Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri BUMN sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Erick Thohir dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Menteri BUMN sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Erick Thohir dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Era Baru Pembiayaan Syariah di Indonesia

Kamis, 18 Maret 2021 | 08:43 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Menteri BUMN sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Erick Thohir, mengatakan potensi Indonesia dengan penduduk muslim terbesar merupakan keunggulan untuk mewujudkan era baru pembiayaan syariah.

"Meski Indonesia sedikit terlambat menerapkan sistem keuangan syariah dibandingkan negara lain, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar memiliki keunggulan tersendiri," katanya dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Ia berharap, industri keuangan syariah di Indonesia mampu menjawab semua tantangan dan mampu mengubah peluang menjadi pertumbuhan secara prudent dan sustainable.

Menurut Erick, jasa keuangan syariah di Indonesia tumbuh cukup pesat meskipun di tengah pandemi. Pertumbuhan aset perbankan syariah pada 2020 meningkat sebesar 10,9%, lebih tinggi dari bank konvensional hanya 7,7%. Begitu juga dengan dana pihak ketiga, perbankan syariah mengalami peningkatan sebesar 11,56%, sementara bank konvensional tumbuh 11,49%.

“Dari sisi pembiayaan perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan terbesar 9,4% , jauh mengungguli perbankan konvensional yang hanya tumbuh sebesar 0,55%," katanya. Ini menunjukkan bahwa keuangan syariah mulai bangkit.

Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, kata dia, juga mendapat banyak apresiasi dunia internasional sepanjang 2020. Seperti Islamic Finance Development Report 2020 yang menempatkan Indonesia pada ranking kedua secara global dan Global Islamic Economy Indicator 2020 yang menempatkan Indonesia pada posisi empat secara global.

Untuk mencapai target tersebut, Erick menjelaskan bahwa diperlukan koordinasi yang kuat antara seluruh stakeholder termasuk koordinasi dengan komunitas dan kelompok keagamaan.

Konsep Bagi Hasil

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia TBK Hery Gunardi menyebutkan bahwa kinerja perbankan syariah di tengah pandemi COVID-19 masih dapat tumbuh cukup baik karena menerapkan konsep bagi hasil yang tidak dimiliki bank konvensional.

“Di syariah tentunya konsep bagi hasil atau kami namakan profit dan loss sharing ini memberikan fleksibilitas, baik pemilik dana maupun perbankan untuk bisa melakukan adjusment pada saat kondisi kurang menguntungkan,” ujarnya.

Hery mengungkapkan bahwa di 2020 pertumbuhan aset perbankan syariah dan dana pihak ketiga (yoy) masih tumbuh hingga dua digit angka. “Dari sisi aset masih tumbuh double digit sebesar 13,11% pada 2020, di sisi dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,88%, pembiayaan juga tumbuh positif sebesar 8,08%,” kata dia.

Hery menyadari bahwa penetrasi bank syariah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang mencapai angka 29%, maupun negara di kawasan timur tengah seperti Saudi Arabia yang menembus angka 63%.

Dengan penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 209,1 juta orang dan didukung sejumlah aspirasi yang telah disampaikan pemerintah untuk memperkuat peran industri keuangan syariah, pihaknya optimistis Bank Syariah Indonesia bisa sesegera mungkin memasuki jajaran 10 besar bank syariah dunia.

Pembicara lainnya, Iwan S Lukito, Durut PT Sri Rejeki Isman Tbk, mengatakan perbankan syariah bisa melakukan kolaborasi dengan korporasi dalam memberikan pendampingan kepada UMKM, sehingga apa yang telah ditargetkan oleh Pemerintah dapat terwujud secara merata.

Hal senada diungkapkan salah satu peserta diskusi Francisca Sestri Anggota ISEI Jakarta dan Dosen STIE Insan Pembangunan Tangerang. Ia menyoroti soal Brand Syariah yang terlanjur tidak modern dan terkesan lambat dalam menghadapi tantangan digitalisasi era industri 4.0. "Industri keuangan syariah perlu menjawab tantangan masyarakat yang membutuhkan pelayanan serba cepat. Perlu strategi yang serius bila ingin mencapai pertumbuhan lebih dari dua digit tersebut," katanya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN