Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sidharta Utama , Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) dalam diskusi Zooming with Primus - Masa Depan Aset Kripto, live di Beritasatu TV, Kamis (25/3/2021). Sumber: BSTV

Sidharta Utama , Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) dalam diskusi Zooming with Primus - Masa Depan Aset Kripto, live di Beritasatu TV, Kamis (25/3/2021). Sumber: BSTV

Bappebti: Pembentukan Bursa Aset Digital Rampung Semester II-2021

Kamis, 25 Maret 2021 | 18:29 WIB
Lona Olavia

JAKARTA – Minat investasi di aset kripto kian tidak terbendung. Kenaikan jumlah investor yang dimulai sejak tahun 2017 dan berlanjut saat pandemi Covid-19 di tahun lalu hingga saat ini pun disikapi pemerintah selaku regulator yang tengah memproses bursa yang akan menaungi perdagangan Bitcoin cs (aset kripto atau aset digital) di Tanah Air.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sidharta Utama menyampaikan, pembentukan bursa aset digital, dalam hal ini Digital Future Exchange (DFX), masih dalam proses dan diharapkan rampung pada semester II-2021. Kendati demikian, perdagangan aset kripto yang saat ini berjumlah 229 yang diperdagangkan di pasar fisik aset kripto Indonesia legal.

”Untuk perdagangan aset kripto yang memakai regulasi Bappebti belum dilaksanakan dan untuk melaksanakannya harus ada bursanya dulu. Namun, perdagangan sudah dilaksanakan selama ini dan kami saat ini sedang persiapan mengenai bursanya yang menggunakan aturan Bappebti,” kata Sidharta dalam acara Zooming with Primus dengan topik “Masa Depan Aset Kripto” yang disiarkan langsung di Beritasatu TV, Kamis (25/3).

Proses pembentukan bursa baru tersebut, diakuinya berjalan mulus, dengan diikuti peraturan yang lebih ketat dari sebelumnya. Untuk itu, dia pun optimistis bursa ini akan bisa beroperasional pada paruh kedua tahun ini.

Pihaknya juga tengah menunggu jajaran direksi dan komisaris untuk dilakukan uji kelayakan (fit and proper test). Bursa yang mengacu pada bursa digital Korea ini, disebutkannya memiliki permodalan sekitar Rp 200 miliar yang terdiri atas 11 pemegang saham, salah satunya Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX).

”Tahapannya berjalan baik dan dipastikan bursa ini siap. Untuk peraturannya, kami akan terus kaji, jika terlalu ketat akan kami longgarkan, sebaliknya jika perlu ditambahkan, akan kami tambah,” kata Sidharta.

Adapun aset kripto yang bisa diperdagangkan di Indonesia, jelasnya, harus yang memiliki kapitalisasi pasar cukup besar dan dari aspek kualitas termasuk keamanan penggunanya memadai. Sementara bagi pedagang aset kriptonya baik dari sisi aspek keuangan dan aspek teknisnya termasuk keamanan, serta persyaratan lainnya harus juga memadai.

Sidharta mengatakan, seperti mata uang digital yang nilainya bisa berubah tergantung mekanisme pasar, perdagangan aset digital selain diawasi oleh Bappebti juga diawasi oleh Lembaga Kliring. Hal ini sebagai bentuk check and balance, sekaligus memastikan dana nasabah aman. Saat ini, diketahui ada 13 pedagang aset kripto di Indonesia yang memegang tanda daftar perdagangan dari Bappebti. Di sisi lain, terdapat sebanyak 8.472 aset kripto yang beredar di seluruh dunia.

Regulasi, tegasnya juga bertujuan mencegah penggunaan aset kripto untuk tujuan ilegal, seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, serta pengembangan senjata pemusnah massal. Hal itu sesuai rekomendasi standar internasional Financial Action Task Force (FATF) untuk melindungi pelanggan serta memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan aset kripto di Indonesia.

“Hal ini untuk memberikan kepastian hukum bagi nasabah dan menciptakan perdagangan aset kripto yang teratur, wajar, efisien, efektif, dan transparan serta dalam suasana persaingan yang sehat,” imbuhnya.

Menurut Sidharta, regulasi menjadi amat penting untuk ditegakkan karena perdagangan pasar fisik aset kripto terus meningkat dan segmentasi pasarnya juga semakin luas. Hal tersebut ditandai dengan naiknya harga aset kripto yang diperdagangkan oleh calon pedagang, salah satunya bitcoin.

Sejak awal 2020, harga bitcoin telah meningkat sekitar 570%. Harga 1 bitcoin pada awal 2020 tercatat sebesar US$ 8.440, kemudian pada akhir 2020 meningkat menjadi US$ 29.000, dan pada Februari 2021 harganya naik menjadi US$ 53.000 per Btc. Alhasil, pamor bitcoin semakin meningkat mendominasi transaksi aset kripto sebagai salah satu pilihan investasi.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN