Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan

Turun Kelas ke Lower Middle Income karena Covid-19 Tak Perlu Dikhawatirkan

Kamis, 8 Juli 2021 | 18:21 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian meminta seluruh pihak untuk tidak khawatir atas Laporan Bank Dunia yang kembali memasukkan Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah, alias lower middle income country. Pasalnya turunnya kelas Indonesia juga disebabkan dampak tekanan pandemi Covid-19 pada aspek kesehatan dan ekonomi.

Penurunan kelas ini disebabkan Gross National Income (GNI) per kapita Indonesia tahun 2020 turun menjadi US$ 3.870, dari GNI per kapita padahal  tahun 2019 yang sebesar US$ 4.050.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan bahwa turun kelasnya Indonesia tersebut disebabkan karena adanya pandemi Covid-19. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu kontraksi 2,07% dibandingkan tahun 2019.

Selain itu, kontraksi ekonomi tahun lalu, juga telah berimplikasi pada menurunnya pendapatan per kapita berdasarkan Gross National Income (GNI) tahun 2020 turun menjadi US$ 3.870, dari GNI per kapita  tahun 2019 yang sebesar US$ 4.050.

Adapun untuk saat ini, klasifikasi baru, Bank Dunia mengkategorikan negara berpenghasilan menengah ke bawah dengan rentang pendapatan US$1.046-US$4.095 dan kelompok penghasilan menengah ke atas US$4.096-US$12.695.

Sebelumnya, klasifikasi penghasilan menengah ke bawah berada dalam rentang US$1.035-US$4.045 dan menengah ke atas sebesar US$4.046-US$12.535.

“Bagi ekonom dan pembuat kebijakan, tidak ada yang aneh dengan penurunan (kelas) karena dengan pandemi hampir semua negara mengalami penurunan GNI per kapita. Bahkan ada negara yang PDB terkontraksi double digit tahun 2020, GNI perkapitanya turun diatas US$  2.000. Bahkan banyak negara GNI per kapita turun lebih dari US$ 1.000,” ujarnya kepada Investor Daily, Kamis (8/7).

Dengan demikian, Iskandar menegaskan bahwa tidak perlu khawatir terkait penurunan kelas yang menjadikan Indonesia kembali masuk sebagai negara berpenghasilan menengah ke bawah, alias lower middle income country. Pasalnya penurunan ini tak hanya terjadi di Indonesia dan semua negara mengalami hal yang sama yakni tekanan pada sisi ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Bahkan kontraksi ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 juga tercatat jauh lebih baik dibandingkan negara lain.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semua negara mengalami hal yang sama dan bahkan penurunan GNI perkapita Indonesia jauh lebih baik dari banyak negara karena kontraksi ekonomi lebih kecil. Pada bulan Februari lalu juga sudah diumumkan BPS, tapi karena yang mengumumkan Bank Dunia jadi menjadi perhatian orang,”tukasnya.

Lebih lanjut Iskandar menegaskan bahwa Indonesia dapat segera bangkit dari segala tekanan pandemi Covid-19.  Pasalnya ia menceritakan bahwa pendapatan perkapita Indonesia  pernah turun dari US$ 1.036  pada tahu 1997 menjadi US$ 570 pada tahun  1998. Hal ini terjadi disaat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga 13,1% pada tahun 1998.

“(Dulu) akibat krisis ekonomi nilai tukar tahun 1997/1998. Namun setelah krisis kita bangkit dengan pertumbuban rata-rata per tahun 5%.Jadi hal yang wajar penurunan dan bahkan Indonesia lebih baik dibanding banyak Negara,”tegasnya.

Sebagai informasi, Bank Dunia mencatat, Indonesia saat ini sejajar dengan Belize, Iran, dan Samoa. Sedangkan Panama, Mauritius dan Romania juga mengalami turun peringkat dari negara high class menjadi negara upper middle income atau negara berpendapatan menengah atas.

"Indonesia, Mauritius, Rumania, dan Samoa sangat dekat dengan ambang klasifikasi pada 2019 dan mereka mengalami penurunan Atlas GNI per kapita karena Covid-19 yang mengakibatkan klasifikasi lebih rendah pada 2020," jelas Bank Dunia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN