Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang kripto (cryptocurrency) Ethereum atau Ether. ( Foto: AFP Photo via Gettty Images )

Mata uang kripto (cryptocurrency) Ethereum atau Ether. ( Foto: AFP Photo via Gettty Images )

MINAT INVESTASI ASET KRIPTO MENINGKAT DI INDONESIA

Investor Kripto Disarankan Pahami Konsep Keseimbangan Keuangan

Kamis, 3 Juni 2021 | 17:49 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, Investor.id – Minat investasi mata uang kripto di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dibuktikan data peningkatan jumlah investor dan volume transaksi aset kripto.

Tren peningkatan tersebut telah terjadi sejak penghujung tahun 2020, industri mata uang kripto makin banyak diperbincangkan dan menarik perhatian publik. Namun demikian, masih banyak investor belum memahami risiko investasi pada produk tersebut.

Co-Founder & CEO Treasury Dian Supolo, tingginya minat investasi masyarakat terhadap aset digital perlu diiringi dengan edukasi yang menyeluruh terhadap potensi dan risikonya. “Melalui konsep keseimbangan keuangan, kami ingin mengajak masyarakat untuk menggunakan dana menganggur untuk investasi aset digital, karena mata uang kripto memiliki risiko tinggi. Bahkan, investor sampai kehilangan dana,” ujarnya, Kamis (3/6).

Dian menambahkan, aset kripto memang bisa menjadi alternatif simpanan bersama emas fisik digital lainnya. Untuk itu, Treasury menggandeng salah satu platform kripto, Tokocrypto dengan menawarkan ragam pilihan koin dengan volume transaksi yang tinggi, berizin, dan bisa dibeli mulai dari Rp 5.000, seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB) dan Tether (USDT), sedangkan Toko Token (TKO) bisa dibeli dengan kelipatan satu token.

Sementara itu, Master Financial Planner Safir Senduk mengatakan, ada lima money management dalam jual beli aset kripto. Pertama, pelajari aset kripto yang ingin dibeli termasuk teknologi yang mewadahinya. Kedua, pakai uang dingin. Ketiga, beli saat harganya turun. Keempat, beli sedikit demi sedikit. Kelima, hindari beli karena Fear Of Missing Out (FOMO). “Kalau harga naik tinggi jangan FOMO, jangan ikut-ikutan. Sekali lagi beli ketika harga murah, jangan beli pas anda punya perasaan FOMO,” tegasnya.

Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) sekaligus COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda atau biasa disapa Manda menyampaikan, dalam setiap perdagangan aset kripto selalu disertai dengan disclaimer. Di mana, jika ingin berinvestasi di kripto, investor dapat melihat asumsi dari analisis teknikal. Selain itu, sebagai investor tegasnya jangan hanya melihat dari sisi keuntungan semata. Tapi, pemodal harus memahami analisa teknikal dan strateginya.

”Jangan FOMO. Pelajari juga profil-profil aset kripto untuk melihat profil dan fundamentalnya, dipelajari whitepaper atau litepaper-nya sebagai bahan analisa,” ujarnya.

Tidak kalah penting, masyarakat, kata Manda, juga harus memastikan calon pedagang fisik aset kripto memiliki tanda daftar sebagai calon pedagang fisik aset kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Pahami dan kenali dulu seluk-beluk berinvestasi di aset kripto.

”Dapat dikatakan hampir tidak ada instrumen investasi yang tidak berisiko atau risk free, maka dari itu menjadi penting sebagai investor boleh paham dengan kadar risikonya, dan betul-betul mempelajari industrinya,” kata dia.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa masyarakat harus memahami risiko dari perdagangan aset kripto yang underlying ekonominya masih tidak jelas. Dalam media sosial resminya, OJK menyebut ada tiga poin yang harus menjadi pertimbangan masyarakat dalam melakukan investasi pada aset digital kripto.

Pertama, aset kripto saat ini bukan merupakan jenis komoditi dan bukan sebagai alat pembayaran yang sah. OJK telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas pembayaran, dan hasilnya menyatakan bahwa mata uang kripto bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Kedua, aset kripto adalah komoditi yang memiliki fluktuasi nilai yang sewaktu-waktu dapat naik dan turun. Sehingga masyarakat harus memahami dari awal potensi dan risikonya sebelum melakukan transaksi aset kripto. Ketiga, OJK tidak melakukan pengawasan dan pengaturan pada aset kripto, melainkan oleh Bappebti.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN