Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)

Ekonomi Pulih, Spindo Optimistis Tumbuh 30% di 2022

Rabu, 24 November 2021 | 18:14 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id  - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo mengincar pertumbuhan penjualan sebanyak 30% tahun 2022. Target itu sejalan dengan percepatan pembangunan dan ekspektasi berlanjutnya pemulihan ekonomi.

Chief Strategy and Business Development Officer Steel Pipe Industry of Indonesia Johanes W Edward mengatakan, tahun 2022 akan menjadi tahun yang penuh dinamika dan peluang bagi perseroan. Industri tahun depan diperkirakan lebih baik, dibandingkan pencapaian tahun 2020, seiring dengan program pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur.

“Pertumbuhan juga akan didukung berekspansi perseroan dengan penambahan varian baru agar kebutuhan pasar domestik dapat terpenuhi,” jelasnya dalam webinar Economic Outlook 2022 Beritasatu Media Holdings, di Jakarta, Rabu (24/11).

Selain itu, perseroan tetap membuka peluang kerjasama, baik dengan pemerintah dan swasta, guna menggejot penjualan industri baja dalam negeri. Dengan kapasitas produksi yang mencapai 600 ribu ton per tahun, perseroan siap untuk berkontribusi baik dalam proyek infrastruktur migas dan non migas.

Perluasan Pasar

Terkait potensi pasar, Johanes W Edward mengatakan, perluasan pasar domestik Indonesia masih memiliki porspek besar dalam jangka panjang. Berdasarkan data World Economic Forum 2020, peringkat infrastruktur Indonesia pada 2019 berada di posisi 50 dari 141 negara.

Chief Strategy and Business Development Officer Steel Pipe Industry of Indonesia Johanes W Edward
Chief Strategy and Business Development Officer Steel Pipe Industry of Indonesia Johanes W Edward

Secara rinci, sektor infrastruktur Indonesia berada di posisi 72 dengan peringkat road connectivity berada pada posisi 109 dan peringkat pasar pada posisi 7. Hal tersebut menjadi peluang besar bagi industri baja dalam negeri.

Menurut Johannes, data itu menunjukan bahwa infrastruktur Indonesia menjadi titik lemah dalam bersaing dengan negara lainya. Hal ini mendorong pemerintah terus gencar mempercepat pembangunan infrastruktur yang baik, sehingga menjadi potensi pasar bagi industri baja nasional.

Tidak hanya itu, menurut dia, tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia masih sangat rendah, dibandingkan Myanmar sekalipun. Bahkan, Malaysia dan Thailand mencatatkan permintaan baja sebanyak 265 kilogram per kapita, dibandingkan Indonesia masih di level 59 Kilogram per kapita.

“Baja merupakan unsur penting dalam infrastruktur, karena 40% penggunaan baja dalam negeri itu berkaitan langsung dengan infrastruktur. Produk dari perseroan sendiri pada sektor infrastruktur sebanyak 64% dengan produk pipa baja las lurus, pipa spiral sampai dengan diameter 120 inch dengan berbagai lapisan yang diperlukan,” ujarnya.

Padahal, industri baja sendiri menjadi salah satu major industri yang menyumbang penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi. Berdasarkan data, dari studi Oxford Economies pada tahun 2017 menyebutkan, bahwa industri baja berkontribusi secara langsung sebanyak US$ 500 miliar dan menyediakan lapangan kerja bagi 6 juta orang di seluruh dunia.

Adapun secara tidak langsung, industri yang menggunakan baja dalam produksinya menghasilkan nilai tambah dengan total mencapai US$ 3 triliun dan memberikan lapangan kerja bagi 96 juta orang didunia, yang merupakan 3% dari angkatan kerja dan 3,5% dari PDB.

Atas kondisi tersebut, Johannes berharap, pemerintah dapat lebih berpihak pada pengusaha nasional dengan konsisten dalam penerapan pembatasan impor dan meningkatkan syarat TKDN. Selain itu, bantuan pemerintah dalam bentuk insentif juga diperlukan agar dapat lebih meudah mengembangan bisnisnya dan lebih mudah bersaing dengan para pengusaha asing. Hal ini, sudah lumrah dipraktekan oleh negara lain.

Steel Pipe Industry of Indonesia atau yang dikenal dengan Spindo sendiri sudah mengekspor 80% hasil produksinya ke Amerika Serikat (AS) dan Kanada sejak tahun 1999. Ekspor ini dimungkinkan, karena perseroan memiliki sertifikat UL dan FM pada produk yang pipa baja las. Sehingga, produk buatan perseroan tidak diragukan lagi kualitasnya di mata asing.

Soal sertifikasi, kata Johanes, juga diperlukan perhatian lebih dalam oleh pemerintah, selain memberikan bantuan pada operasional. Pasalnya, kerap ditemui produk dalam negeri maupun impor yang tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Karena kita tahu, hampir seluruh produk baja terkait dengan kekuatan dan faktor keamanan untuk ini standarisasi dan sertifikasi menjadi hal yang sangat penting apalagi dalam praktek yang masih banyak ditemui dalam masyarakat terjadi abuse atau produk yang tidak sesuai dengan standar, masih banyak ditemui produk pipa baja las, yang dijual jauh dari spesifikasinya dan sangat merugikan pembeli dan mengancam keselamatan pemakai,” kata dia.

Hal lain yang perlu perhatian lebih, yakni kebijakan anti dumping. Tingginya peluang pasar Indonesia dimanfaatkan oleh para pengusaha asing untuk melakukan impor. Banjirnya produk impor dalam negeri terutama pada baja dan turunanya membahayakan produk baja lokal.

“Masuknya komponen pipa baja dan turunannya yang tidak diatur secara tegas dalam kuota impor, seperti komponen sepeda, scaffolding, otomotif yang sebelumnya sudah bisa dibuat dari dalam negeri. Turut memberikan ancaman bagi para pelaku bisnis dari hulu dan midstream,” kata dia.

Terakhir, sebagai industri yang padat modal, para pengusaha baja memerlukan dukungan dari para pelaku keuangan seperti dari lembaga pembiayaan bank dan non bank, serta penjaminan termasuk dari pasar modal dan perbankan. Sayangnya, sering ditemukan pihak perbankan yang enggan memberikan pembiayaan pada pelaku industri baja karena dianggap menjadi sektor yang kurang diminati.

“Kami harapkan ke depan rekan-rekan dari perbankan dapat memberikan support dengan melihat kondisi internal perusahaan secara objektif. Dengan perkiraan pertumbuhan nasional 5,2-5,8% masih sangat besar ruang bagi para pengusaha baja di Indonesia untuk berkembang. Tentunya, hal ini harus dibarengi dengan improvement secara internal dari para pelaku baja,” ungkapnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN