Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wamentan Harvick Hasnul Qolbi saat mengunjungi pabrik PT Pupuk Sriwidjaja Palembang di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/4/2021). Foto:Istimewa

Wamentan Harvick Hasnul Qolbi saat mengunjungi pabrik PT Pupuk Sriwidjaja Palembang di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/4/2021). Foto:Istimewa

Wamentan Pantau Kesiapan Pupuk Subsidi di Palembang

Jumat, 9 April 2021 | 10:55 WIB
Amrozi Amenan (ros_amrozi@yahoo.com)

JAKARTA, investor.id - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi mengunjungi perusahaan anggota holding Pupuk Indonesia, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP) di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/4) untuk memastikan kesiapan produksi dan stok pupuk subsidi untuk menyambut musim tanam kedua tahun ini.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja Harvick untuk memantau kesiapan musim tanam dan memastikan pupuk tersedia untuk petani. Sebelumnya, Harvick telah mengunjungi tiga produsen pupuk anggota holding Pupuk Indonesia lainnya, mulai dari Pupuk Kujang, Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur.

“Ketersediaan pupuk subsidi di Pusri dapat mendukung kebutuhan petani,” kata Harvick dalam rilis, Jumat (9/4).

Sementara itu, Direktur Keuangan & Investasi Pupuk Indonesia Taufik Eko Wibowo mengungkapkan bahwa stok pupuk subsidi telah disiapkan di gudang lini 1 (produsen) sampai dengan lini 4 (kios resmi) sebanyak 1,5 juta ton.

Jumlah ini cukup untuk alokasi selama enam minggu ke depan, dan stok pupuk subsidi pun telah tersebar di seluruh Indonesia.

Adapun rinciannya, pupuk Urea 689 ribu ton, NPK Phonska 304 ribu ton, ZA 198 ribu ton, SP-36 172 ribu ton, dan pupuk organik Petroganik 145 ribu ton.

“Kami selalu berusaha memastikan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan aturan pemerintah. Stok tersebut dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dari stok minimum ketentuan pemerintah,” terang Taufik.

Untuk membantu kelancaran penyaluran pupuk subsidi, lanjut dia, Pupuk Indonesia didukung jaringan distribusi yang luas, yaitu memiliki 9 unit pengantongan, 6 unit Distribution Center (DC), 203 kapal laut, 6.000 lebih truk, 595 gudang dengan kapasitas 3,1 juta ton, dan memiliki jaringan distributor sebanyak 1.200 dengan 29.000 lebih kios resmi.

“Pupuk Indonesia juga telah menerapkan teknologi digital 4.0 dalam pendistribusian pupuk, melalui sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) yang dapat memonitor posisi pengiriman barang, dan memantau stok hingga ke level kios secara real time,” jelas Taufik.

Sebagai produsen, menurut Taufik, Pupuk Indonesia berkewajiban untuk menyalurkan pupuk subsidi sesuai alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Di mana pada tahun 2021, alokasi pupuk subsidi dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 49 Tahun 2020 sebesar 9,04 juta ton dan 1,5 juta liter pupuk organik cair.

Selain kewajiban menyalurkan pupuk subsidi, Pupuk Indonesia juga menyediakan stok pupuk nonsubsidi yang saat ini berjumlah 834 ribu ton.

“Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan petani yang belum ter-cover dalam skema pupuk subsidi,” ujar dia.

Dia melanjutkan, untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan, Pupuk Indonesia melalui Pupuk Sriwidjaja Palembang akan melakukan revitalisasi pabrik Pusri IIIB, yang akan menggantikan pabrik pupuk urea Pusri III dan Pusri IV yang telah beroperasi sejak tahun 1976.

“Tujuan revitalisasi pabrik ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan,” ungkap Taufik.

Taufik menyebutkan, pabrik Pusri IIIB direncanakan akan beroperasi pada tahun 2024 dan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton dan amoniak 660 ribu ton per tahun. Selain itu, pabrik ini juga akan menggunakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam konsumsi gas bumi.

“Dari konsumsi bahan baku pada pabrik baru ini, kami prediksi nilai efisiensinya mencapai Rp 1,5 triliun per tahun,” tutup Taufik.

 

 

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN