Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Tunjukan Perbaikan, BI Optimistis Kinerja Ekonomi Jabar Kuartal III Membaik

Rabu, 23 September 2020 | 13:47 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat Herawanto optimis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 di Jawa Barat bakal lebih baik dari kuartal II yang kontraksi hingga 5,98%.

 

“Bahwa kondisi ekonomi Jawa Barat pada triwulan III-2020 ini merupakan kondisi yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya dan selanjutnya secara bertahap semoga kembali positif dan meningkat signifikan pada 2021,” kata dia dalam diskusi daring West Java Economic Society, Rabu (23/9).

 

Ia mengatakan, berbagai perbaikan pada ekonomi Jawa Barat mulai terjadi pada kuartal III. Beberapa diantaranya yakni peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, sektor pariwisata, kenaikan tingkat hunian hotel, dan meningkatnya jumlah penumpang domestik bandara.

 

“Bukan tanpa dasar berbagai indikator ekonomi menunjukkan perbaikan. Apakah itu survei konsumen, sebagai penjualan eceran, dan sebagainya,” imbuhnya

 

Menurutnya, adaptasi kebiasaan baru juga meningkatkan mobilitas manusia. Hal ini terdeteksi melalui google mobility report yang mencatat adanya peningkatan mobilitas masyarakat Jabar pada September 2020, dengan tren peningkatan terjadi pada area ruang hijau, toko retail, dan hiburan.

 

“Itu sejalan dengan kebijakan adaptasi kebiasaan baru. Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat adalah hal yang sangat tepat pendekatan kesehatan dan pendekatan ekonomi dilakukan secara baik dengan dinamis,” tutur Herawanto.

 

Dia menuturkan, pemberlakukan pembatasan ketika memasuki zona merah, akan lebih ditekankan pada pendekatan kesehatan namun tidak mematikan perekonomiannya. Sedangkan daerah yang masuk ke zona hijau lebih kepada pendekatan perekonomian, namun tetap memperhatikan kehati-hatian dalam protokol kesehatan. “Atau kebijakan berimbang secara dinamis adalah kunci,” tandas dia.

 

Untuk meningkatkan pemulihan ekonomi, lanjutnya, juga perlu untuk membangun rasa optimisme dari semua komponen perekonomian, baik dari otoritas, regulator, serta para pelaku bisnis maupun masyarakat tersebut.

 

Lima Kunci Pemulihan Ekonomi Daerah.

 

Selain itu, ada lima kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya. Pertama, memperkuat positive mindset terhadap pemulihan ekonomi itu sendiri. “Kedua menjaga keberimbangan antara ketersediaan pasokan dan permintaan terutama ketersediaan pasar,” kata Herawanto.

 

Ketiga, lanjutnya, aspek demand atau permintaan. Daerah bisa mendorong perbaikan daya beli masyarakat utamanya dengan kelancaran penyaluran bantuan sosial (Bansos) serta menggerakkan kembali sektor ekonomi yang menjadi pendapatan pengusaha, pekerja, dan masyarakat. Berikutnya, dari sisi pasokan, mendorong bergeraknya kembali sektor-sektor ekonomi utama, termasuk menghidupkan pariwisata yang menjadi sektor berpengaruh luas di perekonomian, dengan secara terukur dengan tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan.

 

“Menjaga kelancaran proyek investasi agar proyek pembangunan daerah terus berjalan sesuai rencana dan juga penting sekali untuk mendorong pengembangan UMKM sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru  termasuk di dalamnya adalah sektor ekonomi kreatif,” tutur Herawanto.

 

Terakhir, dengan mempercepat digitalisasi ekonomi baik untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana, transaksi ekonomi di masa pandemi, maupun sebagai persiapan dan fase pandemi.

 

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, pandemi covid-19 telah memberikan implikasi dampak yang sangat signifikan bagi semua negara, termasuk Indonesia, khususnya pada sektor kesehatan dan perekonomian.

 

Kendati begitu, ia mengatakan, kini mulai ada perbaikan aspek ekonomi baik di global maupun domestik, meskipun pemulihan masih terbatas pada sektor tertentu. Pemulihan ekonomi yang belum merata akibat ketidakpastian yang cukup tinggi. Oleh karena itu, Dody menekankan untuk terus bekerja keras dan berkoordinasi yang erat untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

 

“Kita masih perlu bekerja keras itu poin perlu ditekankan agar sinyal yang positif terus terjaga dan kesiapsiagaan kita senantiasa dipelihara agar tidak timbulkan risiko lebih lanjut,” tuturnya.

 

Menurut dia, kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, telah berdampak pada terhentinya aktivitas masyarakat. Hal ini berdampak pada kontraksi pertumbuhan ekonomi kuartal II yang minus 5,32%, padahal pada kuartal I ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh positif 2,97%.

 

Meskipun ekonomi kontraksi, harus dilihat dan diyakini bahwa beberapa makro ekonomi dan data masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Ia mencontohkan data neraca pembayaran Indonesia dengan perkembangan untuk transaksi berjalan menunjukkan defisit lebih rendah untuk persentase PDB dibandingkan triwulan I-2020.

 

“Ini diharapkan terus berlangsung triwulan III dan IV, sisi aliran modal surplus terjadi dari aliran modal dan investasi, dan cadangan devisa meningkat ke level tinggi akhir Agustus sebesar US$ 137 miliar, dibandingkan US$ 135 miliar periode Juli,” ungkap Dody.

 

Menurutnya, perekonomian Jawa Barat pada kuartal II juga mengalami kontraksi dengan pelemahan industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, risiko pertanian. Namun saat ini berbagai perkembangan mulai menunjukkan perbaikan.

 

“Di tengah perlambatan terjadi di ekonomi Jawa Barat, beberapa data yang dilaporkan ke kami, sisi survei yang dilakukan BI Jawa Barat, menunjukan arah optimisme tingkat rumah tangga, konsumen, dan pelaku usaha. Bahkan beberapa bulan ke depan, survei penjualan eceran, survei konsumen tunjukan aktivitas ekonomi akan membaik dan berlanjut di 3-6 bulan. Ini gambaran sangat positif tidak lepas langkah pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan pemerintah tingkat pusat dan daerah,” ungkapnya.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN