Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Multipolar Tbk (MLPL). Foto: multipolar-gorup.com

PT Multipolar Tbk (MLPL). Foto: multipolar-gorup.com

John Riady Ungkap Transformasi Multipolar Menuju Ekosistem Digital Nasional  

Selasa, 14 September 2021 | 15:54 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady secara terbuka mengungkapkan proses transformasi yang kini dilakukan PT Multipolar Tbk (MLPL), salah satu anak perusahaan Lippo Group menuju ekosistem digital nasional. 

Sebagai perusahaan terbuka, Multipolar dikenal sebagai salah satu pemain utama di bidang jasa telekomunikasi, industri teknologi informasi, dan perdagangan umum seperti jasa impor, ekspor, hingga pengembangan properti.  

John menuturkan, sejak beberapa tahun terakhir, perseroan telah berinvestasi dan menjalankan portofolio bisnis digital di Indonesia maupun Asia Tenggara, antara lain melalui Ruang Guru, OVO, Klinik Pintar, Zillingo, Sociola,  Grab, dan lain-lain.

“Kemajuan teknologi informasi selain mengubah gaya hidup masyarakat, juga  menciptakan disrupsi di berbagai  lini ekonomi.

Pertumbuhan  transaksi digital  yang meningkat tajam telah menciptakan peluang-peluang baru untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama  ekonomi digital dunia,” kata John melalui keterangan tertulis, pada Selasa (14/9/2021).

John Riady
John Riady

Dikatakan, disrupsi digital yang terjadi saat ini akan berdampak sangat besar bagi pengembangan lanskap perekonomian di tingkat nasional maupun global.

“Sejak lama, saya melihat adanya gelagat pertumbuhan dan efek dari perkembangan industri teknologi informasi di sektor ekonomi,” jelas John.

Berbagai lembaga riset maupun institusi pemerintahan, kata John, memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia akan meningkat berlipat kali dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan itu tercermin pada  total transaksi digital yang dikontribusikan sektor e-commerce  yang mencapai Rp1.600 triliun.

Pertumbuhan signifikan itu makin terpacu seiring adanya pandemi Covid-19, yang memaksa masyarakat melakukan berbagai macam aktivitas secara digital.

“Ke depan, saya melihat bahwa pertumbuhan semakin besar ditopang oleh jumlah populasi dan penguatan infrastruktur digital yang dibangun  pemerintah. Dan, pada fase ini, Indonesia berpeluang besar untuk tampil sebagai pemain terdepan dan tidak lagi sekadar menjadi  sasaran pasar  perusahaan-perusahaan teknologi asing,” kata John.

Kebutuhan Domestik

John Riady.
John Riady.

John mengungkapkan, Indonesia mempunyai basis kuat untuk menghadirkan  perusahaan-perusahaan teknologi rintisan sebagai jawaban atas  kebutuhan domestik dan  meningkatkan kemampuan berkolaborasi di bidang  investasi maupun strategi pengembangan bisnis.

“Kalau tujuh tahun lalu, jumlah valuasi semua perusahaan teknologi di Indonesia masih sekitar mencapai US$ 60 juta, sekarang menjadi  US$ 60 miliar, naik 1.000 kali lipat. Terus terang, waktu berinvestasi di Grab,  kami hanya menyediakan dana sekitar US$ 50.000.” jelas John Riady saat menjadi pembicara pada  webinar  bertajuk “Investing In The Future Of Indonesia: Technology & Consumer,” akhir pekan lalu.

John yang kini menempati posisi penting di Lippo Group, menyatakan tekadnya untuk  secara konsisten menerapkan  strategi digital dalam membangun usahanya.

Dia mengaku, strategi bisnis berbasis digital diterapkan di  Lippo Group setelah mendapat kepercayaan dari  pendiri Lippo Group, Mochtar Riady dan ayahnya, James Riady.

Kini, strategi digital diterapkan Lippo Group melalui salah satu anak usahanya yaitu PT Multipolar Tbk dengan berinvestasi di sejumlah 40 perusahaan teknologi.

“Sejak 4 tahun terakhir, kami secara berkesinambungan melakukan reposisi bisnis,” tegas John.

Di sisi lain, John menilai kemajuan ekonomi digital di Indonesia yang kini berada dalam tahap permulaan akan terus meningkat. Saat ini, valuasi  aru berkisar Rp 1.000 triliun dari yang seharusnya telah menyentuh angka Rp 3.000 triliun.

“Kalau merujuk pada perkembangan teknologi  seperti di Tiongkok, tempat  lahirnya raksasa teknologi Alibaba dan Tencent, di sana  telah memunculkan reinvestasi yang tumbuh pesat. Saya yakin, Indonesia juga akan mengarah ke sana,” ujarnya.

Menurut John, dengan mengandalkan kendaraan investasi Venture Capital di bawah bendera Multipolar, pihaknya menerapkan empat strategi yang memberikan nilai lebih kepada Lippo Group.

Strategi pertama adalah investasi dilakukan sejak awal perusahaan teknologi dibentuk dan membutuhkan pertolongan modal. “Dalam tahap ini, kami ingin sama-sama belajar dan mengenal secara dalam para perancang teknologi tersebut,” kata John.

Kedua, strategi investasi di perusahaan-perusahaan yang telah mapan dan besar, terutama entitas perusahaan terbuka atau pre-initial public offering (IPO). “Perusahaan-perusahaan rintisan  seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Gojek, karena mereka mendominasi pasar,” jelas John.

Strategi ketiga adalah berperan sebagai mitra lokal strategis perusahaan-perusahaan raksasa digital dari luar negeri. Untuk yang satu ini, John telah terbukti dengan mengembangkan OVO sebagai alat pembayaran digital bersama Grab.

Strategi keempat yaitu membangun networking dengan perusahaan-perusahaan digital. Seperti kerja sama sukses antara Tokopedia dengan jaringan ritel Matahari.

“Di  lain sisi, transformasi Multipolar diikuti dengan rancangan pendanaan yang cukup kuat.  Kami mengandalkan sumber investasi dari profit dan dividen dari internal Multipolar. Jadi, bagi investor Multipolar, kami selalu terbuka dan berkomitmen memajukan perusahaan pada era digital ini,” kata John.

Lebih jauh, John mengungkapkan bahwa lanskap bisnis era digital tidak bisa dilakukan secara fragmentasi maupun parsial. Kemunculan perusahaan teknologi pun masih membutuhkan infrastruktur bisnis konvensional.

“Inilah mengapa Alibaba membeli department store atau di sini Tokopedia bermitra dengan Matahari,” jelas dia.

Terkait  kemunculan superapps dalam bisnis digital, ia menilai hal ini sebagai sebuah keniscayaan. Berbeda dengan perkembangan di Amerika Serikat, di mana tidak satupun raksasa teknologi di sana mencapai tingkat yang mendominasi secara ekstrem seperti WeChat di Tiongkok.

“Di Tiongkok ada dua raksasa, yaitu Alibaba atau Tencent, semua perusahaan rintisan mengikuti langkah dua ‘gajah’ itu. Ada yang beruntung mendapatkan pendanaan dan kerja sama dari kedua perusahaan itu juga,” kata John.

Sedangkan untuk Indonesia, John menilai tidak lepas dari tiga kubu besar yakni Gojek (GoTo), Grab, dan Shopee. Namun pada prakteknya, Multipolar ingin dan mampu berkolaborasi dengan semua grup bisnis digital tersebut.

“Kalau dari sisi operasional, selayaknya menerapkan omnichannel yang mengawinkan layanan digital dan fisik, karena biar bagaimanapun transaksi belanja misalnya, sekitar 60% dilakukan offline. Sedangkan untuk model pengembangan, yang terbaik adalah kolaborasi untuk membangun ekosistem yang kuat,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN