Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Harga Minyak Turun

Harga Minyak Turun

Kematian Akibat Corona Meningkat, Harga Minyak Jatuh

Selasa, 28 Januari 2020 | 08:32 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id - Minyak mentah berjangka jatuh sekitar 2% ke posisi terendah tiga bulan pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena angka kematian akibat virus corona Tiongkok meningkat, membatasi perjalanan dan memicu ekspektasi perlambatan permintaan minyak.

Minyak mentah berjangka Brent kehilangan US$ 1,37 atau 2,3% menjadi ditutup pada US$ 59,32 per barel, tingkat terendah sejak 21 Oktober tahun lalu.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun YS$ 1,05 atau 1,9%, menjadi US$ 53,14 per barel, tingkat terendah sejak 2 Oktober tahun lalu.

Bursa saham global, yang cenderung diikuti oleh harga minyak, juga merosot karena investor semakin cemas tentang krisis yang meluas. Permintaan melonjak untuk aset-aset safe-haven, seperti yen Jepang dan surat utang pemerintah.

Jumlah korban dari virus corona naik menjadi 81 orang dan pemerintah Tiongkok memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari, berusaha menjaga sebanyak mungkin orang di rumah untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Semakin banyak penutupan kota di Tiongkok dan penerbangan dibatalkan mengancam salah satu wilayah pertumbuhan permintaan minyak global yang paling stabil, dengan bahan bakar jet menyumbang sekitar 15% dari pertumbuhan permintaan di Tiongkok, kata RBC Capital Markets dalam sebuah laporan.

Namun, kekhawatiran atas pelonggaran konsumsi bahan bakar jet saat ini terbatas di Tiongkok, kata RBC.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mencoba untuk mengecilkan dampak virus pada Senin (27/1/2020), dengan Riyadh, pemimpin OPEC secara de-facto, mengatakan kelompok itu dapat menanggapi setiap perubahan permintaan.

Sumber OPEC mengatakan ada "diskusi awal" di antara OPEC+ untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak saat ini di luar Maret, dan kemungkinan pemotongan lebih dalam juga merupakan pilihan, jika ada kebutuhan, dan jika penyebaran virus Tiongkok berdampak pada permintaan minyak.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan dia merasa yakin virus baru akan teratasi.

OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, telah menahan pasokan untuk mendukung harga minyak selama hampir tiga tahun dan pada 1 Januari meningkatkan pengurangan produksi yang disepakati sebesar 500.000 barel per hari (bph) menjadi 1,7 juta barel per hari hingga Maret.

Harga minyak mentah Brent telah turun hampir seperlima sejak lonjakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran secara singkat mengangkat harga di atas US$ 70 per barel pada 8 Januari.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN