Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chief Strategic Officer Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Group Megain Widjaja. (istimewa)

Chief Strategic Officer Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Group Megain Widjaja. (istimewa)

ICDX Targetkan Nilai Perdagangan Multilateral Tembus Rp 36 Triliun

Jumat, 19 Februari 2021 | 13:17 WIB
Lona Olavia

JAKARTA - Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menargetkan, angka perdagangan multilateral   tahun 2021 bisa meningkat dua kali lipat dibandingkan  tahun 2020. Bila tahun lalu, ICDX membukukan angka Rp 18 triliun, maka tahun ini diharapkan bisa menembus Rp 36 triliun.

Chief Strategic Officer Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Group Megain Widjaja menuturkan, pandemi yang merebak di tahun 2020 membuat volatilitas pasar menjadi tinggi dan harga-harga komoditas berfluktuasi. Selain itu, banyaknya aktivitas yang dilakukan di rumah dan kebutuhan akan alternatif investasi membuat masyarakat menjadi lebih aktif mendalami instrumen keuangan yang variatif, termaasuk  perdagangan berjangka komoditi.

Kombinasi perubahan gaya hidup dan volatilitas pasar tersebut mendorong perkembangan minat para investor. Mereka melihat ada peluang investasi pada perdagangan produk-produk multilateral ICDX.

Dia menilai, pasar saat ini sudah mulai stabil dan beradaptasi dengan situasi pandemi. Namun hal itu  tidak akan menutup peluang-peluang baru di pasar komoditas.

Tahun 2021 disambut dengan berbagai isu besar, mulai dari distribusi vaksin, mutasi virus, hingga isu politik seperti dimulainya kepemimpinan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat. Isu-isu global tersebut, menurutnya akan terus mempengaruhi situasi pasar komoditas, sehingga peluang investasi akan selalu ada. Apalagi, perekonomian akan selalu dinamis, sehingga kebutuhan akan instrumen investasi baru dan alternatif yang cenderung berkebalikan dari instrumen konvensional akan selalu ada.

“Maka dari itu, kami optimis memproyeksikan bahwa di tahun 2021, perdagangan multilateral kami dapat membukukan setidaknya dua kali lipat dari pencapaian tahun sebelumnya. Angka ini tentu di luar faktor-faktor lain, seperti produk-produk baru yang rencananya akan kami luncurkan tahun ini,” ujar Megain kepada Investor Daily, di kantor ICDX, baru-baru ini.

ICDX, jelas dia, berencana merilis tiga produk baru. Yakni, produk yang berkaitan erat dengan lingkungan seperti karbon kredit. Lalu, produk hasil bumi dan valuta asing. Serta, produk berbasis cryptocurrency.

“Kami memang berencana untuk meluncurkan beberapa pasangan valuta asing baru untuk melengkapi produk-produk valuta asing yang ada di ICDX saat ini. Namun, saat ini kami masih melengkapi persyaratan dari regulator untuk bisa merilis produk tersebut ke pasar. Apabila tidak ada halangan, kami ingin merilis pasangan valuta asing baru pada kuartal kedua di tahun ini,” kata Megain.

Selain itu, dalam rangka mendukung komitmen Indonesia dalam menangani pemanasan global, ICDX juga mencoba mendorong penerapan perdagangan karbon di Indonesia melalui karbon kredit. Bukan hanya berdampak positif pada lingkungan, perdagangan karbon juga dinilai mampu menyumbang lebih dari US$ 150 miliar untuk perekonomian Indonesia. Apalagi luas hutan mangrove, lahan gambut, padang lamun dan batu karang di Indonesia diperkirakan berpotensi menyumbang 75%-80% karbon kredit dunia.

Terkait kinerja di bursa ICDX di tahun 2020, Megain merinci bahwa transaksi GOFX (Gold, Oil, Forex) memberi kontribusi yang sangat signifikan dalam pertumbuhan volume transaksi multilateral. Pertumbuhan volumenya mencapai 1.991% di tahun 2020, sejak diperkenalkan kepada publik di tahun 2018. Sementara, rata-rata kenaikan volume transaksi mencapai sekitar 900% setiap tahunnya. Hal tersebut didorong oleh diluncurkannya enam kontrak derivatif baru pada tahun lalu, yakni kontrak berjangka minyak mentah berbasis USD, kontrak spot emas berbasis rupiah, dan beberapa kontrak spot cross rate valuta asing.

“Kami juga meluncurkan GOFX Micro, yaitu kumpulan kontrak multilateral berukuran mikro pertama di Indonesia yang ditransaksikan secara legal di dalam bursa. Ukuran kontrak yang jauh lebih kecil ini 1 per 100 dari ukuran kontrak derivatif standar membuat produk ini lebih terjangkau. GOFX Micro menjadi pilihan tepat bagi para investor baru yang ingin mulai mencoba peluang produk derivatif. Sejak peluncurannya, nilai transaksi kontrak-kontrak mikro GOFX mengalami rata-rata kenaikan tiap bulan sebesar 83,84%,” tambahnya.

Seiring kenaikan transaksi, jumlah investor untuk produk multilateral di bursa ICDX juga melonjak 1.520% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan ini berasal dari kelas trading GOFX Micro yang telah memberikan kontribusi sebesar 55% dari total kenaikan jumlah investor.

“Meski di tengah pandemi, tim kami berhasil melaksanakan 72 kelas trading online dan 12 webinar inkubasi sebagai upaya mendorong perkembangan perdagangan multilateral. Di tahun 2021 ini, kami ingin mengembangkan program edukasi dan literasi kami melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar dapat mencapai berbagai kalangan, terutama generasi muda dan produktif. Maka dari itu, apabila tidak terjadi hal-hal di luar dugaan, kami optimis tahun ini mencapai pertumbuhan hingga 200% dari tahun 2020,” sebut Megain.

Adapun, untuk industri berjangka komoditi terjadi shifting dari segi umur yang lebih muda yakni 21-40 tahun. “Para investor baru ini kebanyakan berasal dari program trading class GOFX Micro yang kami adakan sepanjang tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa kebanyakan dari mereka merupakan investor-investor pemula atau belum pernah mencoba futures trading sebelumnya,” pungkasnya. [Lona Olavia]

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN