Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BJB. Foto: IST

Bank BJB. Foto: IST

BJB Ditunjuk Jadi Bank Administrator RDN

Thereis Kalla, Kamis, 7 November 2019 | 13:17 WIB

JAKARTA, Investor.id - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) secara resmi ditunjuk PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sejak Kamis (7/11) sebagai bank administrator Rekening Dana Nasabah (RDN) periode 2019-2024. Dengan penunjukan tersebut, bank yang melantai di bursa dengan sandi saham BJBR itu menjadi bank pembangunan daerah (BPD) pertama yang memiliki layanan RDN.

Menurut Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo, bergabungnya Bank BJB akan mengakselerasi program Perusahaan Efek Daerah (PED) yang dicanangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama organisasi regulator mandiri (self regulatory organizations/SRO).

”OJK dan SRO kan punya program PED yang akan melayani calon nasabah di provinsi. Jadi, akan lebih tepat jika bekerja sama pula dengan bank administrator RDN dari provinsi bersangkutan," kata Uriep pada pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (7/11).

Uriep Budhi Prasetyo menjelaskan, PED merupakan upaya OJK bersama SRO meningkatkan peran perusahaan efek terhadap perekonomian daerah dan memperluas akses masyarakat di daerah untuk berinvestasi di pasar modal.

“Untuk mendukung hal itu diperlukan pengembangan infrastruktur jaringan pemasaran layanan jasa pasar modal, yakni melalui pembentukan PED,” tutur dia.

Sementara itu, Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi mengungkapkan, penunjukan Bank BJB menjadi bank administrator RDN menjadi salah satu strategi perseroan dalam menorong nasabah untuk mendiversifikasi portfolio dananya dan berperan aktif dalam perdagangan instrumen pasar modal.

"Kerja sama ini tentunya akan memperluas jaringan Bank BJB sehingga berdampak terhadap peningkatan jumlah akun. Ini juga akan berpengaruh pada pendapatan bank," ujar dia.

Yuddy memproyeksikan tahun pertama perseroan mampu menjaring 1.000 number of account (NOA) baru. "Yang ditargetkan KSEI itu 1.000 akun. Tapi kami optimistis bisa melampaui jauh dari angka itu. Kami sudah siapkan beberapa program, di antaranya kerja sama dengan universitas dan sekuritas untuk menjaring calon investor ritel," papa dia.

Bank BJB, menurut Yuddy, sedang dalam proses pembentukan PED. Perseroan kelak mendirikan entitas anak usaha baru terkait rencana tersebut. "Kami masih inisiasi, masih dalam tahap awal. Kami sedang mencari bentuk perusahaannya. Targetnya semester 1-2020 beroperasi," ucap dia.

Rencana pembentukan PED, kata dia, merupakan murni inisiasi untuk mengembangkan usaha unorganik perseroan, sehingga tidak melibatkan pemerintah provinsi dalam kepemilikan saham di PED. Namun, untuk besaran dana yang disiapkan untuk PED, Yuddy enggan menyebutkan secara spesifik. "Tidak terlalu besar, di bawah Rp 10 miliar," tandas dia.

Gandeng Mandiri Sekuritas

Dalam kesempatan yang sama, Bank BJB juga menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan PT Mandiri Sekuritas. Kerja sama itu meliputi pada pembukaan RDN dan pemberian layanan referral nasabah. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung peran Bank BJB selaku PED. MoU ditandatangani Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi dan Direktur Utama Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro.

Menurut Dannif Danusaputro, bentuk kerja sama antara Mandiri Sekuritas dengan Bank BJB akan meliputi beberapa tahap. Pada tahap pertama, untuk setiap pembukaan akun di Jawa Barat akan otomatis masuk akun RDN Bank BJB. Setelah PED rampung, Mandiri Sekuritas akan menjadi sponsor PED.

"Potensinya cukup besar di Jawa Barat. Dari segi populasi penduduknya juga besar, pertumbuhan ekonominya pun lebih dari 5,5%. Di Jabar, Mandiri Sekuritas diharapkan menjadi basis investor," ujar Dannif.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A OJK Yunita Linda Sari menjelaskan, OJK akan mendukung dari sisi regulasi dan infrastruktur terkait pembentukan PED. OJK terus menyosialisasikan kebijakan baru tersebut.

"Sebetulnya tidak ada kendala, tapi ini belum familiar saja, hanya perlu waktu. Di samping itu ada infrastruktur yang perlu disiapkan," tandas Yunita.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA