Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pipa gas bumi. Foto ilustrasi: nawacita.co

Pipa gas bumi. Foto ilustrasi: nawacita.co

Turunkan Harga Gas, 14 Kontrak Gas Industri Diamendemen

Retno Ayuningtyas, Rabu, 20 Mei 2020 | 17:15 WIB

JAKARTA, investor.id – Satuan Kerja Khusus Pelakana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan sebanyak 14 Perjanjian Penyesuaian Harga Gas Bumi telah ditandatangani. Penyesuaian kontrak gas hulu ini guna merealisasikan kebijakan harga gas industri US$ 6 per juta british thermal unit (million british thermal unit/MMbtu).

 

Penandatanganan perjanjian dilakukan oleh empat produsen gas dan 11 pembeli gas sektor industri pupuk, baja, dan sektor Industri melalui pemilik fasilitas pipa. Penandatanganan ini disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto secara virtual pada Rabu (20/5).

 

“Jumlah total volume yang ditandatangani hari ini lebih dari 330 BBTUD (billion british thermal unit per day/miliar british thermal unit per hari),” kata Dwi dalam keterangan resminya, Rabu (20/5).

 

Total volume gas ini berkisar 28% dari total volume sebesar 1.188 BBTUD yang diatur dalam Kepmen ESDM No 89K/2020 tentang Tata Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

 

“Untuk volume gas lainnya, kami sedang melakukan finalisasi perjanjian-perjanjian dengan melakukan diskusi antara pembeli dan penjual. Dalam hal ini SKK Migas bertindak sebagai supervisi,” tambah Dwi.

 

Empat produsen yang meneken kontrak gas tersebut adalah PT Pertamina EP, PT PHE ONWJ, Minarak Brantas Gas Inc, dan Kangean Energy Indonesia Ltd.

 

Sementara 11 pembeli yang memperoleh insentif harga gas dari penandatanganan perjanjian tersebut yaitu PT Pupuk Sriwidjaja, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Petrokimia Gresik, PT Krakatau Steel, PT PGN Tbk, PT Bayu Buana Gemilang, PT Pelangi Cakrawala Losarang, PT Banten Inti Gasindo, PT Energasindo Heksa Karya, PT Sadikun Niagamas Raya, serta PT Pertagas Niaga.

 

Penandatangan ini merupakan tindaklanjut atas Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 8 Tahun 2020 tentang Tata Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 89K tahun 2020. Melalui kedua beleid ini, Menteri ESDM menetapkan harga gas bumi dititik serah pengguna gas bumi dengan harga US$ 6 per MMBTU. Penetapan ini diperuntukan bagi pengguna gas bumi yang bergerak di bidang industri yang terdiri atas industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

 

Dwi menjelaskan, SKK Migas mendukung penuh pelaksanaan beleid tersebut. Langkah-langkah aktif dilakukan segera setelah aturan tersebut dikeluarkan, antara lain melakukan sosialisasi dan diskusi dengan produsen migas, mengeluarkan surat instruksi kepada produsen migas bahwa pemberlakuan penyesuaian harga gas di hulu adalah sejak 13 April 2020, hingga berkoordinasi dengan stakeholders, termasuk Kementerian Keuangan terkait implementasi penyesuaian bagi hasil, yang akan dituangkan lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis (Juknis).

 

Sesuai kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah, penyesuaian harga gas di hulu tidak akan menganggu bagian produsen gas. Penyesuaian harga gas hulu akan mengurangi penerimaan negara bukan pajak dari penjualan gas. “Dengan tidak terganggunya penerimaan Kontraktor diharapkan iklim investasi migas di Indonesia tetap dapat dijaga,” kata Dwi.

 

Penerimaan negara bukan pajak dari penjualan gas akan berkurang, namun diharapkan negara akan mendapatkan timbal balik yang lebih tinggi lagi melalui pengurangan subsidi, peningkatan penerimaan dari dividen, dan peningkatan penerimaan dari pajak.  “Di sisi lain, penurunan harga gas diharapkan memberikan multiplier effect berupa peningkatan produktivitas industri serta penyerapan tenaga kerja,” kata Dwi.

 

Penyesuaian harga gas ini, kata dia, menjadi bukti nyata sektor migas sudah menjadi penggerak roda perekonomian nasional. Dalam kondisi sulit karena Covid-19 dan pelemahan ekonomi global, penyesuaian harga gas diharapkan akan menjadi insentif yang baik bagi sektor industri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN