Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para penumpang pesawat memadati terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Para penumpang pesawat memadati terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Banten. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

TARGET KUNJUNGAN WISMAN DITAKSIR KANDAS

Virus Corona Ancam Industri Pariwisata

Eva Fitriani, Selasa, 28 Januari 2020 | 23:20 WIB

JAKARTA, investor.id  – Merebaknya virus corona dari Tiongkok mengancam industri pariwista Indonesia pada 2020, mengingat Negeri Tirai Bambu merupakan penyumbang wisatawan mancanegara (wisman) nomor dua. Meski demikian, industri pariwisata optimistis mampu meraup devisa hingga US$ 20 miliar tahun ini.

“Dengan kondisi seperti ini, target kunjungan wisman sebanyak 18 juta tahun ini kemungkinan tidak tercapai. Tetapi, kita masih bisa mengejar perolehan devisa melalui peningkatan kunjungan wisatawan premium yang memiliki spending tinggi,” kata Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Djunaedi kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (27/1).

Didien menambahkan, wisatawan premium tersebut umumnya berasal dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Rusia. “Makanya kita tidak lagi berbicara mengenai jumlah kunjungan wisatawan, tapi bagaimana kita bisa menarik lebih banyak devisa melalui wisatawan yang masuk ke Indonesia. Salah satu upayanya dengan memperbanyak kunjungan wisatawan berspending besar,” tutur dia.

Untuk itu, dia masih optimistis, industri pariwisata Indonesia mampu meraup devisa hingga US$ 20 miliar di tahun 2020. “Insya Allah mencapai US$ 20 miliar saja sudah cukup untuk tahun ini, karena kita belum tahu kegentingan virus corona ini akan selesai dalam waktu berapa lama,” kata dia.

Tercatat, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari US$ 12,2 miliar pada 2015, menjadi US$ 13,6 miliar di 2016, dan naik lagi menjadi US$ 15 miliar pada 2017. Pada 2018 meraup devisa US$ 17 miliar, serta pada 2019 dibidik menyumbang devisa US$ 20 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tiongkok menjadi penyumbang kunjungan wisman terbesar kedua di Indonesia. Sepanjang Januari-November 2019, kunjungan wisman dari negara tersebut mencapai 1,92 juta kunjungan atau 12,87% dari total wisman ke Indonesia.

Didien menduga, beberapa operator tur/agen perjalanan atau tour operator/ travel agent (TO/TA) Indonesia telah membatalkan program outbound ke Tiongkok, terutama ke wilayah yang telah dinyatakan positif virus corona.

“Kalaupun tetap dijalankan, kemungkinan akan dipindahkan ke destinasi lain karena memang sedang musim liburan,” tutur dia.

Didien mengingatkan kepada pemerintah dan para TO/TA untuk memberi perhatian yang serius terhadap kunjungan wisman Tiongkok yang menggunakan pesawat charter ke Sulawesi Utara. “Di situ harus diawasi betul, karena pasarnya cukup besar di sana,” ujar dia.

Dia menambahkan, Tiongkok merupakan negara yang besar dan tidak semua wilayahnya terjangkit virus corona. Meski demikian, tetap diperlukan kehati-hatian yang tinggi dari pemerintah maupun industri pariwisata untuk mencegah kemungkinan masuknya virus corona ke Indonesia melalui wisatawan.

Dia mengimbau kepada TO/TA untuk terus memantau perkembangan virus corona ini, terutama di wilayah-wilayah Tiongkok yang menjadi pasar mereka.

“Kalau sudah terlanjur menerima order inbound ke Indonesia dari daerah Wuhan dan sekitarnya ataupun yang dicurigai positif virus corona, sebaiknya dihentikan dulu,” ungkap dia.

Plt Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Guntur Sakti mengatakan, seluruh jajaran pemerintah dan para pemangku kepentingan,baik di pusat dan daerah, khususnya di seluruh pintu masuk negara dan destinasi wisata di Tanah Air, saat ini sedang dalam tingkat kewaspadaan tinggi untuk mencegah masuknya wabah virus corona ke Indonesia.

“Langkah preventif yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Luar Negeri beserta segenap jajaran di daerah turut membantu dan menjaga ekosistem pariwisata kita agar tetap aman. Langkah tersebut tentu kami apresiasi dan berharap hasil maksimal dari langkah preventif tersebut, “ ungkap dia.

Dia menegaskan, prioritas utama Kemenparekraf saat ada kejadian seperti ini tentu bukan lagi bicara target kunjungan, tetapi melindungi segenap warga negara Indonesia dan safety and security menjadi hal yang paling utama.

” Kami terus berkoordinasi dan memantau perkembangan situasi serta berharap masalah ini segera berakhir,” ujar dia.

Vice President Brand and Communications PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) AB Sadewa mengatakan, pihaknya akan terus memantau perkembangan terbaru mengenai virus corona di Tiongkok, mengingat salah satu TO/TA papan atas di Indonesia ini memiliki paket outbound ke sana. Panorama juga telah menerima pembatalan paket paket wisata ke Tiongkok untuk perjalanan hingga akhir Februari mendatang.

“Sampai sore ini, ada cancelation untuk jalan-jalan ke Tiongkok di bulan Februari. Kami lihat ada dua faktornya, karena pembatalan dari customer ataupun pembatalan terbang dari maskapai karena adanya larangan terbang dari pemerintah,” jelas dia.

Sadewa mengungkapkan, Panorama Group juga memiliki bisnis inbound, tetapi hingga saat ini belum menyasar Tiongkok sebagai salah satu pasarnya. “Kami punya inbound lewat anak usaha, PT Destinasi Tirta Nusantara, tapi kami tidak pegang pasar Tiongkok. Di asia, Destinasi hanya ambil rata-rata dari Jepang, India, Srilanka, karena dominan pasarnya dari Eropa,” jelas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA