Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tarsius, yang juga disebut monyet hantu karena matanya besar seperti burung hantu. Perimata mungil yang  memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun, Belitung.FOTO: Defrizal/Beritasatu.

Tarsius, yang juga disebut monyet hantu karena matanya besar seperti burung hantu. Perimata mungil yang memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun, Belitung.FOTO: Defrizal/Beritasatu.

Pesona Tarsius di Bukit Peramun

Listyorini, Selasa, 12 November 2019 | 11:49 WIB

Belitung, investor.id – Salah satu daya tarik Bukit Peramun di Belitung adalah hidupnya satwa langka, yakni tarsius yang juga disebut monyet hantu karena matanya besar seperti burung hantu. Perimata mungil yang memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun dan sering keluar pada saat senja hingga malam hari.

Menurut Ketua Komunitas Arsel sekaligus penanggung jawab Desa Binaan Bukit Peramun Adie Darmawan, terdapat sekitar 80 tarsius di area hutan Bukit Peramun. "Kami membuat empat zona pengaman untuk hewan tarsius karena mereka sulit berkembang biak, " katanya kepada wartawan belum lama ini. Bukit Peramun merupakan desa binaan PT Bank Centra Asia (BCA) Tbk.

Dalam acara Kafe BCA on The Road, wartawan diajak "berburu" untuk melihat tarsius. Hewan mungil itu sangat menggemaskan. Badannya sebesar tikus, tetapi bentuknya seperti monyet, dan matanya seperti burung hantu. Anehnya lagi, lehernya bisa berputar 270 derajat, seperti tidak ada tulangnya. Matanya tidak berkelopak sehingga tidak boleh dilihat lebih dari 10 menit karena jika terlalu lama matanya bisa berair. Untuk itu, jika ingin mengabadikan tarsius melalui foto, tidak diperbolehkan menggunakan blits karena akan mengagetkan hewan tersebut.

Tidak mudah menemukan hewan langka di areal hutan seluas 115 hektar. Namun, penduduk setempat mempunyai cara-cara khusus untuk memanggil tarsius. Menunggu dari senja, baru sekitar pukul 7 malam petugas menemukan hewan tersebut. Itu pun hanya satu ekor, sehingga pengunjung harus sangat hati-hati mendekatinya. "Tidak boleh berisik karena akan mengagetkan," kata petugas.

Pengunjung pun mengendap-endap untuk melihat tarsius yang bertengger di pohon. "Tarsius adalah hewan monogami. Mereka hanya punya satu pendamping, tak bisa kawin lagi apabila pasangannya mati sehingga perkembangbiakannya sangat sulit," ujar petugas.

Tarsius Belitung berbeda dengan yang menghuni hutan Sulawesi. Ia tidak tinggal di lubang-lubang pohon, tetapi di bawah kanopi dedaunan. Istimewanya lagi, ia memiliki telinga yang mampu mengolah gelombang ultrasonik. Karena itu, jarang sekali terdengar suaranya, paling hanya menggeram.

Pesona Bukit Peramun.

Bukit Peramun Belitung yang telah diresmikan beberapa waktu lalu oleh BCA memiliki keunikan yang secara tidak langsung menarik antusiasme wisatawan. Pasalnya, di bukit tersebut tumbuh beragam tanaman lokal yang sering diramu oleh masyarakat menjadi obat-obatan. Desa ini terletak pada ketinggian 129 mdpl di wilayah Belitung Barat. Kekayaan flora dan fauna, dikembangkan dalam berbagai lokasi spot foto antara lain rumah hobbit, jembatan merah, batu kembar dan mobil terbang.

Bukit Peramun menawarkan wisata alam, wisata edukasi, dan wisata petualangan. "Satu hal lain yang menjadi keunggulan Bukit Peramun yaitu mengaplikasikan teknologi virtual guide untuk lebih memanjakan pengunjungnya dalam berwisata,” kata Executive Vice President Corporate Social Responsibility (CSR) PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Inge Setiawati

Desa ini juga dikenal sebagai desa berbasis digital, karena keberhasilan pengurus desa dalam mengaplikasikan sistem QR Code untuk memperkenalkan jenis dan manfaat tanaman di Bukit Peramun, dan virtual guide dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). "Konsep digital dikembangkan agar wisatawan tertarik mengenal kekayaan flora dan fauna Belitung. Karena terdengar aneh, banyak yang penasaran dan datang mengunjungi Bukit Peramun," kata Adie Darmawan. Sejumlah keunikan wisata Bukit Peramun, antara lain bukit tersebut sudah ditetapkan sebagai geopark Belitung, ada 147 jenis pohon, 8 jenis anggrek, tanaman lumut, kaolin, berbagai jenis burung, dan yang paling membuat penasaran wisatawan adalah binatang tarsius.

Menurut Inge, BCA tertarik untuk membina wisata Bukit Peramun karena keindahan alam, budaya, dan warisan leluhur Indonesia yang orisinil sehingga perlu terus digaungkan karena merupakan kekayaan bangsa. "BCA menyadari pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia dan memiliki posisi strategis dalam peningkatan devisa negara," katanya. Wujud nyata peran dan dukungan BCA, kata Inge, dilakukan dengan pendampingan dalam penguatan kapasitas dan SDM di desa binaan Bukit Peramun Belitung. Model pengembangan komunitas lokal yang dilakukan BCA, kata dia, selalu bertumpu pada potensi lokal yang belum dikembangkan secara maksimal. Kehadiran BCA, melalui program desa binaan, membantu masyarakat lokal agar mampu mengembangkan potensi daerahnya menjadi sumber ekonomi yang menjanjikan di masa mendatang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA