Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lokasi tambang milik PT PP Presisi Tbk

Lokasi tambang milik PT PP Presisi Tbk

Kuartal III 2021, Laba Bersih PPRE Naik 24% Menjadi Rp 344 Miliar.

Jumat, 19 November 2021 | 10:44 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – PT PP Presisi Tbk (PPRE) membukukan peningkatan laba bersih sebesar 24% menjadi Rp 344 miliar pada September 2021, dibanding periode yang sama tahun lalu yakni Rp 277 miliar. Pertumbuhan sebagian besar dikontribusi percepatan proyek selama PPKM.

"Selain percepatan proyek, pertumbuhan juga ditopang usaha peningkatan kinerja operasional jasa pertambangan," jelas Direktur Utama PP Presisi Rully Noviandar.

Selain kedua usaha tersebut, anak usaha perseroan yakni PT Lancarjaya Mandiri Abadi juga menyumbang pemasukan dari ventura bandara Dhoho, Kediri. Pada proyek ini, LMA menyumbang laba sebesar Rp 64 miliar. Dengan demikian, raihan itu mendorong laba bersih sebesar Rp 107,4 miliar meningkat 114,4% dibandingkan tahun lalu Rp 50,1 miliar. “EBITDA juga melesat menjadi sebesar Rp 693,4 miliar (9M21) meningkat 11,2% yoy dari Rp 623,7 miliar (9M20)," ujarnya. 

Total aset perseroan meningkat sebesar 1,4% dari Rp 6,9 triliun pada 31 Desember 2020 menjadi Rp 7,0 triliun per akhir 30 September 2021. Seiring, dengan peningkatan aset lancar sebesar 4,6% dari Rp 4,0 triliun 31 Desember 2020 menjadi Rp 4,2 triliun 30 September 2021. Serta, peningkatan Investasi pada ventura bersama sebesar 123,9% dari Rp 51,4 miliar pada akhir Desember 2020 menjadi Rp 115,1 miliar di 30 September 2021. 

Masih pada periode yang sama, jumlah utang PPRE dapat dipertahankan pada level Rp 2,0 triliun. Utang itu, dipergunakan untuk kebutuhan perseroan untuk pembiayaan capex pembelian alat berat yang digunakan untuk mendukung pertumbuhan perolehan proyek baru. 

Sementara itu, total ekuitas meningkat sebesar 3,1% dari Rp 2,8 triliun di Desember tahun lalu menjadi Rp 2,9 triliun diakhir 30 September 2021. “Selain berhasil meningkatkan kinerja operasional dan keuangan, margin laba usaha juga meningkat dari 17,4% di periode sembilan bulan 2020 menjadi 18,2% tahun ini," kata dia.

Pada kesempatan terpisah,  Direktur Keuangan PP Presisi Benny Pidakso mengatakan, ROA perseroan meningkat dari 1,0% menjadi 2,0%, dan ROE meningkat dari 2,4% menjadi 4,9%.

“Dengan demikian, ruang kami untuk melakukan leveraging masih terbuka sangat luas, karena rasio net debt to equity dapat dipertahankan di kisaran 0,8X. Terbukanya ruang leveraging yang besar, menjadi sangat penting bagi pengembangan mining services nikel yang telah terbukti pada peningkatan kinerja Perseroan," pungkas Benny.

Jasa Pertambangan

Tahun depan, PP Presisi siapkan belanja modal (capex) senilai Rp 500 miliar tahun 2022, seiring dengan fokus perseroan untuk memperkuat bisnis jasa pertambangan. Sedangkan realisasi kontrak baru perseroan hingga Oktober 2021 telah mencapai Rp 4,8 triliun.

Capex nantinya bersumber dari pinjaman perbankan dan hasil penerbitan obligasi korporasi yang direncanakan emisi pada semester I-2022. Total dana yang dirancang dari emisi tersebut berkisar Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.

Sebagian besar capex, akan digunakan untuk membiayai penambahan alat berat untuk penguatan sektor jasa pertambangan, sejalan dengan rencana kami tahun depan untuk lebih fokus pada jasa pertambangan terutama pada tambang nikel.

Keseriusan menggarap bisnis jasa pertambangan, ungkap Rully, didukung tren peningkatan permintaan nikel pada masa yang akan datang. Hal ini ditandai dengan kenaikan harga nikel dan juga gencarnya pembangunan smelter untuk memenuhi permintaan akan bahan baku baterai.

Ekspansi ke bisnis jasa pertambangan, tutur dia, juga didukung kontribusi margin dan cash flow dari bisnis tersebut tergolong baik. Bahkan, lebih baik ketimbang pada proyek infrastruktur. Apalagi pembayaran proyek jasa pertambangan umumnya lebih cepat. (fur)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN