Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pengunjung melihat pergerakan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Seorang pengunjung melihat pergerakan saham di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Drama BBRI, BMRI, BBNI, BBCA Saat Pre-Closing

Kamis, 27 Mei 2021 | 20:29 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Anjloknya harga saham-saham bank blue chip, seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBCA pada akhir sesi perdagangan, Kamis (27/5/2021) membuat investor kaget bukan kepalang. Drama saham-saham tersebut terjadi pada saat pre-closing ketika diguyur aksi jual oleh sejumlah broker, antara lain berkode KZ (PT CLSA Sekuritas Indonesia) yang menyebabkan saham-saham itu jatuh pingsan.

BBRI, misalnya, pada detik-detik terakhir penutupan pukul 14.50 WIB masih berada di level Rp 4.150 menguat dibanding pembukaan pada Rp 4.140. Bahkan BBRI sempat ke level tertinggi hari ini Rp 4.190 atau naik 1,2%. Namun saat pre-closing dibanting pada harga Rp 3.950, anjlok 2,71% dibanding pembukaan sesi.

Berdasarkan data RTI, top seller BBRI adalah KZ yang mengguyur aksi jual senilai Rp 181,8 miliar. Ternyata, kejadian BBRI juga melanda BBNI yang juga pingsan, jatuh 3,29% diguyur aksi jual oleh KZ senilai Rp 12,6 miliar.

Setali tiga uang, saham BMRI dibuat jatuh 2,54%, saat pre-closing dengan Top seller dilakukan oleh AK (PT UBS Sekuritas Indonesia) dengan guyuran jual Rp 25,4 miliar. Sementara itu, BBCA turun 1,34% dengan net sell terbesar adalah DX (PT Bahana Sekuritas) sebesar Rp 8,8 miliar.

Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, yang juga menjadi mentor komunitas Investa, Hasan Zein Mahmud, mempertanyakan fairness dari sistim pre-opening dan pre-closing yang diaplikasikan BEI.

Ia pernah mempunyai pengalaman buruk berkali kali dengan pre opening. "Ketika order jual saya - yang diinput di sitim broker saat dini, jauh sebelum jam perdagangan dimulai - tidak tertampung dalam transaksi, padahal harga pembukaan yang terjadi lebih tinggi dari order jual saya," ujarnya.

Penjelasan informal pimpinan BEI menyatakan keadaan itu terjadi karena latensi di sistim pialang. Padahal pialang yang dipakai Hasan Zein adalah salah satu pialang papan atas. "Begitu kerdilkah kapasitas sistim suatu broker papan atas," tanyanya.

Ia pun akhirnya menerima dengan pasrah. "Orang akan menertawakan saya bila saya ngotot, saat kepentingan saya terkait di dalamnya."

Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud. Foto: IST
Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta yang juga menjadi mentor Investa, Hasan Zein Mahmud. Foto: IST

Dibanting Saat Pre-closing

Tapi peristiwa tutup pasar sore ini, walau tidak berkaitan dengan saham saham dalam portfolionya, menurut dia sangat dramatis dan sungguh menggiriskan. "Empat saham bank besar - penggerak IHSG - dibanting habis pada saat pre closing, menggunakan keunggulan mereka. Keunggulan dalam skala memberi peluang mereka menjadikan sistim pre-closing sebagai mainan."

Saham BBCA, - saham dengan kapitalisasi paling besar - yang lagi menanjak, diseret turun dari harga sekitar Rp 32.400 sebelum pre closing ke 31.350 menggunakan sistim pre closing.

"Dari hijau berubah seketika menjadi merah. Hal serupa terjadi juga pada saham BBRI, BMRI, dan BBNI. Empat bank berkapitalisasi paling besar di BEI, sebelum demam bank digital jadi pandemi para spekulan saham," ujarnya.

Ia mengaku mengenal serba sedikit cara kerja Dutch Auction yang digunakan BEI pada pre-opening dan pre-closing. Dalam sistim itu, dari beberapa harga yang matched, diambil harga dengan peredaran paling banyak. Paling Banyak!

"Saya ulangi kata paling banyak. Jelas mereka yang memiliki stock saham lebih besar dan uang lebih banyak, dengan leluasa menentukan harga melalui sistim itu," ujarnya. Kesengajaan itu semakin kentara, karena pialang yang melakukan "guyuran" di empat saham itu adalah pialang yang sama.

Hasan Zein, selama ini berpegang teguh pada keyakinan bahwa well-functioning stock exchange, adalah bursa yang atomic. Ketika tak satu pihak pun yang mampu - secara individual - menentukan harga.

Mentor Investa itu siap turun gunung, menyusun konsep bursa yang lebih adil itu, bila pemerintah dan otoritas membuka pintu. Peristiwa tutup pasar hari ini, Kamis 27 Mei 2021 menunjukan bahwa lempar dadu menjajnjikan outcome yang lebih adil.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN