Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan di pabrik Dharma Satya Nusantara. Foto: dsn.co.id

Kegiatan di pabrik Dharma Satya Nusantara. Foto: dsn.co.id

2018, DSNG Raih Penjualan Rp 4,8 Triliun

Gora Kunjana, Jumat, 29 Maret 2019 | 12:30 WIB

JAKARTA – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan penjualan tahun 2018 sebesar Rp 4,8 triliun, turun 8% dibandingkan tahun 2017. Hal itu terutama disebabkan oleh turunnya harga rata-rata Crude Palm Oil (CPO) Perseroan dari Rp 8,1 juta per ton pada tahun 2017 menjadi sekitar Rp 7,2 juta per ton pada 2018.

Volume penjualan CPO Perseroan tahun 2018 bertahan pada level 455 ribu ton yang disebabkan oleh adanya kongesti pada kapal pengangkut CPO sejak pertengahan tahun 2018 sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan kapal yang akhirnya menghambat penjualan.

Segmen kelapa sawit memberikan kontribusi penjualan sekitar 79%, sedangkan sisanya dari segmen usaha produk kayu. Penjualan segmen kelapa sawit tahun 2018 turun 12% menjadi Rp 3,8 triliun, sedangkan penjualan produk kayu naik 14% menjadi Rp 989,6 miliar.

Turunnya penjualan tersebut ikut berdampak pada perolehan laba kotor Perseroan yang turun 11% menjadi Rp 1,5 triliun. Meskipun demikian, Perseroan masih mampu mempertahankan margin laba kotor pada level 32% dibandingkan margin laba kotor tahun 2017 sebesar 33%.

Pada tahun 2018, Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp 1,3 triliun, turun 14% dengan margin EBITDA sebesar 28%. Sedangkan perolehan laba Perseroan pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 427,2 miliar, turun sekitar 26% dibandingkan tahun 2017, dengan margin laba sebesar 9%.

Pada tahun 2018, adanya penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 69 mewajibkan Perseroan untuk mengestimasi kembali nilai wajar aset biologis TBS. Penerapan PSAK ini mengakibatkan Perseroan mengakui adanya kerugian dari perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp 26,5 miliar sehingga laba bersih setelah pajak menjadi sebesar Rp 427,2 miliar, dengan margin laba bersih setelah pajak sebesar 9,0%. Apabila dampak PSAK 69 dikecualikan, maka laba bersih setelah pajak akan menjadi Rp 453,7 miliar dengan margin sekitar 9,5%.

Pada tahun 2018, jumlah produksi CPO Perseroan mencapai 488 ribu ton, naik 21% dibandingkan pada tahun 2017. Peningkatan tersebut disebabkan oleh naiknya produksi Tandan Buah Segar (TBS) Perseroan sebesar 20% menjadi 1,85 juta ton dibandingkan tahun 2017 sebanyak 1,55 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi kebun inti mencapai 1,59 juta ton, naik sekitar 15% dibandingkan 2017.

Kenaikan produksi TBS tersebut disebabkan oleh meningkatnya produktivitas kebun pada semester kedua tahun 2018 dibandingkan semester pertama sebagai akibat dari yield recovery pasca dampak lanjutan El-Nino. Produksi TBS Perseroan pada semester kedua melonjak 65% dibandingkan pada semester pertama akibat produktivitas kebun di semester dua yang lebih tinggi dibandingkan semester pertama. Perseroan juga mempertahankan tingkat ekstraksi minyak sawit (Oil Extraction Rate/OER) menjadi 23,59%, naik 3% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan level free fatty acid (FFA) sebesar 2,77%.

Untuk menunjukkan komitmen Perseroan sebagai perkebunan yang ramah lingkungan, Perseroan sedang membangun pembangkit listrik tenaga biogas (methane-capture) yang mengubah limbah pabrik kelapa sawit (POME) menjadi energi listrik terbarukan dengan kapasitas 1,2 Megawatt, dan mengkompres gas bio-methane dengan kapasitas 280 m3 per jam, yang digunakan untuk mengganti pemanfaatan bahan bakar solar (diesel) di PKS dan perumahan karyawan.

Sampai akhir Desember 2018, jumlah lahan tertanam Perseroan mencapai 108,411 hektar, dengan lahan tertanam kebun inti mencapai 84.393 ha. Kenaikan jumlah lahan tertanam tersebut disebabkan oleh bertambahnya areal kebun setelah Perseroan melakukan pengambilalihan perusahaan perkebunan Bima Palma Group di Kalimantan Timur pada tanggal 12 Desember 2018 lalu. Dari jumlah tersebut, total kebun yang sudah menghasilkan sekitar 96.118 hektar, dengan usia rata-rata 9,3 tahun.

Sementara itu, untuk kinerja operasional segmen usaha produk kayu pada 2018, penjualan panel Perseroan sebesar 84 ribu m3, naik sekitar 19% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan harga penjualan rata-rata panel juga naik sekitar 15% menjadi Rp 6,1 juta per m3. Sedangkan produksi engineered flooring turun sekitar 13% menjadi 1,1 juta m2. Meskipun demikian, harga rata-rata engineered flooring naik sekitar 7% menjadi Rp 418 ribu per m2.

Sumber : PR

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA