Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kalbe Farma. Foto ilustrasi: Defrizal

Kalbe Farma. Foto ilustrasi: Defrizal

Aksi Kalbe Farma Perluas Usahanya, dari Asia Hingga Eropa

Gita Rossiana, Rabu, 14 Agustus 2019 | 10:44 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sedang membangun pabrik baru senilai Rp 300 miliar di Myanmar. Pabrik baru ini ditargetkan beroperasi pada 2021.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menjelaskan, pabrik ini akan memproduksi obat tanpa resep dokter (over the counter/OTC) dan obat resep. Kapasitas produk pabrik ini dipastikan akan besar, namun Vidjongtius belum menginformasikan secara rinci. "Kapasitasnya pasti besar karena (penjualan) Mixagrip sudah nomor satu di Myanmar," ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (13/8).

Selain Myanmar, Kalbe Farma juga memiliki banyak kerja sama dengan sejumlah perusahaan di negara lain. Dia mengungkapkan, Kalbe Farma bekerjasama dengan mitra di Jepang, Korea Selatan, Tiongkok dan negara-negara di Eropa terkait lisensi produk baru, transfer teknologi produksi, dan kerja sama riset.

"Terbaru adalah kerja sama transfer teknologi produksi insulin dengan perusahaan dari Tiongkok dan kerja sama riset dengan Korea Selatan," jelas dia.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan total belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,5-2 triliun. Secara rinci, sekitar Rp 1-1,5 triliun untuk pemeliharaan, penambahan kapasitas produksi, dan ekspansi jaringan distribusi. Kemudian, sekitar Rp 500 miliar dari belanja modal untuk membiayai transformasi digital dan pengembangan produksi biologis.

Perseroan berharap melalui alokasi belanja modal tersebut bisa mendukung rencana perseroan tahun ini yang akan mengembangkan beberapa inisiatif. Pertama, dari sisi pengembangan obat resep, perseroan akan memperkuat portfolio produk specialty, berkolaborasi dengan perusahaan multinasional untuk produk lisensi, serta meningkatkan partisipasi pada obat generik tidak bermerek.

Selanjutnya, dari sisi pengembangan produk kesehatan, Kalbe Farma akan melakukan ekspansi ke produk-produk preventif dengan bahan baku lokal dan minuman kesehatan. Perseroan juga akan melakukan ekspansi ke produk susu siap saji dan produk kesehatan fungsional non susu di bagian pengembangan nutrisi.

Dari sisi pengembangan distribusi dan logistik, perseroan berkolaborasi dengan prinsipal baru untuk produk diagnostik dan alat kesehatan, memperluas jaringan distribusi dan membangun merek alat kesehatan sendiri.

Perusahaan obat dan makanan kesehatan ini juga mengembangkan platform Kalbe E-Health yang menyediakan layanan e-commerce untuk pembelian produk Kalbe, layanan pemesanan dan pengiriman, pemeriksaan dan konsultasi kesehatan, layanan call center, dan layanan lainnya secara digital.

Dengan adanya berbagai inisiatif tersebut, perseroan berharap bisa menumbuhkan penjualan sekitar 6-8% pada tahun ini. Kemudian, perseroan juga berharap bisa mencapai pertumbuhan margin laba sebelum pajak di kisaran 14,5-15,5%.

Sementara itu, hingga semester I-2019, Kalbe Farma membukukan laba bersih sebesar Rp 1,25 triliun, meningkat 3,45% dibandingkan semester I-2018 yang mencapai Rp 1,21 triliun.

Perolehan laba ini berasal dari penjualan bersih yang mencapai Rp 11,17 triliun pada semester I-2019, meningkat 7,7% dari perolehan pada semester I-2018 yang mencapai Rp 10,31 triliun. Penjualan tersebut paling banyak dikontribusi oleh divisi distribusi dan logistik yang membukukan penualan Rp 3,4 triliun, meningkat 11,6% dibandingkan semester I-2018 yang mencapai Rp 3,05 triliun

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN