Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dendy Kurniawan, CEO Grup Air Asia di Indonesia. Foto: Investor Daily/EMRAL

Dendy Kurniawan, CEO Grup Air Asia di Indonesia. Foto: Investor Daily/EMRAL

Air Asia Ekspansi dan Rambah Fintech

Gita Rossiana, Senin, 24 Juni 2019 | 22:57 WIB

JAKARTA - PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP) berencana ekspansi rute penerbangan ke wilayah Indonesia Timur dan mengembangkan teknologi keuangan (financial technology/fintech) pada tahun ini. Strategi tersebut dilakukan guna mendongkrak laba perseroan tahun ini.

Direktur Utama Air Asia Indonesia Dendy Kurniawan menjelaskan, pada tahun ini, perseroan akan membuka rute penerbangan ke kawasan Indonesia Timur seperti Lombok, Labuan Bajo dan Sorong. "Kami ingin menyasar ke daerah-daerah yang potensi wisatanya menarik dan belum terlayani,"kata dia usai acara public expose di Hotel Grandhika, Jakarta, Senin (24/6).

Dendy mengungkapkan, untuk Lombok, perseroan akan menjadikan kawasan tersebut sebagai hub kelima, di luar empat hub yang sudah dimiliki, yaitu Jakarta, Denpasar Surabaya dan Medan. Pada hub kelima ini, perseroan juga akan memarkir pesawat seperti di hub-hub sebelumnya dan juga membuka rute perjalanan baru.

Dendy berharap, dengan dibukanya jalur penerbangan dari dan menuju Lombok diharapkan bisa meningkatkan potensi wisata di daerah tersebut. Selain itu, perseroan juga bisa membantu mempercepat pemulihan akibat Gempa di Lombok beberapa waktu lalu.

Sementara untuk daerah lain, menurut Dendi, pihaknya masih sedang mendiskusikan dengan pemerintah terkait. "Untuk Lombok dan Labuan Bajo sudah diluncurkan, sedangkan Sorong sedang didiskusikan. Kami juga melihat Ambon memiliki potensi wisata yang menarik,"papar dia.

Selain menyasar kantong-kantong wisata, perseroan juga akan membuka rute ke daerah yang belum banyak penumpangnya, seperti Bandara Kertajati. Dendy menjelaskan, total ada sebanyak tujuh rute domestik baru yang akan dibuka tahun ini, yaitu Jakarta-Lombok, Bali-Labuan Bajo, Lombok-Jogja, Bali-Lombok, Surabaya-Kertajati dan rute lainnya.

Secara total, perseroan akan memiliki 43 rute baru tahun ini. Rute tersebut bertambah 26% dari 34 rute pada tahun 2018. Rute tersebut terdiri atas 26 rute internasional, yang bertambah 8% dari 2018 yang mencapai 24 rute. Selain itu, 17 rute domestik yang bertambah 80% dari 10 rute domestik pada tahun 2018.

Untuk mendukung pengembangan rute Lombok tersebut, perseroan berencana menambah 5 pesawat menjadi 29 pesawat tahun ini. Pesawat baru yang akan ditambahkan adalah jenis Airbus A320 dengan kapasitas 189 seat. Pengiriman tambahan pesawat pertama sudah dilakukan dan akan digunakan untuk menerbangkan jalur Lombok-Perth dan Lombok-Kuala Lumpur.

Perseroan mengaku tidak membutuhkan dana yang cukup besar untuk menambah pesawat tersebut. Pasalnya, perseroan menggunakan skema lease to purchased sehingga harga yang pesawat tersebut jauh lebih murah. "Untuk capex kami tahun ini memang tidak begitu besar karena membeli pesawat dengan sistem sewa,"ungkap dia.
 

Layanan BigPay
Selain ekspansi ke Indonesia Timur, tahun ini perseroan juga berencana mengembangkan layanan keuangan. Dendy menjelaskan, perseroan akan mengembangkan digital bank bernama BigPay. Layanan ini akan menawarkan layanan e-wallet, remitansi dan pinjaman. 

"Value position dari BigPay adalah kemudahan nasabah bertransaksi menggunakan jaringan Mastercard termasuk untuk menggunakan atau top up Big Points dan layanan foreign exchange (forex),"kata dia.

Dalam membentuk layanan tersebut, perseroan sedang mencari bentuk yang sesuai di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan membentuk layanan tersebut sendiri atau menggandeng perusahaan fintech lain.

"Kami berharap bisa launching tahun ini, kami sedang mendiskusikan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),"ungkap dia.

Dengan adanya strategi tersebut, perseroan berharap bisa mendapatkan keuntungan pada tahun ini. HIngga kuartal I-2019, perseroan masih membukukan kerugian Rp 79 miliar, membaik dibandingkan kuartal I-2018 yang sempat merugi Rp 273 miliar. 

Kerugian ini terjadi karena beban biaya perseroan yang meningkat hingga 26% menjadi Rp 1,41 triliun. Beban tersebut paling banyak berasal dari biaya avtur yang mencapai Rp 576,51 miliar atau meningkat 60% secara year on year (yoy). Kemudian kontributor beban lainnya adalah biaya rental pesawat sebesar Rp 255,03 miliar atau meningkat 62% (yoy).

"Biaya avtur atau bahan bakar memang menjadi kontributor terbesar dari cost maskapai, yakni sebesar 40%,"papar dia.

Kendati demikian, perseroan tetap mengimbangi beban tersebut dengan kenaikan pendapatan sebesar 58% pada kuartal I-2019 menjadi Rp 1,33 triliun. Pendapatan ini bersumber dari 1,21 juta penumpang internasional dan 646,36 ribu penumpang domestik.

Namun memang kenaikan pendapatan ini belum memadai karena perseroan masih mempertahankan average fare di angka Rp 563,09 ribu atau hanya meningkat 3% dibandingkan kuartal I-2018. Average fare ini merupakan average terendah di tengah kisruh harga tiket pesawat yang melambung seperti saat ini.

 

"Kami memang berkomitmen untuk tetap memberikan harga terjangkau kepada masyarakat,"tutur dia. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN