Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hutama Karya Tower. Foto: IST

Hutama Karya Tower. Foto: IST

Ukur Kapasitas Pembangkit Listrik, Hutama Karya Luncurkan HK E- Index

Selasa, 13 April 2021 | 13:13 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – Emiten pelat merah PT Hutama Karya (Persero) meluncurkan inovasi terbaru berupa metode penghitungan dengan alat ukur HK Electricity Index (HK e-Index). Inovasi ini berfungsi untuk mengukur kecukupan kapasitas pembangkit listrik.

Direktur Operasi I Hutama Karya, Novias Nurendra menyampaikan selama ini Hutama Karya dikenal sebagai  perusahaan konstruksi dan infrastruktur yang salah satunya saat ini fokus menyelesaikan pembangunan Jalan Tol  Trans Sumatera (JTTS).

"Tapi sedikit orang yang tahu kalau dalam beberapa tahun terakhir, Hutama Karya juga serius menggarap proyek pembangunan infrastruktur lain seperti pembangunan infrastruktur dan  teknologi pembangkit tenaga listrik," kata Novias dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/4).

Sejauh ini, Hutama Karya terlibat dalam pembangunan proyek-proyek Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) besar dan penting di  Indonesia di antaranya proyek  Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap  (PLTGU) Grati di Pasuruan, PLTGU Tambak Lorok di Semarang, PLTGU  Muara Tawar di Bekasi, dan proyek Ultra  Super-Critical (USC) pada Pembangkit  Listrik Tenaga Uap (PLTU) terbesar di  Indonesia bahkan dunia yang berlokasi di Suralaya, Banten.

Untuk mengerjakan proyek-proyek  pembangkit listrik besar tersebut, Hutama Karya memiliki unit riset bernama HK Center for Knowledge, Research and Innovation (HK Connection).

Oleh karena itu, Hutama Karya tidak hanya mengerjakan proyek, tetapi juga menghasilkan beberapa hasil studi dan pemikiran untuk memperkuat elektrifikasi Indonesia. "Salah satu inovasi yang kami hasilkan berupa alat ukur index kapasitas pembangkit listrik yaitu HK e-Index,” tutur Novias.

Penghitungan HK e-Index

Penghitungan HK e-Index diperoleh dengan membagi kapasitas pembangkit di sebuah negara dengan jumlah penduduknya. Melalui penghitungan ini, tim riset Hutama Karya berupaya menjawab jumlah pembangkit listrik yang dibutuhkan Indonesia dalam perkembangannya di  periode tahun mendatang. 

Dari riset yang dilakukan tim HK  Connection, terlihat HK e-Index dari  beberapa negara maju seperti Jerman,  Jepang, Singapura dan Korea Selatan  berada di kisaran poin 2,2 – 2,6. Sedangkan, negara berkembang  dengan sektor energi yang baik seperti Cina dan  Malaysia memiliki Index  1,1  –  1,4. 

Sementara, HK e-Index Indonesia saat  ini masih berada di angka 0,26. Angka  yang kecil jika dibandingkan dengan  negara-negara yang memiliki GDP (Gross Domestic Product) di atas US$ 10.000  per kapita, sehingga masih terdapat  pekerjaan yang sangat besar untuk  mengejar ketertinggalan ini.

Alat ukur berupa index yang diusulkan  ini menghasilkan data yang dapat  menjadi landasan seberapa banyak  jumlah pembangkit listrik yang harus  dibangun Indonesia untuk mengejar  ketertinggalannya. HK e-Index juga bisa menjadi alternatif baru yang digunakan,  tidak hanya untuk Indonesia, namun juga bagi negara-negara berkembang  lainnya. 

“Banyak sekali alasan bagi Indonesia  untuk mulai fokus membangun  infrastrutur energi ini demi menjamin  ketersediaan dan keterjangkauan listrik  bagi seluruh masyarakat. Apalagi  negara kita sangat kaya dengan sumber  daya alam, air, angin, bahkan sinar matahari  yang  melimpah. Masih  banyak sumber daya alam yang dapat  kita olah menjadi sumber energi baru  dan terbarukan, sehingga hal ini juga  menjadi peluang bagi kita untuk  menciptakan keberlanjutan energi yang  lebih  baik,” tutup Novias.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN