Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memantau pergerakan harga saham di  layar elektronik Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor memantau pergerakan harga saham di layar elektronik Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Fenomena GameStop

Bangkitnya Komunitas Investor Ritel Indonesia yang Dibumbui Kisah Pilu

Sabtu, 30 Januari 2021 | 14:01 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

JAKARTA - Fenomena masuknya investor ritel yang didominasi kalangan milenial juga terjadi di Indonesia. Bukan cuma milik bursa saham Paman Sam, Wall Street. Para investor ritel ini pula yang menggemparkan bursa Amerika ketika melambungkan harga saham GameStop yang membuat para hedge fund kelimpungan. 

Bursa Efek Indonesia mencatat,  pertumbuhan investor ritel mencapai  rekor dalam sejarah. Saat ini terdapat 448.717 Single Investor Identification (SID) investor dengan rentang usia 18-25 tahun hingga 10 Desember 2020.

Efek GameStop, Komunitas Ritel Goyang Pasar Saham Meluas

Jumlah tersebut setara 43% dari total jumlah investor baru, yakni 1,21 juta investor. Komunitas ritel yang tergabungan dalam berbagai forum saham juga menjamur di Indonesia. Mereka saling berbagi informasi dan pengetahuan untuk melakukan jual beli saham.

Media sosial, seperti youtube dan instagram menjadi lahan bagi mereka untuk menyebarkan informasi, juga melalui whatspp group. Ada yang murni untuk edukasi, tapi banyak juga yang bertujuan untuk mempengaruhi investor ritel berkatagori minim literasi.

Geger! Komunitas Ritel Goyang Pasar Saham, Benarkan Fenomena Ini Meluas?

Selebritas, tokoh agama, dan public figure saat ini sering membuat rekomendasi saham tanpa didasari oleh analisa yang mumpuni. Yang memprihatinkan jika fenomena ini dipakai untuk menaikkan harga saham tertentu dan tanpa memberitahu exitnya sehingga banyak sangkuters.

Ketika pasar bearish, banyak investor mengumpat merasa dikerjain “bandar”. Pasar saham di Indonesia juga bergerak dengan volatilitas sangat tinggi, dan banyak investor pemula yang menjadi “korban” dari pergerakan sangat liar. Tak heran kisah pilu investor ritel Indonesia yang curhat di media sosial pun mudah dijumpai.  

Bagi pemegang saham yang berfluktuasi tinggi, seperti saham KAEF, INAF, IRRA, sekarang hanya bisa mengelus dada karena terus menerus ARB. Demikian juga saham BUMI, pingsan dalam sepekan ini entah kapan siumannya. Postingan BUMI tidak lagi datar diubah kembali datar.

Sangat disayangkan jika banyak korban berjatuhan dari investor ritel karena tidak paham risiko trading di pasar modal. Mereka hanya terbawa emosi, ikut teman, atau bahkan ikut tokoh idolanya. Yang lebih disayangkan lagi, banyak investor pemula yang tergiur cuan dari saham dengan menggunakan dana pinjaman dan ketika pinjaman jatuh tempo mereka kelimpungan sehingga jual paksa saham-sahamnya.

Fenomena bersatunya investor ritel dalam komunitas sangat diperlukan untuk tujuan saling mengedukasi, bukan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Para pemain besar hendaknya juga tidak menjadikan bursa saham seperti arena “judi online” yang akhirnya mengacaukan pasar, merontokkan analisa fundamental dan teknikal yang seharusnya menjadi pegangan dalam berinvestasi.

Wall Street Anjlok Terseret GameStop

Semoga kekacauan ini cepat berlalu. Literasi dan edukasi, serta pengawasan perdagangan yang baik akan menciptakan iklim pasar modal yang sehat. Jangan sampai darah segar dari masuknya investor ritel justru membawa bencana, sebaliknya  harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan inklusi keuangan.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN