Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja perkebunan karet. Foto ilustrasi: bumn.go.id

Pekerja perkebunan karet. Foto ilustrasi: bumn.go.id

BI Perkirakan Harga Karet Membaik 2020

Senin, 5 Agustus 2019 | 16:34 WIB

PALEMBANG, investor.id – Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar memperkirakan harga komoditas karet bakal membaik pada 2020 karena dipacu oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara global.

“Pada 2020 ada harapan ekonomi bakal membaik, dan ini tentu akan berpengaruh pada harga komoditas,” kata Firman pada acara Diseminasi kebijan Moneter Bank Indonesia untuk Regional Sumatera di palembang, Sumatera Selatan, Senin.

Ia menjelaskan, harga komoditas itu sangat dipengaruhi jumlah permintaan. Sementara permintaan terhadap karet diperkirakan meningkat pada tahun mendatang karena ada perbaikan pertumbuhan ekonomi global.

Mengapa bisa membaik? Firman mengatakan sejumlah lembaga moneter dunia meyakini bahwa kebijakan moneter maipun fiskal yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir di sejumlah negara akan berimplikasi positif pada 2020.

Optimisme itu telah dinyatakan IMF yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 akan bergerak dari 3,2% menjadi 3,5%.

Namun muncul pula pertanyaan lain mengingat harga emas yang notabene komoditas justru cenderung naik saat harga komoditas karet, batubara, sawit, dan lainnya anjlok.

“Mengapa ini bisa terjadi? Saat harga komoditas turun, tak ada cara lain selain ke membeli emas. Ini karena ada penyesuaian portopolio dari masyarakat,” kata dia.

Harga karet bergerak turun sejak 2013 meski pada 2011 saat booming komodiitas menembus US$ 5 per Kg. Pada 2017 diketahui haya US$ 1,65/Kg, dan pada 2018 mencapai US$ 1,4/Kg.

Terlepas dari berbagai persoalan yang mengganjal dari sektor perkebunan karet sejak 2013, Firman mengatakan masih ada celah untuk tetap bangkit untuk menyelamatkan hajat hidup para petani. Salah satunya yakni menggenjt sektor manufaktur karena banyak produk turunan karet yang bisa dibuat, mulai dari ban, sarung tangan, aspal karet dan lainnya.

Hanya saja, proses hilirisasi ini bukan pekerjaan mudah karean sejumlah daerah penghasil karet yakni Jambi, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara terkendali pada ketersediaan infrastruktur. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA