Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nadia Hasnah  Humaira, ambassador dari Padusi.id, sebuah wadah anak muda Indonesia untuk berbincang, tukar pikiran dan menyerap ilmu dari sederetan narasumber inspiratif yang sudah berkarya secara nyata. ( Foto: Istimewa )

Nadia Hasnah Humaira, ambassador dari Padusi.id, sebuah wadah anak muda Indonesia untuk berbincang, tukar pikiran dan menyerap ilmu dari sederetan narasumber inspiratif yang sudah berkarya secara nyata. ( Foto: Istimewa )

Komitmen dan Konsistensi Kunci Keberlanjutan 'Sociopreneur'

Selasa, 13 April 2021 | 09:44 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Disrupsi teknologi yang dipercepat dengan disrupsi akibat pandemi Covid-19 bisa menjadi peluang bagi para pelaku sociopreneur untuk berkembang dan membesarkan gerakan. Namun ada syaratnya, yakni komitmen dan konsistensi. Tanpa kedua prinsip tersebut, mustahil gerakan nirlaba akan berkelanjutan, dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.

Demikian kesimpulan dari acara “Sociopreneur Discussion Series Talk” yang dibawakan oleh Nadia Hasnah Humairah, dengan ditemani nara sumber Ainun Chomsun, founder gerakan sosial “Akademi Berbagi” pada Senin (12/4).

Nadia mengawali diskusi dengan mengungkapkan rasa syukur atas merebaknya minat anak muda sebagai sociopreneur, yang terjun langsung dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Mengamini rasa syukur Nadia, Ainun menegaskan bahwa spirit sociopreneur pada dasarnya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Bangsa ini, ucapnya, dibangun dengan semangat gotong royong dan spirit saling membantu.

“Sekarang saja kita menyebutnya keren, relawan. Tapi sebenarnya spirit itu sudah menjadi wisdom yang diwariskan orang-orang tua kita dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nadia dalam siaran pers.

Diakui oleh Ainun bahwa fenomena media sosial menjadi pupuk subur tumbuh dan berkembangnya sociopreneur di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun yang memprihatinkan, dari ribuan gerakan sosial yang tumbuh di tanah air, banyak yang tidak mampu bertahan lama.

“Banyak anak muda yang peduli dan terjun langsung itu bagus. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana membangun system yang benar agar socialpreneur yang mereka rintis bisa berkembang dan berdampak signifikan. Di situlah kunci keberlangsungan sebuah greakan sosial,” kata Ainun yang mulai mengamati perkembangan tersebut sejak menginisiasi gerakan “Akademi Berbagi” yang diawali melalui percakapan di Twitter pada 2010.

Ditambahkan Ainun, indikator keberhasilan dari sebuah gerakan sosial adalah perubahan sosial. Untuk memperoleh hasil yang nyata maka para pelaku sociopreneur harus bisa memastikan siapa yang akan menjadi target, dan seperti apa dampak nyata yang dihasilkan.

“Kalau ada yang nasibnya berubah, itu dampak nyata yang terlihat. Dan itu jauh lebih penting daripada popularitas dan publikasi yang memberikan ilusi seolah-olah kita sudah besar,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait perkara biaya operasional yang sering menjadi masalah keberlangsungan sebuah gerakan sosial, kata Ainun, seharusnya tidak menjadi masalah karena Akber pun terbentuk nyaris tanpa modal.

“Kami tidak berangkat dari biaya. Untuk tempatnya, bisa pinjam fasilitas gratis milik perusahaan, café, resto, bahkan balai RW atau di pantai untuk belajar. Karena kami justru ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa belajar harus tersekat di institusi resmi. Bagi kami yang penting ada guru dan murid, maka semua bisa terlaksana,” ujar dia.

Ainun mengakui, mengelola relawan sebagai motor gerakan agar mampu berkembang menjadi agen perubahan bukan perkara mudah. Bagaimana pun juga, para relawan itu tidak mendapatkan imbalan dalam aktivitas mereka.

Oleh karenanya guna mempertahankan komitmen dan konsistensi para relawan, kuncinya menurut Ainun adalah bagaimana mereka merasa mendapatkan manfaat dari kerelawanann mereka. Di Akber sendiri, hal ini ditempuh dengan berbagai program pembekalan, workshop dan mentoring serta gathering.

“Pendekatan kepada relawan harus benar-benar mempertimbangkan sentuhan kemanusiaan. Menyitir wisdom Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hajar Dewantara, bahwa seorang pemimpin dalam gerakan sosial harus mampu bertindak ‘Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’. Itulah pekerjaan rumah besar bagi setiap gerakan sosial untuk mempertahankan eksistensinya,” kata Ainun.

Sebagai informasi, Sociopreneur Discussion Series merupakan talk show online (daring) yang diselenggarakan Padusi setiap pekan pada Senin pagi. Nadia sendiri merupakan ambassador dari Padusi.id, wadah anak muda Indonesia untuk berbincang, tukar pikiran dan menyerap ilmu dari sederetan narasumber inspiratif yang sudah berkarya secara nyata.

Sedangan Akademi Berbagi (Akber) yang tahun ini memasuki usia ke-11, adalah gerakan sosial nirlaba yang bertujuan berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya.

Inisiasi Akber berawal dari percakapan di media sosial Twitter. Karena programnya mudah diduplikasi, keberadaan Akber pun berkembang pesat. Kendati lebih banyak berkembang dari mulut ke mulut melalui jaringan pertemanan antar komunitas, saat ini Akber sudah berkembang di 40 kota di seluruh Indonesia dengan lebih dari 600 orang relawan dan memiliki alumni peserta lebih dari 15.000 orang. Bukan sekadar berbagi ilmu, mereka juga berbagi soft skill dan mengembangkan jaringan agar bisa bersinergi dalam membuat perubahan baik di setiap lingkungan masing-masing.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN