Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, ketika memberikan sharing edukasi tentang Window Dressing kepada komunitas investor saham bekerjasama dengan BNI Sekuritas,

Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, ketika memberikan sharing edukasi tentang Window Dressing kepada komunitas investor saham bekerjasama dengan BNI Sekuritas,

Kiat Memilih Saham Saat Musim Window Dressing

Senin, 23 November 2020 | 06:39 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Perburuan saham-saham yang berpotensi menjadi target window dressing (WD) semakin marak menjelang pengujung tahun. Hal ini terlihat dari reli saham-saham minggu, meskipun pada akhir pekan mengalami koreksi secara teknikal, sebuah koreksi wajar setelah harga naik cukup tingi.

"Investor jangan sampai melewatkan kesempatan untuk memilih saham yang tepat agar bisa memanfaatkan momentum window dressing untuk mendapatkan keuntungan maksimal," kata Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, ketika memberikan sharing edukasi kepada komunitas investor saham bekerjasama dengan BNI Sekuritas, belum lama ini.

Hari Prabowo memberikan kiat-kiat dalam memilih saham yang kemungkinan besar menjadi target WD:

1. Pilih saham yang mempunyai fundamental bagus dan secara year to date (YTD) harganya sudah rendah dibandingkan rata-rata pada tahun ini.

2. Pilih saham kategori 'blue chip' baik dari BUMN maupun emiten yang dikendalikan oleh grup besar karena saham tersebut biasanya mempunyai bobot perhitungan terhadap IHSG yang tinggi, termasuk saham perbankan papan atas.

3. Pilih saham yang banyak dimiliki oleh reksa dana dan investor institusi. Saham blue chip umumnya menjadi komposisi utama portofolio para Reksa Dana sehingga Manajer Investasi memiliki kepentingan untuk ikut "mendorong" terjadinya "window dressing" atas saham.

4. Saham BUMN juga berpotensi terjadi WD karena peforma perusahaan salah satunya juga dilihat dari kenaikan kapitalisasi pasar atas saham tersebut.

Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, ketika memberikan sharing edukasi tentang Window Dressing kepada komunitas investor saham bekerjasama dengan BNI Sekuritas,
Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, ketika memberikan sharing edukasi tentang Window Dressing kepada komunitas investor saham bekerjasama dengan BNI Sekuritas,

Menurut Hari Prabowo, WD terjadi karena sejumlah pihak memang mempunya kepentingan dengan naiknya harga saham, mulai dari Manajer Investasi (MI), institusi pengelola dana seperti asuransi, dana pensiun, BPJS yang berinvestasi juga dalam portfolio saha, serta emiten itu sendiri.

Ia menjelaskan, kenaikan harga saham terutama yang ada dalam keranjang portofolionya tentu akan "memoles" kinerjanya yang tercermin dalam Nilai Aktiva Bersih (NAB) bagi Manajer Investasi sebagai pengelola reksa dana.

Emiten, kata Hari Prabowo, juga suka jika harga saham perusahaannya naik meski mereka tidak secara langsung menikmati aliran kas bagi perusahaan.Namun kenaikan harga ini bisa mengangkat performa dan kepentingan untuk aksi korporasi lebih lanjut.

Demikian pula Pemerintah akan lebih senang jika IHSG bisa tumbuh karena IHSG juga merupakan salah satu tolok ukur pertumbuhan ekonomi. "Window dressing lazimnya terjadi pada akhir tahun bersamaan dengan akhir bulan pelaporan tahunan para pengelola dana tersebut," ujarnya.

Investor, kata dia, harus jeli menyikapi kemungkinan datangnya musim WD sehingga bisa memanfaatkan peluang "temporer" ini dengan sebaik-baiknya sehingga bisa meraih "cuan" akhir tahun yang optimal.

Sementara itu, mentor Investa Hasan Zein Mahmud mengatakan, emiten,sekurangnya memiliki lima kepentingan terhadap kinerja sahamp erusahaannya sendiri / pusahaan asosiasi pada penutupan tahun buku.

(1) Reputasi. Indikator kinerja yangg paling ditunggu pemegang saham dan para eksekutif pemegang opsi.

(2) Pos marketable securities, penyertaan sementara pada perusahaan lain

(3) Potensi laba non-operasi dari penjualan kembali saham treasury

(4) Menentukan timing right issue, private placement

(5) Timing pelaksanaan waran dan efek konversi lain

Saham Lapis Dua

Lantas bagaimana dengan saham "lapis dua dan tiga"? tidak menutup kemungkinan saham-saham ini juga mempunyai peluang WD dan bahkan bisa mengalami kenaikan yang sangat signifikan dalam hari terakhir perdagangan di bursa.

"Jadi investor bisa mulai mengoleksi saham pilihan tersebut sejak akhir November dan menunggu sampai akhir perdagangan bulan Desember," katanya. Biasanya, harga sahamnya akan "ditarik" pada detik-detik terakhir perdagangan atau periode jam "pra penutupan".

Ia mengingatkan, perlunya memilih saham yang mempunyai fundamental dan prospek bagus, karena apabila ternyata saham tersebut tidak terjadi WD, investor masih bisa menunggu dengan kenaikan yang wajar.

Meskipun saat ini terjadi euforia menyambut WD, Hari Prabowo tetap mengingatkan investor agar berhati-hati. Sebab,bisa saja beberapa pihak juga malah tidak menghendakinya jika MI dan investor kakap dalam posisi "full cash".

"Mereka tentu menghendaki harga saham kembali turun agarbisa belanja dengan harga yang lebih murah," katanya.

Hari berharap tahun ini musim WD akan bersemi seiring kembali masuknya dana-dana asing ke bursa Indonesia, sentimen vaksin dengan tingkat keberhasilan dari uji coba di atas 94%, data-data ekonomi Indonesia yang menunjukkan tren pemulihan, serta makin banyaknya dana segar masuk ke bursa sahm melalui investor ritel.

Sejumlah saham yang menurut Investa patut dicermati sebagai target WD antara lain.

1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Secara YTD harganya masih minus sekitar 18,24%

2. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

Secara YTD harganya masih minus sekitar18,89%

3. PT Adhi Karya Tbk (ADHI)

Secara YTD harganya masih minus sekitar 23,13%

4. PT Astra International Tbk (ASII)

Secara YTD harganya masih minus sekitar 17,23%

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN