Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Primo Foodmart, salah satu gerai di bawah PT Matahari Putra Prima (MPPA) Tbk. Foto: mppa.co.id

Primo Foodmart, salah satu gerai di bawah PT Matahari Putra Prima (MPPA) Tbk. Foto: mppa.co.id

Matahari Putra Prima Incar Dana Rights Issue Rp 890 Miliar

Rabu, 13 Oktober 2021 | 16:15 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) akan menggelar penawaran umum terbatas (PUT VI) atau rights issue guna menambah modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 1,17 miliar lembar saham biasa atas nama atau saham baru dengan nilai nominal Rp 50 setiap saham yang ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp 760 setiap saham. Jumlah tersebut mewakili sebanyak-banyaknya 13,46% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PUT VI.

Alhasil, dari aksi korporasi ini emiten yang menjalankan perdagangan pakaian-pakaian jadi, makanan, minuman dan barang-barang lainnya termasuk minimarket, supermarket, hypermarket, toko modern, waralaba dan usaha yang sejenis termasuk perdagangan farmasi, obat-obatan dan alat-alat kesehatan baik dalam partai besar dan eceran tersebut akan mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya Rp 890,11 miliar.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip, Rabu (13/10), seluruh dana yang diperoleh dari PUT VI setelah dikurangi biaya-biaya dalam rangka PUT VI ini akan digunakan untuk tiga hal. Pertama, sekitar 16,9% akan digunakan untuk membayar sebagian pokok utang perseroan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).

Kepada BNI, melalui PUT VI, perseroan akan membayarkan Rp 105 miliar dengan rincian Surat Sanggup (Promes) periode 20 Juli – 23 Oktober 2021 senilai Rp 55 miliar dan 23 Agustus – 22 November 2021 Rp 50 miliar. Adapun, total saldo utang setelah dilakukan pembayaran akan menjadi Rp 395 miliar dari posisi  Rp 500 miliar per 7 Oktober 2021. Sedangkan, kepada CIMB Niaga, perseroan akan membayarkan Rp 45 miliar dengan rincian Promes 8 Oktober 2021 – 7 Januari 2022 senilai Rp 45 miliar. Sehingga saldo utang setelah dilakukan pembayaran akan menjadi Rp 205 miliar dari Rp 250 miliar per 7 Oktober 2021.

Kedua, 8,5% akan digunakan untuk belanja modal antara lain untuk renovasi toko, pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan omni-channel, serta ekspansi toko baru. Ketiga, 74,6% akan digunakan untuk modal kerja antara lain untuk keperluan peningkatan kualitas persediaan melalui pembelian barang dagangan dari pemasok.

‘Apabila dana hasil PUT VI tidak mencukupi untuk membiayai modal kerja perseroan akan mencari sumber pembiayaan lainnya, antara lain melalui penambahan fasilitas kredit yang didapatkan dari perbankan. Apabila perseroan tidak berhasil mendapatkan seluruh dana hasil PUT VI yang diharapkan, urutan prioritas penggunaan dana secara berurutan adalah untuk pembayaran sebagian pokok utang, belanja modal dan modal kerja perseroan,’ tulis manajemen.

Adapun risiko dalam hal dana yang diperoleh dari PUT VI tidak sesuai rencana adalah modal kerja perseroan tidak akan berada dalam posisi yang optimum untuk mendukung strategi ritel perseroan ke depan dikarenakan adanya keterbatasan dalam memperoleh barang-barang dagangan yang dibutuhkan dari pemasok. Kemudian, apabila perolehan dana dari PUT VI tidak sesuai rencana maka manajemen perseroan memiliki rencana untuk membatasi modal kerja.

‘Di samping itu, perseroan berupaya untuk memaksimalkan perputaran arus kas dari hasil operasional ritel dan memperoleh alternatif tambahan sumber pendanaan baru dari perbankan dan kreditur,’  tambah manajemen.

Adapun setiap pemegang 45 saham biasa atas nama yang namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada tanggal 7 Desember 2021 pukul 16.15 WIB akan mendapatkan 7 HMETD di mana 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru dengan nilai nominal Rp 50 setiap saham, dengan harga pelaksanaan Rp 760 setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan pemesanan pembelian saham.

Saham yang akan diterbitkan dalam rangka PUT VI ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). HMETD dapat diperdagangkan di BEI serta di luar selama 5 hari bursa mulai tanggal 9-10 Desember 2021 dan 13-15 Desember 2021. Pencatatan saham baru MPPA hasil pelaksanaan HMETD akan dilakukan di BEI pada tanggal 9 Desember 2021. Tanggal terakhir pelaksanaan HMETD adalah tanggal 15 Desember 2021 sehingga HMETD yang tidak dilaksanakan pada tanggal tersebut tidak berlaku lagi.

Apabila saham baru yang ditawarkan dalam PUT VI ini tidak seluruhnya diambil atau dibeli oleh pemegang saham atau pemegang HMETD, maka sisanya akan dijatahkan secara proporsional berdasarkan atas jumlah HMETD yang dilaksanakan oleh masing-masing pemegang saham yang meminta penambahan saham berdasarkan harga pemesanan kepada pemegang HMETD lainnya yang melakukan pemesanan lebih besar dari haknya.  Pemegang saham MPPA yang tidak melaksanakan rights issue ini sesuai porsi sahamnya, maka proporsi kepemilikan sahamnya akan mengalami penurunan atau terdilusi sampai dengan maksimal 13,46%.

Adapun, setelah HMETD, komposisi pemegang saham MPPA ialah PT Multipolar Tbk (MLPL) 36,04%, Anderson Investment Pte. Ltd. 14,8%, PT Aplikasi Karya Bangsa (Gojek) 5,49%, investor HMETD 8,16%, dan masyarakat 35,51%.

Lebih lanjut, bertindak sebagai pembeli siaga sehubungan dengan PUT VI ini adalah PT Multipolar Tbk (MLPL). Multipolar sebagai pemegang saham utama akan melaksanakan seluruh HMETD sampai dengan Rp 720 miliar atau setara 369.985.381 saham baru. Apabila pembeli siaga membeli sisa saham yang tidak dilaksanakan oleh pemegang saham perseroan maka total kepemilikan pembeli siaga pada perseroan adalah sebesar 39,24%.

Emiten yang mengoperasikan toko Hypermart, Foodmart Primo, Smart Club, Hyfresh dan Boston Health & Beauty, serta FMX tersebut membukukan pencapaian penjualan yang solid selama kuartal II-2021. Dalam periode tersebut, perseroan mampu mencatatkan penjualan kotor (gross sales) lebih dari Rp 2 triliun atau tumbuh 16,2%, serta penjualan online yang tumbuh 21,3% dibandingkan dengan kuartal II-2020. Kenaikan penjualan juga sejalan dengan data NielsenIQ, yang menyebutkan pangsa pasar Matahari Putra Prima terus tumbuh dan mencapai 24,1% di pasar ‘supermarket dan hypermarket’. Bertransformasi ke bisnis offline to online (O2O), mampu membawa perseroan untuk mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif di kuartal II-2021.

 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN