Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di pabrik rimah. Foto ilustrasi: dok.

Salah satu kegiatan di pabrik rimah. Foto ilustrasi: dok.

Pengamat: Dualisme Bursa Bukan Penyebab Turunnya Harga Timah

Thresa Sandra Desfika, (elgor)  Kamis, 25 Juni 2020 | 21:13 WIB

JAKARTA, investor.id -  Pengamat ekonomi dari Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Indonesian Cooperative Management Institute) Giyanto Purbo menilai, penurunan harga timah bukan disebabkan adanya dua bursa komoditas timah di Indonesia, yaitu BKDI (Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia/ICDX), dan JFX (Jakarta Future Exchange).

Penurunan harga timah lebih disebabkan akibat rendahnya permintaan dari industri penghasil produk turunan timah seperti elektronik akibat pandemi Covid-19. 

"Akibat pandemi Covid-19 hampir semua industri yang aktivitasnya melibatkan interaksi dengan banyak orang dipaksa tutup. Lalu, bagaimana ada permintaan bahan baku jika tidak ada produksi," ujar Giyanto Purbo kepada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Menurut dia, pembentukan dua bursa berjangka timah ICDX sejak 2013 lalu dan JFC sejak dua tahun lalu merupakan hal yang wajar sebagai upaya untuk menstabilkan harga timah.

Selain untuk menstabilkan harga timah, imbuhnya, pembentukan kedua bursa tersebut juga bertujuan agar Indonesia sebagai salah satu penghasil timah terbesar bisa menjadi penentu harga timah di pasar dunia. 

Namun hasil riset Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian ESDM pada tahun 2016 memang menyebutkan pengaruh fluktuasi harga timah di bursa LME (London Metal Exchnge) lebih besar terhadap fluktuasi harga timah di bursa BKDI/ICDX. Untuk menjadi penentu harga timah dunia, menurut hasil riset tersebut Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing industri hilir di dalam negeri agar permintaan terhadap bahan baku timah meningkat. 

Pasalnya dari total produksi timah Indonesia pada tahun 2015 sebesar 69.500 ton, hanya 1.579 ton atau 2,3% yang dikonsumsi di dalam negeri. Berbeda dengan Tiongkok, dari total produksi timah 162.000 ton pada tahun 2015 konsumsi dalam negerinya mencapai 150.000 ton atau 92,6%. 

"Selain soal daya saing industri hilir, hasil riset Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian ESDM pada tahun 2016 juga menyebutkan tantangan terbesar Indonesia dalam menjadi penentu harga timah dunia adalah tingginya tingkat illegal mining timah," kata dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN