Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Bukit Asam Matangkan Ekspansi Proyek Gasifikasi US$ 2,7 Miliar

Farid Firdaus, Senin, 28 Oktober 2019 | 18:28 WIB

JAKARTA, Investor.id – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sedang mematangkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) proyek hilirisasi atau gasifikasi batubara kalori rendah di Peranap, Riau. Pembentukan perusahan bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemical Inc ini diproyeksikan menelan investasi US$ 2,7 miliar.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan, perseroan telah menuntaskan feasibility study proyek Peranap. Kemudian segera dilanjutkan tender konsultan untuk pengerjaan proses front-end engineering design (FEED). Proses tersebut diperkirakan memakan waktu delapan hingga 12 bulan.

“Setelah itu baru ketahuan berapa investasi yang dibutuhkan. Perkiraan sementara ini US$ 2,7 miliar. Tahun depan, mudah-mudahan kita bisa bentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) untuk proyek Peranap,” jelas dia di Jakarta, Senin (28/10).

Menurut Arviyan, pihaknya juga belum menentukan berapa porsi kepemilikan saham perseroan dan pihak lain dalam JV sebelum tahap design tuntas. Sementara itu, penetapan nilai pasti investasi akan ditentukan selanjutnya dalam proses final investment decision.

Sebagai informasi, kesepakatan proyek Peranap pertama kali ditandatangani Bukit Asam, Pertamina, dan Air Products pada 7 November 2018 di Allentown, Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini berlanjut ke tahap penandatanganan Kerangka Kerjasama Pendirian JV pada 16 Januari 2019, dan dilanjutkan ke tahap strudi kelaikan

Kerjasama ketiga perusahaan ini adalah mencari potensi bisnis coal-to-syngas, yakni proses mengkonversi batubara kalori rendaj milik Bukit Asam di tambang Peranap menjadi dimethyl ether (DME). DME akan digunaka sebagai subtitusi LPG sehingga mengurangi ketergantungan pada impor LPG. “Kami harapkan bisa merealisasikan proyek gasifikasi dalam dua hingga empat tahun ke depan, atau kita luncurkan pada 2023,” jelas dia.

Proses disain dan penetapan final investasi, kata Arviyan, cukup penting lantaran akan terlihat seberapa efisiensi proyek Peranap. Pihaknya akan membandingkan Proyek Peranap dengan proyek gasifikasi perseroan yang lain, yakni gasifikasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Dalam kajian perseroan, apabila nilai investasi di Peranap terlalu besar, bukan tidak mungkin bagi perseroan memindahkan proyek tersebut ke Tanjung Enim. Untuk sementara, proyek Peranap dijadwalkan mulai berproduksi pada 2025 dengan konsumsi batubara sebesar 8,7 juta ton per tahun.

“Kalau investasi di Tanjung Enim ternyata lebih rendah, kami akan relokasi proyek Peranap ke sana. Ini masih dalam kajian, belum diputuskan,” kata dia.

Seperti diketahui, proyek Bukit Asam di Tanjung Enim adalah hasil kolarborasi Bukit Asam dengan Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Kesepakatan proyek ini lebih dulu diteken, yakni pada 8 Desember 2017. Pada 3 Maret 2019 telah dilakukan pencanangan pembangunan pabrik coal to urea-DME-polyprpelene di area mulut tambang dengan konsumsi batu bara hingga 8,1 juta ton per tahun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA