Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ari Kuncoro. Foto: IST

Ari Kuncoro. Foto: IST

Upaya Subsitusi Produk Impor akan Jaga Kestabilan Neraca Perdagangan

Senin, 16 November 2020 | 23:15 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengatakan, untuk mempertahankan surplus neraca perdagangan maka pemerintah harus melakukan substitusi produk impor. Khususnya untuk bahan baku/penolong, barang setengah jadi, dan bahan modal. Hal ini dilakukan agar saat pertumbuhan ekonomi meningkat maka kestabilan neraca perdagangan bisa terjaga.

“Biaya impor lebih murah daripada membuat produksi dengan industri. Takutnya nanti saat perekonomian sudah tumbuh impor akan naik lagi. Jadi kalau harga komoditas tidak naik tajam maka surplus akan semakin tipis,” ucap Ari saat dihubungi pada Senin (16/11).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$  3,61 miliar.  Nilai ekspor Indonesia Oktober 2020 mencapai US$14,39 miliar. Sementara itu nilai impor Indonesia pada Oktober 2020 mencapai US$ 10,78 miliar.

Ia mengatakan kehadiran Undang Undang Cipta Kerja diyakini akan mempercepat subsitusi produk impor ini. Sebab akan menghadirkan banyak investor baru.  Bahan baku yang tadinya impor akan diproduksi di dalam negeri. Ari menuturkan industri farmasi masih banyak melakukan impor bahan baku seharusnya pemerintah bisa menghasilkan bahan baku sendiri.

“Sehingga nanti saat perekonomian pulih, ini tetap terjadi surplus neraca perdagangan yang sehat,” tutur Ari.

Kondisi surplus neraca perdagangan harus dicermati apakah tetap bisa bertahan saat pertumbuhan ekonomi sudah mulai kembali ke arah positif nanti. Saat ini salah satu sumber defisit terbesar sektor migas yang mengalami defisit US$ 450,1 juta. Defisit terjadi karena minyak mentah dan hasil minyak yang masing masing mengalami defisit US$ 131,2 juta dan US$ 543,2 juta. Sedangkan neraca gas mengalami surplus US$ 224,3 juta.

Oleh karena itu pemerintah harus memikirkan sumber alternatif energi supaya kita tidak menggunakan bahan bakar fosil misalnya biofuel. Saat ini ada perubahan tren pemakaian energi ke arah ramah lingkungan. Untuk industri otomotif juga sudah mula memakai mobil listrik bertenaga baterai. Indonesia juga harus bergerak cepat dalam melihat tren perubahan energi ini.

“Kalau sumber energi itu sudah bisa ditekan, defisitnya kemudian struktur industri sudah bisa melakukan subsitusi impor khususnya barang impor maka kita bisa mendapatkan neraca perdagangan lebih sehat,” ucapnya.

Ari mengatakan bila kondisi impor rendah masih seperti sekarang saat pertumbuhan ekonomi sudah pulih maka pemerintah harus menggenjot ekspor. Namun ekspor sangat bergantung kepada pergerakan harga di bidang internasional. Pemerintah bisa beralih dengan melakukan ekspor produk barang barang yang bernilai tambah tinggi untuk menjaring konsumen menengah atas di negara lain.

“Bisa juga kita masuk ke jalur distribusi misalnya onderdil mobil atau handphone seperti yang dilakukan Vietnam. Biasanya ini akan dilakukan oleh perusahaan asing di dalam negeri. Syukur syukur perusahaan tersebut bisa melakukan linkage dengan UKM dalam negeri seperti yang dilakukna oleh Taiwan dan Korea,” ucapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN