Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pembeli menunjukan emas batangan. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pembeli menunjukan emas batangan. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Emas Tertekan Yield Obligasi AS

Kamis, 25 Februari 2021 | 07:10 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Haga emas melemah lagi pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), memperpanjang kerugian untuk hari kedua beruntun. Emas tertekan oleh imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, terpangkas US$ 8 per ounce atau 0,44% menjadi ditutup pada US$ 1.797,90 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (23/2/2021), emas berjangka tergerus US$ 2,5 atau 0,14% menjadi US$ 1.805,90 per ounce.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell kembali bersaksi di depan Kongres AS pada Rabu (24/2/2021). Dia secara khusus berkomentar bahwa kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini adalah pertanda sehat bagi ekonomi, meredakan ketakutan inflasi dari kebijakan fiskal AS yang longgar.

"Meningkatnya imbal hasil obligasi terus membebani pasar emas. Emas belum menemukan jalan untuk pemulihan yang berkelanjutan bahkan dengan pembicaraan tentang langkah-langkah stimulus tambahan," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun menyentuh 1,4% untuk pertama kalinya sejak Februari 2020. Kenaikan imbal hasil cenderung merugikan daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi karena meningkatkan peluang kerugian memegang logam kuning yang tidak memberikan imbal hasil.

Powell juga menegaskan kembali bahwa suku bunga AS akan tetap rendah dan The Fed akan terus membeli obligasi untuk mendukung ekonomi AS.

Dalam kesaksiannya di hadapan Senat AS pada Selasa (23/2/2021), Powell mengatakan kebijakan moneter masih perlu akomodatif, karena pemulihan ekonomi "tidak merata dan jauh dari selesai."

Indeks dolar melayang mendekati level terendah lebih dari satu bulan terhadap para pesaingnya.

Investor terus mencermati perkembangan paket bantuan virus corona AS senilai US$ 1,9 triliun, yang dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi yang cepat tetapi dengan biaya kenaikan inflasi.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik US$ 17,1 sen atau 0,62% menjadi ditutup US$ 27,859 per ounce. Platinum untuk pengiriman April menguat US$ 18,2 atau 1,47% menjadi US$ 1.257,90 per ounce.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN