Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Diskusi secara virtual dengan tema

Diskusi secara virtual dengan tema "Analisa Fundamental dan Prospek Emiten" yang diselenggarakan BNI Sekuritas bekerja sama dengan Komunitas Investa, Sabtu (25/7/2020)

Investasi Saham Bukan Gambling

Sabtu, 25 Juli 2020 | 20:12 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Pasar saham makin diminati oleh masyarakat di tengah kehidupan new normal akibat pandemi Covid-19. Sayangnya, banyak masyarakat masuk ke pasar saham tidak dibekali pengetahuan yang cukup sehingga jual beli saham cenderung spekulatif.

"Investasi saham di pasar modal itu bukan gambling (judi). Jadi investor harus tahu saham-saham yang akan dibeli dan bagaimana prospeknya," kata Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, dalam diskusi secara virtual yang mengambil tema "Analisa Fundamental dan Prospek Emiten”. Diskusi tersebut diselenggarakan oleh BNI Sekuritas bekerja sama dengan Komunitas Investa, Sabtu (25/7/2020).

Menurut Hari Prabowo, analisa fundamental dan prospek emiten adalah salah satu bagian terpenting guna menentukan pilihan saham dalam investasi di bursa.

Analisa Fundamental adalah analisa kinerja perusahaan masa lalu yang sudah terjadi dan mendasarkan pada laporan keuangan. Sedangkan Prospek Emiten adalah analisa untuk memprediksi kinerja perusahaan masa yang akan datang dengan mendasarkan pada:
1. Kondisi perekonomian
2. Peraturan / kebijakan Pemerintah
3. Kinerja & rencana kerja
4. Aksi korporasi
5. Manajemen
6. Kondisi tertentu

Dengan demikian investor perlu mengetahui kinerja masa lalu melalui analisa fundamental dan prospek emiten sehingga bisa mendapatkan pilihan saham yang baik serta memprediksi harga saham pada waktu yang akan datang.

mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud yang kini menjadi mentor Komunitas Investa.
Mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud yang kini menjadi mentor Komunitas Investa.

Analisis Fundamental

Sementara itu, mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta Hasan Zein Mahmud mengatakan bahwa investasi pada dasarnya berorientasi pada masa depan. "Menganalisa masa lalu untuk dipakai menganalisa masa depan," jelas Hasan Zein yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Analisis fundamental, kata dia, mengalami kesulitan karena investor banyak yang tidak rasional. Padahal fundamental berangkat dari investasi yang dilakukan secara rasional. "Ini merupakan kelemahan sekaligus kekuatan dari analisis fundamental," katanya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya investor mempunyai horison investasi yang bisa dibagi dalam empat kuadran:

1. Kondisi buruk dan prospeknya juga buruk.

2. Kondisi bagus tetapi prospeknya buruk.

3. Kondisi buruk tapi prospeknya bagus.

4. Kondisi bagus dan prospeknya bagus.

"Dalam memilih saham, saya menyukai kuadran 3 dan 4. karena ada potensi kenaikan kinerja perusahaan yang nantinya berkorelasi terhadap harga," jelasnya.

Salah satu obyek investasi yang menarik, menurut Hasan Zei, adalah saham perusahaan yang kondisinya saat ini masih rugi tetapi memiliki peluang yang besar untuk memperoleh laba.

Peluang tersebut ditunjang antara lain:

- Ditemukan produk baru atau deposit untuk perusahaan tambang.

- Reorientasi bisnis.

- Kenaikan harga produk.

- Merger dan akusisi.

- Teknologi yang membantu efisiensi sehingga menurunkan biaya produksi.

- Ekspansi dan skala ekonomis.

- Perbaikan struktur modal

- Kebijakan pemerintah.

- Lain-lain.

Hasan Zein Mahmud memberikan tips untuk investor pemula:

1. Tetapkan tujuan dalam berinvestasi.

2. Jangan menggunakan uang fondation atau tabungan. Pakai dana yang memang diperuntukkan untuk investasi di saham.

3. Jangan menggunakan pinjaman, fasilitas margin trading, dan short selling.

4. Pilih saham-saham yang akan dibeli, sekitar 4 saham untuk investasi dan satu saham untuk trading. Alasannya, jika portfolio terlalu banyak menjadi tidak fokus.

5. Jangan menghabiskan semua peluru, karena investor membutuhkan dana untuk menghadapi tren dengan average down jika saham yang dibelinya turun, atau sebaliknya.

6. Perlu diperhatikan tata kelola perusahaan dari saham yang akan dibeli.

7. Investor perlu memahami rasio-rasio, termasuk indikator ekonomi. "Indikator ekonomi seperti lampu aladin, yang bisa dipakai untuk meramal masa depan," katanya.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN