Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Buku Nukilan Tarikh, karya Hazan Zein Mahmud.

Buku Nukilan Tarikh, karya Hazan Zein Mahmud.

BEDAH BUKU

Nukilan Tarikh, Investasi Hati Hasan Zein Mahmud

Minggu, 20 September 2020 | 20:57 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Perenungan mantan Dirut Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, di Yogyakarta tentang kehidupan manusia, gelora cinta, dan emosi, membuahkan sebuah buku apik yang diberi judul Nukilan Tarikh.

Buku ini merupakan kontemplasi dirinya dari kejenuhan karena selama ini lebih banyak menyoroti masalah keuangan, khususnya pasar modal.

"Saya sudah banyak menulis artikel yang lebih mengedepankan aspek intelektual. Buku ini merupakan demensi lain dari diri saya yang terpendam, yang suka menulis, bersajak, dan juga merenungkan aspek kemanusiaan," katanya dalam "Ngopi Sore" secara virtual, Minggu (20/9/2020).

Ia sangat berharap, buku ini bisa membuat pembacanya bergetar. Rasa yang sama ketika ia membaca buku tentang sejarah Islam yang ditulis oleh sahabat-sahabat Rasullulah Muhamad SAW.

Menurut dia, Buku Nukilan Tarikh merupakan investasi hati. "Investasi hati adalah kebajikan. Kebajikan adalah investasi yang tak pernah gagal," ujarnya.

Ia menjelaskan, buku Nukilan Tarikh adalah cerita pendek, sangat ringan tentang sahabat-sahabat Nabi Muhammad yang perlu ditauladani.

Cerita sahabat-sahabat Nabi Muhammad, kata Hasan Zein, telah menarik dirinya dalam dimensi imajiner, menembus ruang dan waktu, masuk ke dalam masa itu, dan membangkitkan gelora emosinya.

Cerita dari sahabat nabi, seperti Umar bin Khattab, sangat mengesankan hatinya. Contoh pemimpin yang perlu diteladani dan begitu menyayangi rakyatnya.

"Kalau rakyat kenyang, saya adalah yang terakhir merasakan kenyang. Sebaliknya kalau rakyat lapar, maka saya harus yang pertama merasakan kelaparan itu," ujar Umar. Kalimat itu membuat emosi Hasan Zein bergetar, karena syarat makna.

Juga cerita seorang ibu yang harus memasak batu untuk menghibur anak-anaknya yang kelaparan hingga anak tersebut tertidur lelap dengan menahan lapar.

Ia sangat berharap cerita-cerita pendek ini bisa menginspirasi, setidaknya menjadi perenungan, dan bisa menggetarkan emosi bagi yang membacanya.

Bagi dia, Islam adalah akhlak, kebajikan. Sayangnya, nilai-nilai luhur itu kini telah tereduksi oleh banyak kepentingan.

Hasan Zein mengatakan bahwa dia bukanlah ahli agama. Jadi buku Nukilan Tarikh semangatnya adalah mengobarkan nilai tentang pentingnya membangun akhlak yang baik.

Menurut dia, jika Islam ingin kembai berjaya maka harus kembali ke akhlak, bukan hadir dalam panji-panji dan bendera-bendera. Sebab, Islam bukan bendera tetapi perilaku yang baik sehingga banyak orang bisa merasakan kehadiran Islam.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN