Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fasilitas produksi minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP )

Fasilitas produksi minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP )

Harga Minyak Naik Ditopang Asa Permintaan akan Pulih dari Efek Korona

Gora Kunjana, Sabtu, 15 Februari 2020 | 08:32 WIB

NEW YORK, investor.id  - Harga minyak naik lebih dari 1% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), membukukan kenaikan mingguan pertama sejak awal Januari, karena investor bertaruh dampak ekonomi dari virus korona akan berumur pendek dan berharap stimulus bank sentral Tiongkok lebih lanjut untuk mengatasi perlambatan.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik US$ 0,98 atau 1,74% menjadi ditutup pada US$ 57,32 per barel. Brent menguat 5,23% sejak Jumat lalu (7/2/2020), kenaikan mingguan pertama dalam enam pekan terakhir.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret berakhir US$ 0,63 atau 1,23% lebih, menjadi US$ 52,05 per barel. WTI mencatat kenaikan mingguan 3,44%.

"Proses likuidasi besar-besaran yang mendorong harga turun tajam bulan lalu kemungkinan telah berakhir dan digantikan oleh akumulasi serta short-covering dari spekulan yang baru-baru ini memasuki pasar," Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, mengatakan dalam sebuah catatan.

Brent telah turun sekitar 15% tahun ini sebagian karena kekhawatiran wabah virus korona akan menghambat ekonomi global. Lebih dari 1.380 orang telah meninggal akibat virus di Tiongkok.

Namun, sentimen pasar membaik ketika pabrik-pabrik di Tiongkok mulai dibuka kembali dan pemerintah melonggarkan kebijakan moneter dalam ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, lonjakan dalam kasus-kasus yang dilaporkan di Tiongkok tidak berarti epidemi lebih luas tetapi mencerminkan keputusan untuk mereklasifikasi tumpukan dari kasus-kasus yang diduga.

"Tesis dasar kami tetap bahwa penghancuran permintaan minyak sebagian besar masih merupakan kisah Tiongkok  dan belum meluas untuk mempengaruhi permintaan global," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas di Citadel Magnus.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan wabah itu akan menurunkan permintaan minyak kuartal pertama dari tahun sebelumnya untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan 2009.

Menanggapi penurunan permintaan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan produsen sekutu, yang dikenal sebagai OPEC+, sedang mempertimbangkan untuk memperdalam pengurangan produksi.

Kremlin mengatakan belum mencapai keputusan tentang pembatasan produksi lebih lanjut. Tetapi sumber-sumber industri mengatakan meningkatnya pasokan minyak di Rusia dan janji akan membanjirnya dolar dari penjualan bank terkemuka memperkuat kasus ini.

Bank investasi UBS mengatakan dalam sebuah catatan bahwa kekhawatiran permintaan komoditas kemungkinan akan bertahan dan "kelas aset akan menunjukkan sedikit volatilitas yang wajar dalam beberapa minggu mendatang."

"Kami menganggap aktivitas ekonomi Tiongkok serta permintaan komoditas akan pulih" mulai kuartal kedua, katanya.

Di Amerika Serikat, perusahaan energi meningkatkan rig minyak selama dua minggu berturut-turut, menambahkan dua rig dan totalnya menjadi 678 rig, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA