Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, saat menjadi pembicara dalam sharing discussion tentang

Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, saat menjadi pembicara dalam sharing discussion tentang "Mengenal dan Menghindari Fraud di Pasar Modal" yang diselenggarakan oleh LP3M Investa, di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Waspadai IPO Abal-abal

Listyorini, Jumat, 7 Februari 2020 | 14:52 WIB

JAKARTA, Investor.id - Terkuaknya sejumlah kasus kejahatan di pasar modal mengingatkan investor untuk berhati-hati dalam berinvestasi. Ketua LP3M Investasi, Hari Prabowo, mencermati sejumlah modus palanggaran di pasar modal.

Setidaknya ada empat modus yang perlu diperhatikan agar terhindar dari praktik kejahatan di pasar modal. "Waspadai, ada juga IPO abal-abal," kata Hari dalam sharing discussion tentang "Mengenal dan Menghindari Fraud di Pasar Modal" yang diselenggarakan oleh LP3M Investa, di Jakarta, Kamis (6/2/2020). Diskusi tersebut menghadirkan pembicara Ketua LP3M Investa, Hari Prabowo, Direktur Pemeriksaan Riset, Pengembangan PPATK Ivan Yustiavandana, mantan Dirut BEJ Hasan Zein Mahmud, Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018 Hamdi Hassyarbaini.

Empat modus yang dimaksud adalah.

1. IPO (initial public offering) abal-abal.

2. Menggunakan instrumen repurchase agreement (REPO).

3. "Penggorengan" harga saham di bursa.

4. Mempengaruhi keputusan manajer investasi.

Terkait IPO abal-abal, Hari menjelaskan, modusnya dengan membuat perusahaan yang di-go publikan melalui mekanisme IPO dengan tujuan mengeruk dana masyarakat. Saat IPO, distribusi dilakukan secara "kongkalingkong" antara emiten dan underwriter (penjamin emisi) sehingga pihak tertentu ("bandar") yang menguasai sahamnya.

"Di pasar reguler, harga saham "digoreng"naik tinggi sehingga investor publik tertarik dan membeli pada harga yang sudah sangat tinggi," katanya. Setelah sahamnya mayoritas dibeli publik, proses "penggorengan" dihentikan dan harganya turun lagi. Lebih fatal lagi, setelah itu perusahaan dibangkrutkan dan akhirnya delisting dari lantai bursa.

Sementara itu, modus kejahatan dengan menggunakan instrumen REPO, biasanya dilakukan "bandar" dengan mengeluarkan surat kontrak REPO, yaitu menjual saham dengan janji untuk membeli kembali. Tetapi pada akhirnya wanprestasi.

Modus "penggorengan" saham, kata Hari, dilakukan dengan menggunakan skema distribusi dengan tujuan agar investor publik tertarik masuk ke saham tersebut pada harga tinggi, dengan demikian "bandar" bisa menjualnya.

Modus "penggorengan" saham juga dilakukan dengan menggunakan multi-rekening. "Bandar" membuat nominee beberapa pihak untuk melakukan transaksi di bursa sehingga frekuensi nampak tinggi, tetapi sebenarnya dimotori oleh satu pihak, menjurus ke pasar semu. "Setelah saham bandar habis, mereka menghentikan proses penggorengan saham hingga akhirnya saham turun lagi. Semua transaksi dilakukan seakan-akan tidak melanggar peraturan perdagangan di bursa," katanya.

Modus lainnya adalah dengan mempengaruhi keputusan manajer investasi. Caranya, "bandar" mempengaruhi dan mengendalikan manajer investasi (MI), baik pemilihan saham, transaksi, sampai mengatur harga sahamnya. "Untuk modus ini, targetnya tidak hanya investor perorangan, lebih utama adalah institusi yang mengelola dana besar," katanya. Pada saat tertentu, NAB (nilai aktiva bersih) semakin diturunkan dan investor mengalami kerugian.

Kiat Menghindari Kejahatan

Agar terhindar dari praktik kejahatan tersebut, Hari Prabowo memberikan kiat-kiatnya:

1. Jangan mudah tertarik dengan tawaran-tawaran yang menjanjikan "return" tinggi.

2. Jangan mudah tertarik pada saham yang tiba-tiba frekuensi dan transaksinya naik tinggi secara mendadak.

3. Pilih perusahaan yang mempunyai fundamental dan prospek yang baik, termasuk jenis usahanya dan siapa pengendali dan manajemennya.

4. Jika dikelola MI, perhatikan track recordnya, sistem pengelolaannya, siapa MI nya.

5. Terus belajar mengedukasi diri sendiri, atau pegawai tentang analisa-analisa investasi sehingga bisa menjadi manajer investasi untuk diri sendiri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA