Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi harga minyak
Sumber: Antara

Ilustrasi harga minyak Sumber: Antara

Harga Minyak Merosot di Bawah Level US$90 Dipicu Memanasnya Tensi AS - Tiongkok

Jumat, 5 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pada penutupan pekan pagi ini harga minyak terpantau bergerak bearish dibebani oleh sinyal memanasnya tensi antara AS dan Tiongkok. Meski demikian, kenaikan harga jual minyak Aramco untuk bulan September serta pernyataan dari Sekretaris Jendral OPEC membatasi penurunan lebih lanjut.

Tim Research and Development ICDX menjelaskan, dalam eskalasi tensi terbaru antara AS dan Tiongkok yang dipicu oleh kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, dilaporkan bahwa Tiongkok telah mengerahkan sejumlah pesawat dan menembakkan rudal langsung di dekat Taiwan pada hari Kamis dalam latihan terbesarnya di Selat Taiwan, yang akan berlangsung hingga tengah hari waktu setempat (0400 GMT) pada hari Minggu di enam zona yang mengelilingi sebagian besar pulau itu.

Advertisement

Baca juga: Harga Minyak Capai Level Terendah Sejak Invasi Ukraina

“Ketegangan situasi di Taiwan tersebut turut memaksa sejumlah besar maskapai penerbangan membatalkan ataupun mengalihkan rute untuk menghindari wilayah udara dekat Taiwan,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (5/8/2022).

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, perusahaan minyak negara Saudi Aramco pada hari Kamis resmi merilis harga minyak mentah untuk pengiriman bulan September, dimana untuk tujuan Asia naik sebesar 50 sen per barel menjadi US$ 9,80 per barel, mendekati rekor tertinggi saat bulan Mei di level US$ 9,35 per barel. Kenaikan harga jual resmi minyak Arab Saudi ini biasanya dijadikan tolak ukur yang diikuti oleh produsen minyak lain di Timur Tengah.

Baca juga: Minyak Meredup Dibebani Laporan EIA Serta Keputusan OPEC+

Turut mendukung pergerakan harga minyak, Tim Research and Development ICDX menambahkan Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham al-Ghais pada hari Kamis mengatakan bahwa OPEC harus mengambil langkah tegas untuk tidak mengkonsumsi semua cadangan minyak. Untuk indikator dalam waktu dekat yang dipantau oleh pasar adalah laporan mingguan hitungan jumlah rig minyak AS yang akan dirilis oleh perusahaan layanan jasa energi Baker Hughes. Di pekan sebelumnya, jumlah rig minyak dilaporkan meningkat menjadi 605 rig, level tertinggi sejak Maret 2020.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 95 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 85 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN