Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi harga minyak dunia
Sumber: Antara

ilustrasi harga minyak dunia Sumber: Antara

Harga Minyak Kembali Stabil Didukung Pengumuman Aramco

Rabu, 6 Juli 2022 | 10:41 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim Riset ICDX menyebut, setelah ditutup melemah pada perdagangan kemarin akibat sinyal awal resesi di Amerika Serikat (AS), pagi ini harga minyak terpantau mengalami koreksi bullish. Hal itu didukung oleh pengumuman Aramco serta gangguan pasokan di beberapa negara produsen. Meski demikian, melonjaknya kembali kasus Covid di Tiongkok membatasi pergerakan harga minyak lebih lanjut.

Tim Riset ICDX menyebut, Saudi Aramco pada hari Selasa mengumumkan harga jual resmi minyak mentah utama Arab Light untuk pengiriman bulan Agustus ke tujuan Asia, yang naik sebesar US$ 2,80 per barel menjadi US$ 9,3 per barel, hampir mendekati rekor tertinggi dari awal tahun di angka US$ 9,35 per barel. Aramco juga menaikkan harga untuk wilayah Mediterania dan Eropa barat laut, kecuali untuk tujuan AS yang tidak berubah.

Advertisement

Baca juga: Rupiah Tembus Level Psikologis Rp 15.000 Per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global

“Pengumuman harga jual minyak Aramco ini menjadi katalis positif bagi pergerakan harga minyak karena sering dijadikan referensi bagi sebagian besar eksportir minyak asal Timur Tengah,” tulis Tim Riset ICDX dalam risetnya, Rabu (6/7/2022).

Tim Riset ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, peningkatan aksi protes di seluruh Libya akibat masalah pemadaman listrik memicu kekhawatiran akan semakin memperketat pasokan global. Penutupan paksa fasilitas minyak milik National Oil Corporation (NOC) sejak bulan April, memaksa negara pemilik cadangan minyak terbesar di Afrika itu melakukan pemadaman listrik secara teratur yang berlangsung selama 18 jam sehari.

Lebih lanjut Tim Riset ICDX mengatakan, isyarat ketatnya pasokan juga terlihat di aliansi OPEC. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo pada hari Selasa menegaskan bahwa kurangnya investasi selama bertahun-tahun di industri minyak telah menyebabkan anggota aliansi OPEC sulit untuk memaksimalkan kapasitas cadangan yang tersisa dari anggotanya guna menambah lebih banyak pasokan. Kecuali jika Iran dan Venezuela diizinkan untuk menjual minyaknya secara penuh.

Baca juga: Minyak Anjlok Terseret Kekhawatiran Hancurnya Permintaan Akibat Resesi

Sementara itu, Tim Riset ICDX menyebut, kekhawatiran akan kembali melemahnya permintaan minyak di Tiongkok semakin meningkat pasca otoritas kota Shanghai pada hari Selasa mengumumkan akan melakukan 2 putaran baru pengujian massal di 9 dari 16 distrik kota dimulai dari hari Selasa hingga Kamis. Selain itu di beberapa bagian dari tiga distrik lain juga akan dilakukan pengujian. Langkah yang diambil otoritas kota Shanghai tersebut menyusul laporan 8 kasus lokal baru yang dikonfirmasi pada hari Senin. Selain itu, kota barat laut Xian mulai hari Rabu akan memperketat pembatasan pasca laporan 18 infeksi lokal.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 95 per barel,” tutup Tim Riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN