Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik Barito Pacific. Foto: DEFRIZAL

Pabrik Barito Pacific. Foto: DEFRIZAL

Barito Pacific Masuk Indeks MSCI

C01, Rabu, 15 Mei 2019 | 13:55 WIB

JAKARTA - Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis komposisi saham hasil tinjauan ulang yang masuk dalam daftar konstituen indeks MSCI Equity. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi satu-satunya dari Indonesia yang masuk dalam daftar indeks MSCI Global Standard.

Saham emiten berkode BRPT tersebut menggantikan posisi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Kemudian, saham Tower Bersama masuk ke dalam daftar indeks MSCI Global Small Cap. Adapun emiten Grup Saratoga ini masuk ke dalam daftar konstituen MSCI Global Small Cap bersama empat saham emiten lainnya.

Keempat saham emiten tersebut adalah PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Pelayaran Tamarin Samudera Tbk (TAMU), dan PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE). Sementara itu, saham kebun sawit milik Grup Salim, PT Salim Invomas Pratama Tbk (SIMP), harus rela terdepak dari daftar indeks MSCI Global Small Cap. “Hasil peninjauan ulang yang dilakukan kali ini akan mulai diterapkan pada perdagangan 28 Mei 2019,” tulis tim riset MSCI, Selasa (14/5).

Sesuai rencana, tim riset MSCI akan kembali mengumumkan tinjauan ulang yang dilakukan setiap kuartal pada 12 Agustus 2019, dengan tanggal efektif 2 September 2019.

Sebagai informasi, pada April lalu, Prajogo Pangestu selaku pemilik Barito Pacific mengantongi Rp 1,2 triliun dari penjualan 350 miliar saham (1,96%) emiten yang bergerak di bisnis sumber daya alam terdiversifikasi tersebut.

Wakil Direktur Utama Barito Pacific Rudy Suparman mengatakan, harga penjualan saham senilai Rp 3.500 per saham. Kini, kepemilikan Prajogo Pangestu dalam perusahaan sebanyak 13 miliar saham (73,08%), dari sebelum transaksi yang dieksekusi 11 April 2019 sebanyak 12,65 miliar saham (71,11%). “Tujuan dari transaksi agar menambahkan saham free float di Bursa Efek Indonesia,” jelas dia, belum lama ini.

Sebagai informasi, Prajogo Pangestu merupakan pemegang saham utama Barito Pacific. Tercatat, pada Desember 2018, Prajogo juga pernah melepas 800  juta saham atau setara dengan 4,497% dari jumlah seluruh saham yang telah dikeluarkan perseroan. Adapun harga penjualan Rp 1.720 per saham. Alhasil, Prajogo mengantongi dana sebesar Rp 1,37 triliun dari penjualan tersebut.

Tahun lalu, Barito Pacific membuka peluang kerja sama berupa pendirian perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan mitra strategis terkait pengembangan produk turunan atau hilir (downstream). Baru-baru ini, perseroan melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), mulai mengoperasikan pabrik karet sintetis bersama Michelin.

Sebelumnya Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan, pihaknya sangat terbuka menambah kerja sama JV untuk bisa mengembangkan produk hilir. Terlebih, perseroan juga berencana memperluas pabrik Chandra Asri Petrochemical dengan mencanangkan pembangunan komplek petrokimia baru (CAP II).

“Setelah Michelin, kami tentu terbuka untuk kerja sama dengan perusahaan lain, terutama untuk downstream. Nah, soal itu, perseroan terbuka untuk porsi mayoritas atau bahkan minoritas,” kata Agus.

Meski demikian, dia menegaskan, perseroan secara konsolidasi akan tetap menjadi pemilik utama dari pabrik petrokimia di Cilegon, Banten. “Untuk CAP II, kami akan ada pembangunan empat paket, tapi pemilik pabrik petrokimia tetap wajib secara mayoritas adalah Barito Pacific secara konsolidasi. Namun, untuk mendukung ekspansi ke depan, kami terbuka untuk menambah aliansi bisnis dengan pihak lain untuk downstreamnya,” papar dia.

Sementara itu, terkait kerja sama dengan Michelin, itu merupakan wujud ekspansi anak usaha perseroan, Chandra Asri Petrochemical, di level midstream.

Chandra Asri mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 400-450 juta tahun ini. Salah satu sumber pendanaan adalah  fasilitas kredit dari Jepang yang spesifik digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik polyethylene baru.

Perseroan berencana melakukan penambahan kapasitas pabrik polyethylene dengan kapasitas produksi sebesar 400 ribu ton per tahun. Pengerjaan pabrik ini tengah dikebut lantaran target penyelesaiannya dipatok pada akhir 2019 nanti. Sebagai informais, untuk membiayai pabrik ini perusahaan mendapatkan fasilitas kredit dari The Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan BNP Paribas cabang Tokyo senilai US$ 380 juta.

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN