Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Barito Pacific akan Stock Split, Berapa Rasio yang Tepat?

Jauhari Mahardhika, Rabu, 10 Juli 2019 | 13:09 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) dalam waktu dekat. Rencana stock split akan disahkan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 19 Juli 2019.

Kepala Riset Narada Kapital Kiswoyo Adi Joe menyambut baik rencana stock split BRPT. Dia menyarankan agar BRPT makin terjangkau investor ritel, dengan rasio 1:4 atau 1:5. "Jika tadinya harga BRPT Rp 3.200-3.400, maka bisa menjadi Rp 640-800,” kata dia di Jakarta, Selasa (9/7).

Kiswoyo menegaskan, BRPT akan lebih likuid dan lebih banyak investor ritel yang akan menyerap. Sebab, harga saham lebih murah. Selain itu, stock split akan membuat jumlah saham beredar perseroan meningkat. 

"Saya melihat strategi pemecahan nilai nominal saham yang dilakukan Barito Pacific cukup bagus. Merujuk saat stock split 2017, harga saham BRPT saat ini sudah naik sekian persen. Dengan prospek bisnis yang bagus dalam jangka panjang, bukan tak mungkin harga sahamnya akan kembali menguat," tutur dia.

Lebih lanjut Kiswoyo mengatakan, Barito Pacific memiliki PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), anak usaha perseroan yang sangat diuntungkan oleh turunnya harga minyak saat ini. Kondisi tersebut akan menekan biaya bahan baku perseroan ketika melakukan produksi petrokimia.

Sentimen positif lainnya, Chandra Asri akan meresmikan operasional pabrik baru polyethylene (PE) yang akan meningkatkan kapasitasnya menjadi 736 KT per tahun dari saat ini 336 KT. "Peningkatan kapasitas produksi tersebut akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Meski kenyataannya, Indonesia masih ketergantungan dengan impor petrokimia," jelas dia.

Tak hanya itu, setelah Barito Pacific mengakuisisi Star Energy, dampaknya sangat besar bagi perusahaan, yakni mencapai sekitar 50% dari EBITDA Barito. Akuisisi terhadap sejumlah aset panas bumi Chevron yang dilakukan Star Energy dinilai akan memberikan pendapatan yang stabil terhadap induk usaha.

Meski begitu, Kiswoyo meminta investor untuk memperhatikan berbagai tantangan bisnis yang dihadapi perseroan. Tingginya kebutuhan ekspansi grup, peningkatan biaya produksi, dan penurunan margin penjualan, akan menjadi tantangan bagi manajemen Barito Pacific tahun ini.

"Memang sangat tepat untuk investor yang ingin menjadikan saham BRPT sebagai long term portfolio, bukan untuk trading sesaat. Sebab, bisnisnya masih cukup bagus untuk jangka panjang. Ketika bisnis masih cukup bagus, maka prospek saham perseroan juga akan meningkat ke depannya setelah melakukan stock split," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA