Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirut PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) Periode 992-1996 Hasan Zein Mahmud menjadi salah satu pembicara dalam sharing discussion bertema

Dirut PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) Periode 992-1996 Hasan Zein Mahmud menjadi salah satu pembicara dalam sharing discussion bertema "Mengenal dan Menghindari Fraud di Pasar Modal" yang diselenggarakan LP3M Investa, di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Pakai UU Pasar Modal untuk Tuntaskan Kasus "Goreng" Saham

Kamis, 6 Februari 2020 | 18:35 WIB

JAKARTA, Investor.id – Penyelesaikan kasus "goreng" saham yang berbuntut pada ambruknya asuransi PT Jiwasraya (Persero), dan sejumlah perusahaan asuransi lain, serta manajer investasi hendaknya jangan menggunakan pidana biasa dan pidana korupsi, tetapi menggunakan pidana pasar modal.

Pasalnya, jika menggunakan pidana biasa dan pidana korupsi bisa saja pelaku akan lolos karena masalah "goreng-menggoreng" saham sulit untuk dideteksi. Tetapi jika menggunakan UU Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) jelas disebutkan sanksinya, yakni ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar.

Dirut PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 992-1996 Hasan Zein Mahmud menegaskan, pasal 92 UU Pasar Modal menyebutkan bahwa setiap pihak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pihak lain dilarang melakukan transaksi efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga menyebabkan harga efek di bursa naik atau turun dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan efek.

"Minimalkan pendekatan politik dan keamanan dalam menyelesaikan kasus di pasar modal," katanya dalam sharing discussion tentang "Mengenal dan Menghindari Fraud di Pasar Modal" yang diselenggarakan oleh LP3M Investa, di Jakarta, Kamis (6/2/2020). Diskusi tersebut menghadirkan pembicara Ketua LP3M Investa Hari Prabowo, Direktur Pemeriksaan Riset Pengembangan PPATK Ivan Yustiavandana, mantan Dirut BEJ Hasan Zein Mahmud, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015-2018 Hamdi Hassyarbaini.

Sejak kasus gagal bayar PT Jiwasraya mencuat, hingga kini dampaknya masih dirasakan oleh pelaku pasar modal di Indonesia. Ketika bursa saham global berkembang, Indeks Saham Harga Gabungan (IHSG) belum mampu bangkit, bahkan pada pentupan perdagangan hari ini masih berada di bawah level 6.000. Kasus Jiwasraya membuka pandora tentang "goreng-menggoreng" saham yang mengakibatkan sejumlah perusahaan asuransi, dana pensiun, dan manajer investasi rugi banyak, bahkan beberapa di antaranya mengalami gagal bayar produk yang dijualnya.

"Masalahnya di perusahaan asuransi tapi episentrumnya ada di pasar modal," kata Hasan Zein. Terkuaknya kasus "goreng" saham ini mengakibatkan rontoknya kepercayaan investor terhadap pasar modal. Tak sedikit investor retail yang belajar nabung saham menjadi korban berupa penurunan harga aset-aset yang diinvestasikan dalam bentuk saham.

Hasan Zein menekankan saran-saran khusus untuk penyelesaian kasus agar kepercayaan investor terhadap pasar modal pulih kembali yakni orientasi penyelesaian diutamakan kepada perlindungan korban yang tidak bersalah. Selain itu, hukuman denda kepada pelaku uangnya bisa dipakai untuk ganti rugi kepada korban, tidak ke kas negara tetapi

Sejumlah saran lain juga diusulkan sebagai solusi dari runtuhnya kepercayaan terhadap pasar modal.

Solusi Tingkat Mikro

1. Perbaiki siklus operasi: desain produk, konstruksi portfolio dan efisiensi pengelolaan internal.

2.Pelihara integritas, tingkatkan skill (cara menghindari rayuan gombal yang menjanjikan return tinggi)..

3. Mengelola portfolio sendiri lebih ekonomis: front end fee, back end fee, biaya MI, kustodian, akuntan, konsultan hukum,update prospektus dll.

4. Susun standar operasi (SOP) investasi dan peluncuran produk.

5. Perbaiki kualitas transparansi dan komunikasi dengan nasabah.

Solusi Tingkat Makro

1. Hapuskan batasan alokasi reksadana.

- Aturan ini memaksa perusahaan untuk menjual produk yang bagus dan/atau membeli produk yang buruk.

- Satu saham prospektif lebih berharga daripada 10 saham busuk.

- Yang penting jujur, profesional dan bertanggungjawab.

2. Perhitungkan unrealized gain/loss dalam evaluasi NAB akhir periode atau buka kesempatan cut loss.

3. Atur repo

- Hanya untuk tujuan jangka pendek, overnight maksimal 2 minggu.

- Minimal jaminan, mark to market.

- MI diperbolehkan repo untuk tujuan pembayaran redemption.

- Tidak untuk pemegang saham pengendali.

4. Adopsi ketentuan larangan short swing untuk orang dalam.

5. Perbaiki mekanisme penjatahan di pasar perdana.

6. Bentuk fungsi spesialis di pasar sekunder saham dan market pada surat berharga negara (SBN):

- Menyediakan likuiditas.

- Membantu pembentukan harga yang wajar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA