Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Program Edukasi Industri Jasa Keuangan bertema Tantangan dan Solusi Industri Keuangan ditengah Virus Covid-19 serta edukasi mengenal dan waspada terhadap investasi ilegal, di Jakarta, Senin (9/3/2020). Pada diskusi tersebut masyarakat dihimbau untuk waspada terhadap investasi ilegal. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Program Edukasi Industri Jasa Keuangan bertema Tantangan dan Solusi Industri Keuangan ditengah Virus Covid-19 serta edukasi mengenal dan waspada terhadap investasi ilegal, di Jakarta, Senin (9/3/2020). Pada diskusi tersebut masyarakat dihimbau untuk waspada terhadap investasi ilegal. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Teknologi Digital Berkembang Pesat, Kasus Investasi Ilegal Diprediksi Meningkat

Minggu, 21 Februari 2021 | 12:08 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Jumlah kasus dan kerugian akibat investasi ilegal diperkirakan meningkat tahun ini. Hal ini didukung perkembangan teknologi digital dan kemudahan dalam membuat aplikasi.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Tobing mengatakan, perkembangan teknologi saat ini memberikan kemudahan dalam membuat aplikasi, sehingga banyak modus penawaran investasi ilegal yang berbasis aplikasi. "Di samping itu, tingkat pemahaman masyarakat terhadap teknologi investasi juga perlu ditingkatkan," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Hal ini yang memicu penamabahan kasus investasi ilegal yang beredar di masyarakat. Pada Januari 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, terdapat penawaran 14 investasi tanpa izin. Pelaku investasi tanpa izin tersebut menawarkan produk melalui platform atau aplikasi.

Dia mengatakan, nilai kerugian dari investasi ilegal juga terus meningkat tiap tahun. Pada 2020, nilai kerugian mencapai Rp 5,9 triliun. Kerugian ini paling banyak bersumber dari kasus PT Indosterling Optima Investa yang memakan 1.800 korban dan ada kasus Kampoeng Kurma yang menelan 2.000 korban.

Nilai kerugian pada 2020 ini kembali meningkat menjadi Rp 4 triliun. Kerugian ini paling banyak bersumber dari kasus PT Vega Data Indonesia dan PT Barracuda Fintech Indonesia yang menelan lebih dari 102 ribu orang.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK Luthfi Zain Fuady mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) untuk menangani kasus investasi ilegal. Upaya ini mulai dari perbaikan regulasi, penguatan kewenangan dan upaya-upaya koordinasi lintas kementerian dan lembaga, kegiatan edukasi dan literasi yang terus-menerus dilakukan.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan penanganan kasus investasi investasi ilegal juga harus berfokus pada pemulihan kerugian yang dirasakan korban. “Pendekatan restorative justice rasanya perlu kita kaji lebih dalam dan kita terapkan dalam penanganan investasi bodong ini, karena akan menjadi kurang bermakna jika pelaku kejahatannya dihukum penjara seberat-beratnya, produknya dihentikan, tapi tidak terjadi pemulihan kerugian korban,” jelas Luthfi.

Luthfi mengungkapkan, dalam penanganan salah satu contoh kasus investasi ilegal yaitu kasus First Travel, para pelakunya dihukum seberat-beratnya, aktivitas operasionalnya dihentikan , namun banyak dari pihak korban yang mengalami kerugian tidak terpenuhi haknya.

Dia menambahkan, hal seperti ini tentulah mengusik nurani sebagai regulator yang berusaha menghadirkan peran negara dalam melindungi masyarakatnya. Ke depan, hal tersebut bisa diperbaiki sehingga penegakan hukum tidak hanya kemudian berdampak pada pelaku pelanggaran, tetapi juga berdampak positif pada para korban.

Menurut Luthfi, adanya ruang-ruang kosong dan kewenangan antar lembaga yang juga sering dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan investasi yang dengan cerdas dan berani menciptakan produk-produk investasi yang didesain, sehingga memiliki karakter no where dalam peta hukum positif investasi.

“Kami segera menyadari bahwa yang kami hadapi bukan hanya sosok yang jahat tapi sekaligus yang paham regulasi-regulasi dan paham bagaimana cara memanfaatkan celah regulasi tersebut,” ujarnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan, terdapatnya kasus investasi ilegal yang dilakukan oleh perusahaan yang legal secara entitas oleh OJK. Namun karena buruknya good corporate governance dan moral hazard pengelola investasi, maka timbullah kerugian dari para investor.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN