Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung sebuah pusat perbelanjaan melintas di depan ATM Centre bank BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung sebuah pusat perbelanjaan melintas di depan ATM Centre bank BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Market Cap BCA Menuju Rp 1.000 Triliun

Kamis, 14 Oktober 2021 | 13:02 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id) ,Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id — Kapitalisasi pasar (market cap) PT B ank Central Asia Tbk (BCA) berpotensi menembus Rp 1.000 triliun, setelah pada penutupan perdagangan Rabu (13/10) kemarin mencapai Rp 918 triliun dan makin memantapkan posisinya dalam jajaran puncak market cap Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setelah mendapatkan persetujuan jadwal stock split dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Bank Central Asia (BBCA) secara resmi diperdagangkan dengan harga baru pada Rabu (13/10) kemarin. Perseroan menggelar aksi korporasi pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5, yaitu satu saham lama dipecah menjadi lima saham baru. Nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp 62,5 dipecah menjadi Rp 12,5.

Sedangkan harga saham setelah stock split berada di level Rp 7.325, dari posisi penutupan perdagangan Selasa (12/10) di harga Rp 36.600 per saham.

Pada tahun 2004, kapitalisasi pasar BBCA Rp 36,251 triliun. Peringkat keempat setelah TLKM, ASII, dan BMRI. Dihitung sejak 2004, nilai kapitalisasi pasar BBCA naik 25,5 kali. Kapitalisasi pasar saham BBCA sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa Rp 1.017 triliun setelah saham ini menyentuh level tertinggi baru Rp 8.250 per saham pada perdagangan intraday sesi pertama di BEI pada Rabu (13/10). Namun pada akhir perdagangan sesi kedua, saham BBCA ditutup di level Rp 7.525 atau naik Rp 200 (2,73%) per saham.

Nasabah melakukan transaksi di KCU Bank BCA Kebayoran Baru, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di KCU Bank BCA Kebayoran Baru, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Penguatan harga saham BBCA tersebut menjadikan kapitalisasi pasar perseroan jauh meninggalkan pesaingnya yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang berada di urutan kedua dengan kapitalisasi pasar Rp 642 triliun, peringkat ketiga PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 373 triliun, peringkat keempat PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp 328 triliun, dan peringkat kelima PT Astra International Tbk (ASII) sebanyak Rp 254 triliun.

Sementara itu, total market cap di BEI mencapai Rp 8.015 triliun. Sedangkan di jajaran perbankan kawasan Asia Tenggara, BCA menempati urutan teratas dengan market cap sebesar US$ 64,7 miliar.

Kemudian, disusul oleh DBS Group Holding Ltd (US$ 58,3 miliar), Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI (US$ 45,2 miliar), Overseas-Chinese Banking Corp (US$ 39,5 miliar), dan United Overseas Bank Ltd (US$ 33,1 miliar).

Kinerja IHSG saat tutup sesi II Rabu sore (13/10/2021). Sumber: BSTV
Kinerja IHSG saat tutup sesi II Rabu sore (13/10/2021). Sumber: BSTV

Pada perdagangan Rabu (13/10) kemarin, IHSG ditutup menguat IHSG menguat 50,64 poin atau 0,78% ke posisi 6.536,9 di tengah berlanjutnya aksi beli investor asing.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 13,9 poin atau 1,47% ke posisi 960,51. Secara year to date (ytd), IHSG menguat 9,33% dan LQ45 sebesar 2,74%.

Sementara itu, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 1,2 triliun dan secara ytd sebesar Rp 28,85 triliun.

Berdasarkan data RTI, saham BBCA memimpin jajaran lima saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai pada perdagangan kemarin. Disusul saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

Sementara itu, saham-saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan volume dipimpin saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang disusul PT Multipolar Tbk (MLPL), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC), dan PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK).

Presiden Direktur Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja
Presiden Direktur Bank Central Asia Jahja Setiaatmadja

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, keputusan perseroan untuk melakukan pemecahan harga saham tersebut didasarkan pada perkembangan pasar modal saat ini, terutama dengan tingginya minat investor ritel termasuk para investor muda untuk berinvestasi di pasar modal.

Perseroan berharap aksi korporasi ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan pasar modal dalam negeri.

“Dengan harga baru yang mulai diperdagangkan hari ini, perseroan berharap harga saham BCA menjadi relatif terjangkau dan mendapat sambutan positif dari investor, terutama investor pemula yang saat ini aktif berinvestasi di pasar modal,” jelas Jahja dalam keterangannya, Rabu (13/10).

Perseroan berkomitmen untuk selalu menjaga soliditas fundamental BCA melalui pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, sehingga memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham.

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST
Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST

Sementara itu, Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, market cap BBCA bisa menyentuh angka Rp 1.000 triliun. Namun, dia berpendapat kemungkinan itu bisa tahun depan, sedangkan untuk tahun ini masih dilihat dulu perkembangannya seperti apa karena BCA baru saja melakukan stock split.

“BCA ini kan baru saja melakukan stock split, kemudian BRI juga habis melakukan rights issue. Ini mereka balapan lagi sebetulnya, tapi saham BBCA biasanya lebih besar dari saham BBRI,” ujar Kiswoyo kepada Investor Daily, Rabu (13/10).

Kiswoyo menyampaikan, IHSG ke depanya sudah tidak menggunakan market cap lagi melainkan free float, dimana ada pembatasan maksimal 100 saham paling besar 9%, sehingga saham BBCA ada penurunan dari 11% menjadi 9% dan BBRI ada sedikit kenaikan dari 7% menjadi 9% bobotnya.

Sementara itu, untuk target harga BBCA tahun ini menurut Kiswoyo sudah terlewat, dimana saham BBCA ditargetkan mencapai harga 7.600. Dia memandang bahwa saham BBCA akan mengalami koreksi terlebih dahulu.

Adapun koreksinya diperkirakan berada di posisi 6.600.  BBCA ini secara harga sudah melebihi ekspektasi, jadi harus turun dulu. Dalam kurun waktu dua bulan ke depan seharunya saham BBCA terkoreksi dulu seiring dengan target IHSG kami berada di 6.800. IHSG juga saat ini sudah berada di sekitar level 6.500 dan ada potensi koreksi ke 6.200-6.100. Kemudian, di Desember nanti biasanya akan hijau,” ujar dia.

Perkembangan harga saham BCA
Perkembangan harga saham BCA

Kiswoyo menambahkan, kinerja BCA sejauh ini sangat baik meskipun di tengah kondisi pandemi Covid-19, hal ini bisa dilihat dari NPL perseroan yang tetap rendah. Apalagi tahun ini pamdemi Covid-19 sudah mulai reda dan tahun depan sudah lebih baik.

Apabila investor ingin melakukan pembelian saham BBCA, Kiswoyo merekomendasikan untuk melakukan strategi buy on weakness dan menunggu saham BBCA mengalami pelemahan.

Kiswoyo memproyeksikan IHSG bisa berada di level 6.800. Adapun sektor yang akan mendorong kinerja indeks tersebut adalah perbankan dan konsumer.

Sementara saham yang dapat dilirik adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII), dengan menunggu saham-saham tersebut terkoreksi terlebih dahulu.

Sebelumnya, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya memproyeksikan laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA tahun ini sebesar Rp 29,92 triliun atau turun dari proyeksi sebelumnya Rp 33,28 triliun. Mirae juga merevisi perkiraan per tumbuhan kredit BCA dari 7,7% menjadi 5% pada tahun ini.

Nasabah bank melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BNI dan BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah bank melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BNI dan BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Proyeksi tersebut seiring pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, terutama terkait penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, penyaluran kredit menjadi sangat ketat, sedangkan likuiditas dalam kondisi yang sangat memadai.

Laba bersih BCA pada semester I-2021 mencapai Rp 14,5 triliun atau bertumbuh 18% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba ini disebabkan oleh basis perbandingan laba bersih yang lebih rendah pada kuartal II-2020, yang dipengar uhi oleh tingginya tingkat biaya kredit (cost of credit) saat awal pandemi pada kuartal II tahun lalu.

Sementara itu, total kredit tercatat stabil Rp 593,6 triliun pada Juni 2021. Penyaluran kredit ini didukung oleh segmen korporasi, kredit pemilikan rumah (KPR), dan kartu kredit. Tahun ini, BCA berharap pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 4-6%.

Hal ini ditopang oleh likuiditas yang masih memadai dan harapan akan pemulihan ekonomi, sehingga dapat mendorong permintaan kredit.

Pemegang Saham BCA

Pemegang saham BCA
Pemegang saham BCA

PT Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang 54,94% saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Adapun PT Dwimuria Investama Andalan dimiliki oleh duo bersaudara orang terkaya di Indonesia, Robert Budi Hartono dan Bambang Michael Hartono. Dengan menggenggam 54,94%, Budi dan Michael memiliki Rp 504,6 triliun dari total markaet cap BCA sebesar Rp 918 triliun.

Sedangkan publik menguasai 45,06% atau Rp 413,8 triliun, Djohan Emir Setijoso 0,09% (Rp 0,8 triliun),

Jahja Setiatmadja 0,03% (Rp 0,3 triliun), Suwignyo Budiman 0,03% (Rp 0,3 triliun), Tan Ho Hien/Subur Tan 0,01% (Rp 0,1 triliun), dan Tonny Kusnasi 0,01% (Rp 0,1 triliun).

Dalam jajaran 200 orang terkaya di dunia yang dirilis Forbes pada tahun ini, Budi Hartono berada di urutan 86 dengan total kekayaan US$ 20,5 miliar dan Michael Hartono dengan total kekayaan US$ 19,7 miliar. Keduanya juga menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia pada 2020 dengan bisnis besarnya yakni pabrik rokok Djarum, perbankan, dan elektronik. Hartono bersaudara membeli saham BCA dari Salim Group pada tahun 1997-1998 saat krisis ekonomi Asia terjadi.

Market Cap Bursa

10 Bank dengan Kapitalisasi Pasar terbesar
10 Bank dengan Kapitalisasi Pasar terbesar

Sementara itu, sebelumnya Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, market cap BEI tahun ini berpotensi menembus Rp 8.000 triliun yang didorong dengan faktor pemulihan ekonomi Indonesia.

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani
Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani

Sedangkan IHSG diprediksi tahun ini mencapai level 6.700-6.750 yang dipicu oleh faktor foreign inflow. “Market cap untuk berada di level tersebut harusnya tercapai. Secara perhitungan kasar, untuk IHSG di sekitar level 6.500 itu market cap seharusnya sudah 8.000,” ujar Hendriko.

Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas

Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas juga mengatakan bahwa market cap bursa tahun ini Rp 8.000 triliun seiring tren kenaikan indeks. Selain itu, didorong oleh faktor optimisme pasar dengan kondisi dalam negeri sendiri, dimana keberhasilan pemerintah menekan kasus Covid-19 dan vaksinasi yg terus berjalan.

“Faktor lainnya, aksi window dressing pada akhir tahun bakal menjadi alasan kenaikannya nanti,” ujar dia. (fur/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN