Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah, Fachrul Razi (dua kanan), dalam FGD dengan tema

Wakil Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah, Fachrul Razi (dua kanan), dalam FGD dengan tema "Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan di Papua" yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, Selasa 26 November 2019. ( Foto: Beritasatu / Joanito De Saojoao )

Ubah Paradigma dalam Memandang Papua

Beritasatu.com, Rabu, 27 November 2019 | 12:27 WIB

Jakarta, Invetor.id – Wakil Ketua Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fachrul Razi meminta pemerintah mengubah paradigma dalam melihat Papua. Jangan gunakan kacamata atau cara pandang 30 tahun lalu untuk melihat kondisi dan persoalan Papua saat ini.

“Harus ada perubahan mindset dari pemerintah pusat. Jangan gunakan paradigma yang sama 30 tahun lalu untuk saat ini,” kata Fachrul dalam Focus Group Discusion (FGD) bertema "Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan di Papua" di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Selain Fachrul, tampil sebagai pembicara adalah Wakil Ketua DPD Letjen TNI (Purn) Nono Sampono, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Akmal Malik, Ketua Pansus Papua Filep Wamafma, Direktur Eksekutif Papua Center Universitas Indonesia Bambang Shergi Laksmono dengan moderator Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu.

Fachrul melihat pemerintah masih memakai mekanisme top down (dari atas ke bawah) dalam membangun Papua. Apa yang dibangun di Papua ditentukan pemerintah pusat. Padahal partisipasi masyarakat Papua seharusnya diprioritaskan. Hal itu agar Papua bisa bertransformasi menuju propinsi yang maju dan unggul.

Senator dari Provinsi Aceh ini melihat di Papua sedang berjalan bonus demografi. Jika di provinsi lain baru menikmati bonus demografi, Papua sudah menikmati sejak lima tahun lalu. Bonus demografi ini berupa lahirnya generasi baru Papua. Mereka adalah generasi milenial, selalu menggunakan sosial media (sosmed) dalam berkomunikasi, dan peka terhadap isu-isu berkembang.

Para generasi muda Papua ini memiliki interaksi yang luas, tidak hanya lokal dan nasional tetapi juga internasional. Generasi ini yang mempengaruhi perkembangan Papua sekarang ini. “Ini menunjukan bahwa Papua sekarang tidak sama dengan Papua 15 atau 30 tahun lalu. Maka menangani Papua saat ini tidak bisa memakai cara lama seperti 30 tahun lalu,” tutur Fachrul Razi.

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA