserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin, Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim, dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi saat media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

“Dan praktis tidak ada penambahan atau izin mengenai (perluasan lahan perusahaan) sawit. Memang masih ada di luar, ya di masyarakat. Ini memang agak sedikit susah untuk mengidentifikasikan masyarakat yang menanam sendiri. Namun secara korporasi, sebetulnya sudah tidak ada,” ucap dia.

Sutedjo menilai moratorium baik untuk industri, karena akan menjaga supply and demand. Para pelaku usaha sawit juga tidak ingin ‘mensawitkan’ semua hutan.

“Kami ingin bagaimana sawit ini bisa menjadi indah seperti di Malaysia. Untuk itu, harus men dapat pengakuan bahwa pohon sawit lebih hebat dari po hon pinus. Apa hebatnya se ba tang pohon pinus disbanding dengan sebatang pohon sawit? Penyerapan karbon lebih baik sawit daripada pinus, yang dibanggakan orang Eropa. Kami tertawa mendengarnya. Karena mereka tidak berbasis ilmiah statement-nya,” ujar dia.

Sutedjo mengatakan, dari semua hasil perkebunan yang disampaikan ke presiden pada saat Jakarta Food Security, hanya usaha sawit yang betul-betul sukses, baik pendampingan maupun modelnya.

Masalah Pendanaan Petani

Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (dua dari kanan) didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu (kiri) memberikan cindera mata kepada CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto (tiga dari kanan) berserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin (dua dari kiri), Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi (kanan) usai media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Chief Operating Officer Beritasatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (dua dari kanan) didampingi Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu (kiri) memberikan cindera mata kepada CEO PT Triputra Agro Persada Tjandra Karya Hermanto (tiga dari kanan) berserta Corporate Secretary Triputra Aminuddin (dua dari kiri), Managing Director for Trading and Downstream PT Triputra Agro Persada Sutedjo Halim dan CEO Region PT Triputra Agro Persada Budiarto Abadi (kanan) usai media visit ke redaksi di Beritasatu Plaza, Jakarta, Jumat (5/3/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Sutedjo menerangkan, masalah yang sering dihadapi petani adalah pendanaan, karena tidak bisa mendapatkannya dari bank. Masalah tersebut bisa diatasi dengan para pengusaha sawit yang menjadi penjaminnya. Itu membuat para petani bisa menjual produk meski di tengah hutan, karena ada pabrik di sekitar mereka.

Dia menerangkan, hal ini membuktikan bahwa industri sawit bisa dicontoh untuk yang lain, sehingga betul-betul tingkat keekonomian masing-masing usaha petani bisa cepat naik.

“Kalau kita lihat 5 tahun lalu, rata-rata per ha itu hanya 2-2,5 ton (setara CPO), sekarang 1 ha bisa 4 ton. Kalau yang bagus banget itu bisa 7 ton per ha. TAP baru 5,2 ton. Buat petani plasma yang 20% di kita sedikit di bawahnya yaitu 4,6 ton. Karena memang mengubah mindset sedikit susah untuk good practice, tidak bisa instan,” ucap Sutedjo.

Tjandra menambahkan, dengan kondisi sekarang, kalau petani plasma bisa menghasilkan 18 ton tandan buah segar (TBS) saja untuk 1 ha lahan, itu artinya 1,5 ton CPO per bulan.

“Sekarang 1 ton itu kurang lebih dia akan mendapat penghasilan Rp 1.250.000. Kalau 3 ton, berati dia bisa dapat hampir Rp 4 juta per bulan. Kalau dia punya kebun dan bekerja di pabrik, penghasilannya ada 2. Sebenarnya take home pay karyawan di kebun sama karyawan kita yang di Jakarta, itu lebih banyak yang di kebun, karena di sana kita beri fasilitas untuk biaya hidup,” papar dia. (ac/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN