Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Luno bekerjasama dengan YouGov melakukan riset terkait terkait tren perilaku investor serta persepsi terhadap aset kripto.

Luno bekerjasama dengan YouGov melakukan riset terkait terkait tren perilaku investor serta persepsi terhadap aset kripto.

Mayoritas Investor Kripto Indonesia Yakin soal Kenaikan Aset Kriptonya

Kamis, 30 September 2021 | 14:17 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Perkembangan industri aset kripto di Indonesia saat ini menunjukkan kenaikan volume transaksi yang cukup drastis, dari Rp 65 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp 370 triliun pada Mei 2021. Di sisi lain, pertanyaan dari berbagai pihak mengenai transaksi aset kripto menurut perspektif hukum Islam halal atau tidaknya sudah terjawab.

Terlepas dari itu, menurut sebuah riset yang dilakukan Luno bekerjasama dengan YouGov didapatkan bahwa optimisme investor Indonesia terhadap potensi pertumbuhan aset kripto juga cukup tinggi, di mana sekitar 58% meyakini bahwa nilai kripto akan meningkat dalam waktu 10 tahun ke depan.

Berdasarkan riset Luno dan YouGov terkait tren perilaku investor, serta persepsi terhadap aset kripto pada akhir Agustus 2021 yang mencakup tujuh negara yakni Indonesia, Malaysia, Inggris, Australia, Afrika Selatan, Kenya, dan Nigeria dengan total lebih dari 6.642 responden, di mana 1.003 orang berasal dari Indonesia, didapatkan bahwa 65% responden sudah mengenal kripto sudah pernah membeli aset ini dalam waktu dua tahun terakhir.

Jumlah investor kripto tertinggi berada di Nigeria, di mana 57% responden mengaku telah membeli aset kripto selama 24 bulan terakhir, diikuti dengan Afrika Selatan (43%), Indonesia (29%), dan Kenya (28%).

Luno, platform perdagangan kripto global, yang berfokus untuk meningkatkan literasi dan edukasi seputar kripto
Luno, platform perdagangan kripto global, yang berfokus untuk meningkatkan literasi dan edukasi seputar kripto

Di Indonesia, tingkat familiaritas responden terhadap kripto 30%, melebihi aset investasi yang lain, seperti obligasi negara (20%) dan pinjaman peer-to-peer (18%). Umumnya, mayoritas investor (30%) hanya menyimpan 10% dari tabungan mereka dalam bentuk kripto. Tidak seperti stigma yang beredar di masyarakat, para investor kripto sangat berhati-hati dalam mengalokasikan aset, sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan. Sebaliknya, mereka hanya mengalokasikan sedikit proporsi aset dalam bentuk kripto, agar dapat menjaga level diversifikasi investasi.

Mayoritas investor kripto (56%) juga mengharapkan profit dari investasi kripto dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.

Selain itu, optimisme investor terhadap potensi pertumbuhan aset kripto juga cukup tinggi, di mana sekitar 58% meyakini bahwa nilai kripto akan meningkat dalam waktu 10 tahun ke depan.

Ini berarti, masyarakat Indonesia memiliki kepercayaan bahwa aset kripto akan menjadi investasi jangka panjang, alih-alih sebagai alat penghasil keuntungan instan. Buktinya, hasil studi juga menunjukkan kalau para investor yang mengalokasikan pendapatannya punya di kripto rencana menabung demi masa pensiun (55%) dan sebagai warisan untuk anak-cucu mereka (45%).

Research & Development Manager Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Jericho Biere mengatakan, aset kripto sebagai alternatif investasi saat ini menjadi salah satu favorit masyarakat global tidak terkecuali Indonesia. Keniscayaan dari pada teknologi blokchain dan apa saja yang dapat berkembang di masa depan dengan teknologi ini memberikan kepercayaan yang tinggi bagi investor retail yang sudah memahami lebih jelas tentang teknologi blockchain, smart contract dan aset kripto.

Sentimen global diakuinya memang mempengaruhi fluktuasi harga aset kripto, karena aset kripto memang aset komoditi global, sama seperti emas, minyak mentah dan mata uang.

”Namun seorang investor jangka panjang yang cerdas akan melihat nilai dan potensi dari aset kripto yang diinvestasikannya,” ujarnya kepada Investor Daily, Kamis (30/9).

Sementara itu, pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan, jangka pendek harga aset kripto punya potensi menurun karena tapering ke aset-aset kripto. Tapering diperkirakan dimulai di akhir tahun ini, di mana dimulainya tapering berarti kebijakan moneter AS akan mulai berganti ke yang lebih ketat dan hal ini bisa mendorong penguatan dollar AS sehingga aset-aset yang dinilai dalam dollar AS termasuk kripto bisa melemah.

”Tapi, kalau untuk jangka panjang, peluang kenaikan yang lebih tinggi masih terbuka karena masih banyak investor besar yang memiliki atau meng-endorse aset kripto seperti pemilik Twitter, pemilik Tesla, dan lainnya. Tapi volatilitas pergerakan harga sangat besar, jadi risiko tinggi,” katanya.

Dihalalkan

Pendiri Islamic Law Firm (ILF) sekaligus Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menjelaskan bahwa sebagian pihak yang menilai aset kripto halal dikarenakan aset kripto sebagai alat tukar justru lebih terbebas dari riba dibandingkan uang fiat dan bank konvensional. Dengan sistem blockchain, transaksi terjadi secara peer-to-peer tanpa perantara. Sebagian pihak juga berargumen bahwa aset kripto dapat dikatakan halal selama tidak dilarang negara atau pemerintah.

Di mana, dalam acara Bahtsul Masail yang baru-baru ini digelar diputuskan empat hal. Pertama, aset kripto adalah kekayaan (mal) menurut fikih. Kedua, para ulama Bahtsul Masail sepakat bahwa transaksi kripto harus tidak terjadi gharar. Ketiga, masyarakat agar tidak sembarangan melakukan transaksi kripto jika tidak memiliki pengetahuan tentang aset kripto. Keempat, pemerintah didorong agar segera membuat regulasi yang kuat dan menguatkan jaminan untuk menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan dalam transaksi kripto.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN