Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investment Talk membahas tentang

Investment Talk membahas tentang "Booster Vs Invesment", diselenggarakan oleh D'Origin, Financial & Business Advisory.

Omicron Merebak, Saham Sektor Kesehatan Lebih Resilience

Jumat, 21 Januari 2022 | 11:17 WIB
S.R Listyorini

JAKARTA, Investor.id –Covid varian omicron di Indonesia merebak dan jumlah kasus barunya makin banyak, namun pelaku pasar meyakini pemerintah bisa mengendalikannya. Gencarnya vaksinasi yang sudah masuk tahap ketiga atau booster dan pemberlakukan PPKM diyakini bisa menahan laju penurunan indeks akibat kekhawatiran pandemi.

Saham sektor kesehatan dinilai lebih resilience saat ini dan masih overweight, demikian terungkap dalam Investment Talk yang membahas tentang "Booster Vs Invesment". Diskusi terbut diselenggarakan oleh D'Origin, Financial & Business Advisory, perusahaan konsultan keuangan, belum lama ini.

Diskusi menghadirkan pembicara dr. Siti Nadia Tarmizi, juru bicara Pemerintah untuk vaksinasi COVID-19, Robert Sebastian (analis Ciptadana Sekuritas), Henry F. Jusuf (Direktur Strategi & Investor Relation IRRA), Alex Sukandar (Founder of kurikulumsaham.com), dengan moderator Cynthia Nadeak (Director of D'Origin Advisory).

Menurut Robert Sebastian, saham sektor kesehatan akan lebih resilience baik dalam kondisi penyebaran pandemi atau tidak. "Walaupun pandemi nantinya mereda akan di-replace dengan kasus-kasus base case di sektor kesehatan itu sendiri. Karena semuanya saling menunjang," ujarnya.

Hal ini akan berdampak pada sektor lain seperti distribusi alat kesehatan. “Jadi saya rasa kalau untuk saham sektor kesehatan masih cukup baik view-nya. Jadi kami juga menilah masih overweight di sektor kesehatan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Alex Sukandar. Robert dan Alex  memiliki optimisme terhadap saham-saham di sektor kesehatan seperti PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). Keduanya optimistis terkait kinerja IHSG tahun ini dengan target pada level 7.300 berdasarkan PE 16 kali.

IRRA

Sementara itu, Direktur Strategi & Investor Relation PT Itama Ranoraya Tbk, Henry F. Jusuf, mengatakan IRRA berkomitmen untuk terus bisa relevan dalam hal penanganan masalah-masalah kesehatan di Indonesia.

“Kami secara group sebelum adanya Covid-19, sudah punya planning untuk pabrik jarum suntik auto disable terbesar di Asia. Karena demand-nya sudah terlihat, tren seluruh dunia kekurangan jarum suntik sehingga alangkah baiknya Indonesia bisa memproduksi,” kata dia.

Ia berharap, Indonesia dapat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri akan alat kesehatan. IRRA, kata dia, tak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga telah melakukan ekspor ke Unicef.

Menurut Henry, dengan adanya vaksin booster, pihaknya akan menggenjot produksi untuk memenuhi kebutuhan. IRRA mentargetkan penjualan jarum suntik meningkat 20-25%. "Fokusnya produk kesehatan made in Indonesia karena perusahaan bisa menyediakan secara customize, sesuai kebutuhan," kata dia.

Ditanya target laba, Henry mengatakan, laba IRRA di atas Rp 2 triliun tahun ini (yoy). Perusahaan juga terus meningkatkan capex sampai 2024 menjadi lebih dari Rp 1 triliun. Sumbernya dari internal dan ada rencana fund rising, untuk mengembangkan elektro medical dan non elektro medical agar made in Indonesia.

Vaksinasi Kian Gencar

Dalam kesempatan tersebut hadir pula Siti Nadia Tarmizi selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi Covid-19. Dia mengungkapkan bahwa hingga Rabu (19/01/2022) jumlah vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 177,64 juta, sementara vaksinasi dosis kedua telah mencapai 121,07 juta. Artinya masih sekitar 14% dosis pertama dan dosis kedua sekitar 42% untuk diselesaikan dari total jumlah penduduk yang wajib divaksinasi.

Vaksinasi dosis booster pun telah dimulai dari tanggal 12 Januari 2022 agar pandemi dapat semakin tertangani lebih baik dan laju ekonomi tidak tersendat.

“Oleh karena itu segera percepat vaksinasi, tetap jaga protokol kesehatan, kurangi mobilitas, karena selalu menyebabkan peningkatan laju penularan Covid apapun variannya. Dan kita harus yakin gelombang ketiga ini masih bisa kita cegah, harus proaktif. Yang sudah waktunya booster segera booster dan jangan menunda-nunda,” pungkasnya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN