Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Defrizal

Kebun Sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Defrizal

Harga CPO Naik Tipis di Akhir Pekan

Sabtu, 14 Mei 2022 | 06:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives naik tipis pada perdagangan di akhir pekan, Jumat (13/5/2022).

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat (13/5/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2022 naik 6 Ringgit Malaysia menjadi 6.682 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juli 2022 terdongkrak 27 Ringgit Malaysia menjadi 6.369 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Agustus 2022 terkerek 8 Ringgit Malaysia menjadi 6.139 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman September 2022 naik 3 Ringgit Malaysia menjadi 6.020 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman Oktober 2022 menanjak 15 Ringgit Malaysia menjadi 5.970 Ringgit Malaysia. Kontrak pengiriman November 2022 terdongkrak 24 Ringgit Malaysia menjadi 5.949 Ringgit Malaysia.

Baca juga: Harga Bensin di AS Capai Rekor Tertinggi, Minyak Melonjak 4%

Research & Development ICDX Girta Yoga menyebut, pasar masih memantau rilisnya data ekspor CPO Malaysia periode awal Mei. Menyusuk, kebijakan Malaysia memangkas pajak ekspor CPO. Pemangkasan pajak ekspor ini menjadi salah satu upaya pemanfaatan momentum paling efisien atas kehilangan pasokan di pasar global akibat pelarangan eksor CPO Indonesia.

“Melalui kebijakan pemangkasan pajak ini akan memicu produsen CPO Malaysia untuk meningkatkan laju ekspor karena pajak yang harus ditanggung eksportir Malaysia menjadi lebih rendah,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga menambahkan, hal ini membuat Malaysia saat ini mengusai pasar CPO dunia. Karena dengan vakumnya Indonesia saat ini maka secara otomatis membuat Malaysia menggantikan posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar pertama dunia. Sementara itu, di dalam negeri, harga minyak goreng mulai kembali stabil.

Baca juga: Dolar AS Tergelincir di Tengah Data Ekonomi Terbaru

"Tentunya hal ini juga didukung oleh permintaan pasar yang mulai kembali normal pasca perayaan Ramadan dan Idulfitri yang biasanya memang membuat permintaan melonjak. Selain itu, efek dari pelarangan juga secara tidak langsung membuat berlimpahnya pasokan CPO dalam negeri," tambahnya. 

Menurut Yoga, jika larangan ekspor diberlakukan dalam jangka waktu lama, tentunya akan mengancam nasib dari petani sawit, pabrik hingga eksportir karena harus diakui dari data yang ada konsumsi dalam negeri jauh lebih kecil (hanya berkisar sekitar 35%) dari produksi yang dihasilkan. “Dengan adanya pelarangan tersebut tentunya akan berimbas pada penurunan permintaan kelapa sawit, karena tidak boleh diekspor, maka yang paling mungkin dilakukan hanya memastikan pasokan untuk pasar domestik tercukupi,” paparnya.

Lebih lanjut Yoga menyebut, dalam mengatur pasokan dan harga CPO dalam negeri, sebaiknya pemerintah mungkin dapat mencontoh kebijakan yang dilakukan oleh Malaysia. Dimana untuk pengawasan perdagangannya dengan sistem tataniaga terpusat. Dengan sistem terpusat ini, akan tercipta suatu data valid yang akan memudahkan bagi pemerintah baik dalam pengawasan terkait realisasi penjualan maupun pembentukan harga CPO. “Sehingga nantinya kebijakan yang akan diambil juga akan lebih tepat sasaran,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN