Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Saham atau Kripto? Begini Perilaku Para Pemodal

Sabtu, 5 Juni 2021 | 13:03 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Pemodal terus mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan atau dikenal dengan istilah cuan. Belakangan ini, saat harga saham anjlok, dananya berpindah ke aset kripto. Lalu, ketika harga aset kripto jeblok, balik lagi ke saham.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sejauh ini terlihat pasar saham kembali bergairah dan membuat pelaku pasar yang sempat bermain di instrumen mata uang digital kembali ke pasar saham. Apalagi, indeks harga saham gabungan (IHSG) kini bertengger nyaman di zona 6.000.

”Memang bicara volatilitas, IHSG dan aset kripto keduanya sama saja. Namun, kripto jelas memiliki volatilitas paling tinggi. High risk high return tentu bisa kita sematkan juga bagi kripto. Sekarang tinggal investasi mana yang paling nyaman untuk pemodal,” kata dia kepada Investor Daily.

Nico menilai, tidak ada salahnya untuk melakukan diversifikasi portofolio agar bisa lebih maksimal meraih cuan. Kendati demikian, terutama untuk awal, pemodal masih akan menaruh porsi investasinya jauh lebih besar ke saham daripada kripto. ”Mungkin saham 90%, kripto 5% atau 10%,” sebut dia.

Sementara itu, Research & Development Manager ICDX Jericho Biere mengakui, belakangan ini memang terjadi peralihan perhatian investor pasar saham untuk mencoba keberuntungan investasi di pasar aset kripto, terutama bagi investor milenial yang menyukai fluktuasi harga tinggi setiap hari, sehingga dapat memberikan potensi keuntungan yang besar. Namun, dengan risiko yang besar pula.

Hal itu dianggap wajar, karena aset kripto diklasifikasikan sebagai alternatif investasi yang berbasis perdagangan global, sehingga banyak pelaku pasar yang berpartisipasi sehingga membentuk harga secara global serta tanpa adanya batas fluktuasi harga. Berbeda dengan pasar saham dalam negeri, saat ini kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) perihal fluktuasi harga saham yang bervariasi dari batas bawah 7% hingga batas atas 35%. Dibandingkan aset kripto yang dalam kondisi tertentu pergerakan harga hariannya bisa sampai lebih dari 100%.

Tetapi, banyak investor pemula yang terjebak dalam euforia investasi aset kripto yang menawarkan return tinggi dalam waktu relatif singkat, tanpa memahami fundamental dari aset kripto, sehingga saat pasar aset kripto sedang dalam jenuh beli dan menyebabkan tekanan jual, investor ini tidak siap menghadapi dan akhirnya harus menuai kerugian. ”Dengan demikian, tidak heran jika sebagian investor kembali ke pasar saham,” imbuh Jericho.

Di lain pihak, CEO dan Founder PT Pintu Kemana Saja (Pintu) Jeth Soetoyo menuturkan, selama pandemi Covid-19, adopsi aset kripto telah berkembang pesat seiring peningkatan aktivitas perdagangan pengguna ritel sebagai hasil kerja dari rumah (work from home/WFH). Apalagi, perusahaan besar seperti Tesla, Microstrategy, MassMutual, dan Twitter telah mengadopsi strategi perbendaharaan Bitcoin dengan menambahkannya ke neraca perusahaan.

Dia pun menilai, lumrah jika terjadi perpindahan haluan dalam porsi investasi. ”Aset kripto sama seperti saham dan obligasi. Bagus jika ada diversifikasi untuk mengantisipasi kerugian. Saat saham loyo pindah ke kripto dan sebaliknya. Itu natural,” ucapnya.

CEO PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto) Pang Xue Kai juga menilai, perpindahan investor dari kripto ke saham memang tidak bisa disetop. Begitu juga sebaliknya. Sebab hal itu memang lumrah terjadi di setiap instrumen investasi. ”Itu flow yang natural, biasa. Yang mana menurut investor yang bisa kasih cuan lebih banyak saja,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) sekaligus COO Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda atau biasa disapa Manda mengatakan, pengalaman untuk trading di aset kripto memiliki level yang berbeda dengan pasar saham, tapi bukan berarti pasar saham lebih mudah. Namun, mentalitas untuk trading di kripto lebih ditantang. ”Ibaratnya orang pasang ring jantung di pasar kripto itu sudah tiga atau empat. Jantungnya lebih kuat lagi,” pungkasnya.

Dia pun menegaskan, perpindahan investor tersebut tidak memunculkan kekhawatiran. Hal itu merupakan bagian dari ruang untuk mendekati masyarakat yang belum pernah berinvestasi, mengingat investasi di kripto bisa dalam nominal kecil. Berbeda dengan pasar saham. “Memang betul dari segi volume dan transaksi ada penurunan, tapi saya pikir itu tidak terlalu signifikan,” kata Manda.

Hingga April 2021, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (Bappebti) mencatat, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 126 triliun. Bappebti juga mencatat jumlah investor aktif di aset kripto per Januari-Maret 2021 mencapai 4,2 juta orang.

Sedangkan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 4,9 juta hingga akhir Maret 2021. Dari jumlah tersebut, investor saham mencapai lebih dari 2,2 juta. Pertumbuhan jumlah investor masing-masing naik 30% untuk investor saham dan 25% investor pasar modal dari akhir 2020. Pesatnya pemakaian teknologi pada masa adaptasi baru memicu pertumbuhan investor dalam setahun terakhir.

Pertumbuhan investor itu mendorong lonjakan transaksi perdagangan saham dalam tiga bulan terakhir. Rata-rata nilai transaksi harian saham dapat mencapai Rp 10-15 triliun per hari. Frekuensi transaksi dapat mencapai 1,3 juta dan merupakan transaksi tertinggi di kawasan Asia dalam tiga tahun terakhir. Diikuti, volume perdagangan saham lebih dari 19 miliar saham per hari.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN