Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi minyak mentah

Ilustrasi minyak mentah

Minyak Rebound Karena Melambatnya Kasus Korona

Rabu, 12 Februari 2020 | 07:55 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id - Harga minyak rebound sekitar 1% dari posisi terendah 13-bulan pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena jumlah kasus virus corona baru melambat diTiongkok, meredakan beberapa kekhawatiran atas potensi kehancuran permintaan minyak yang berkepanjangan.

Korban tewas melampaui 1.000 pada Selasa (11/2), meskipun jumlah kasus baru yang dikonfirmasi turun. Epidemi ini mungkin sudah berakhir pada April, kata penasihat medis utama pemerintah Tiongkok tentang wabah tersebut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April ditutup pada US$ 54,01 per barel, naik US$0,74 atau 1,4%, setelah jatuh pada Senin (10/2) ke level terendah sejak Januari tahun lalu di US$ 53,11.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik US$ 0,37 atau 0,8%, menjadi menetap di US$ 49,94 per barel,

"Pasar yang sedang mencoba ke posisi terbawah, menjadi optimis dan terlihat melampaui (kekhawatiran) virus," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Investor tetap waspada bahwa permintaan minyak Tiongkok dapat memberikan pukulan lebih lanjut jika virus korona tidak dapat ditahan dan jika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC , gagal menyepakati langkah-langkah lebih lanjut untuk mendukung harga.

"Kurangnya tindakan terkoordinasi oleh OPEC+ berarti bahwa kekhawatiran kelebihan pasokan kemungkinan akan tetap berada di atas angin," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg.

Virus korona baru telah mengurangi permintaan konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Perusahaan penyulingan negara Tiongkok berencana untuk memotong sebanyak 940.000 barel per hari (bph) -- hampir satu persen dari permintaan dunia -- dari tingkat pemrosesan minyak mentah mereka pada Februari.

Badan Informasi Energi AS memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini sebesar 310.000 barel per hari setelah wabah virus corona.

Minyak juga mendapat dorongan dari reli di pasar ekuitas dunia, yang melanjutkan kenaikan mereka ke rekor tertinggi pada Selasa (11/2) dengan harapan virus telah mencapai puncaknya.

OPEC dan sekutu termasuk Rusia menahan produksi sebesar 1,7 juta barel per hari pada 2020 untuk mendukung pasar dan telah mempertimbangkan pembatasan lebih lanjut.

Panel penasehat OPEC+ mengusulkan pengurangan tambahan 600.000 barel per hari minggu lalu, tetapi Rusia telah menunda memberikan sikap resminya, membuat frustasi beberapa anggota OPEC.

Harga minyak memangkas keuntungan dalam perdagangan pasca-penyelesaian setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari perkiraan dalam stok minyak mentah AS.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN