Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi metaverse. (Pixabay)

Ilustrasi metaverse. (Pixabay)

Metaverse Tetap Bertahan saat Crypto Crash

Jumat, 24 Juni 2022 | 08:03 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Anjloknya cryptocurrency dalam minggu terakhir menimbulkan keraguan bagi mereka yang berminat berinvestasi dalam pengembangan teknologi blockchain. Selain memanfaatkan naik turun nilai tukar token terhadap mata uang fiat, di dunia blockchain juga kini muncul peluang untuk berinvestasi di berbagai project masa depan, termasuk metaverse

"Memang bagi project yang tidak berhati-hati mengelola keuangannya menjadi ancaman besar. Syukurnya sejak awal Realitychain sudah mengantipasi dengan mendiversifikasi keuangan, sebagian harus dalam bentuk stable coin," jelas Pandu Sastrowardoyo, chief blockchain officer di Realitychain. 

Baca juga: Nilai Pasar Metaverse Diramalkan Tembus US$ 5 Triliun pada Tahun 2030

Namun, menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse

"Fokus kita adalah sustainable business, dengan membangun value dan memenuhi kebutuhan user," tambah Adam Ardisasmita CEO Realitychain. 

"Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan," terangnya. 

Pengamat dunia metaverse, Tuhu Nugraha, menjelaskan fenomena ini menjadi dorongan bagi para pelaku tidak lagi sekedar menciptakan dan berjual beli token. 

"Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi," jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

"Metaverse sendiri jalannya masih panjang, konsumennya masih belum terlalu siap. Tapi konsep ini sangat bisa diarahkan untuk kepentingan industri yang sudah mapan, misalnya untuk riset dan eksperimen sebelum di-launch ke pasar," papar dia.

Kelebihan metaverse yang memungkinkan kolaborasi skala dunia, membuatnya ideal untuk kepentingan simulasi dunia nyata. 

Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

"Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh Pandu.

Menurutnya, tantangan bagi dunia metaverse bukan hanya survive dari sisi keuangan. Kejadian ini juga membuat developer metaverse belajar untuk tidak terpaku kepada upaya mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya saja, namun juga membangun experience yang fun, yang menjadi value utama dari sebuah metaverse

"Fokus kita adalah sustainable business, dengan membangun value dan memenuhi kebutuhan user," tambah Adam Ardisasmita CEO Realitychain. Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan yang lain, Realitychain tidak sekedar membuat metaverse. Lebih jauh, mereka memfasilitasi siapapun untuk membuat metaverse sendiri dengan menyediakan enginenya. 

"Saat ini kami belum terdampak langsung oleh crypto crash yang terjadi karena belum launch token sendiri. Tapi pasti akan jauh lebih siap jika hal ini kembali terjadi di masa depan," terangnya. 

"Memang banyak yang harus dibenahi. Tidak lagi sekedar untuk berspekulasi," jawabnya.

Tuhu menjelaskan bahwa masih ada aspek regulasi, kedaulatan negara, hingga money laundry yang perlu diatasi. 

Baca juga: WIR Asia (WIRG) Bangun Platform Metaverse untuk 22 Negara Mediterania

Sementara itu, Pandu menjelaskan berubahnya fokus metaverse dari awalnya sebuah gamefi menjadi menghasilkan nilai yang nyata.

"Fokusnya harus di real world event. Mulai dari konser, galeri, hingga museum virtual. Jadi walaupun unsur fun tetap ada, nilai yang diciptakan harus yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lebih bagus lagi jika bisa menarik sponsorship dari dunia nyata. Jika tidak, ujungnya hanya jadi skema ponzi baru,” imbuh dia.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN